Beranda » Cerpen » Gong Xi Fa Chai, Ama !

Gong Xi Fa Chai, Ama !

Oleh: Liven R.

IMLEK tinggal dua minggu lagi. Ama (nenek) Hua mulai sibuk membersihkan rumah tuanya. Rumah besar yang telah berumur hampir seabad itu memang sudah terlihat kuno -lebih tepatnya kumuh- dibandingkan dengan rumah tetangganya yang telah dibangun dengan gaya bangunan kontemporer dan modern.

Bangunan berlantai satu dengan luas 8×32 meter, sebuah tempat tinggal yang ramai tempo dulunya. Kini hanya menyisakan ama Hua yang berumur hampir 75 tahun, sendirian tanpa ditemani seorang pun anaknya, cucu maupun cicit dari total tujuh anak, 15 orang cucu serta empat orang cicitnya.

“Hua, hati-hati,” seru bibi Lin, nyonya tua yang tinggal di sebelah kanan rumah ama Hua, melihat ama Hua memanjat kursi dan memegang kemoceng di tangan kanannya untuk membersihkan lubang angin berderet di bagian atas jendela. Sesuai tradisi, menjelang Imlek semua warga Tionghoa wajib membersihkan seluruh bagian rumahnya sebagai arti mengusir semua hal buruk dan mengundang semua hal baik ke dalam rumahnya pada Hari Raya Imlek.

“Ya….” Ama Hua menjawab tanpa berpaling. Sesaat, dengan kaki gemetaran, ama Hua berpegangan pada dinding dan perlahan menegakkan tubuhnya.

“Anak-anak mana, Hua? Kenapa tak suruh mereka saja?” imbuh bibi Lin.

“Mereka sibuk kerja, apalagi jelang Imlek ini, toko kelontong Aliong sangat ramai, mau ditinggal ke kamar kecil saja susah,” ujar ama Hua sambil menyapukan bulu-bulu kemoceng dan menjatuhkan sarang laba-laba ke tanah. “Abeng apalagi…, sudah sebulan ini pembantu terpercayanya tak masuk karena sakit, dia dan istrinya sangat sibuk. Ah, mana boleh merepotkan mereka…”

“Hua, kenapa sih, kamu tak mau tinggal saja dengan anak-anak dan menantumu? Rumah ini dijual saja…” Ama Hua terdiam. Sudah banyak yang memberi saran serupa untuknya, namun ada rasa enggan meninggalkan rumah tuanya yang penuh kenangan ini. Dulu ketika suaminya masih hidup, berdua mereka tinggal di rumah besar ini setelah semua anak mereka -lima putra dan dua putri- satu-persatu menikah, membuka usaha, sukses, dan membeli rumah masing-masing.

Dengan putra atau putri yang mana satukah ama Hua harus memilih untuk tinggal jika harus meninggalkan rumah ini?

Putra sulungnya, Ahok dan istrinya membuka toko onderdil motor di ruko mereka yang terletak bilangan jantung Kota Medan. Setiap hari mereka sangat sibuk. Jika tinggal dengan mereka di rumahnya yang memiliki perabotan serba luks itu. Ama Hua merasa bagaikan makhluk dari planet lain. Ya, bagaimana tidak? Jika hendak minum air hangat saja, menantunya akan segera berkata, “Ma, sini saya ambilkan. Termos itu bukan ditekan, tapi harus begini dulu baru begitu, kalau dipaksa bisa rusak.”

Putri keduanya, Meili, menikah dan ikut suaminya tinggal di Surabaya. Putri ketiganya, Sanli, menikah dan tinggal bersama mertuanya.

Meski di antara kedua putrinya ada yang pernah menawarkan untuk membawa ama Hua tinggal bersama, ama Hua seorang yang memegang teguh adat Tionghoa. Baginya, anak laki-lakilah yang wajib menjaga dan memelihara orang tua ketika sudah tua. Jika dia ikut dengan anak perempuan dan ditanggung menantu laki-laki pula, akan menjadi bahan pergunjingan orang-orang dan memalukan anak laki-lakinya.

Aliong, putra keempatnya, memiliki usaha kelontong yang amat ramai dan rumah yang selalu penuh dengan barang-barang dagangannya. Jika Aliong tak pernah menyinggung akan membawa ama Hua tinggal bersamanya, ama Hua tak marah ataupun kecewa.

“Rumahku ini sangat sempit, Ma, tunggu aku beli rumah yang agak besar dan membuatkan sebuah kamar untukmu, pasti lebih nyaman.” Begitu selalu kata Aliong yang membuat ama Hua berbesar hati dan tersenyum bahagia.

Asun, putra kelimanya, juga tak kalah berbakti. Hampir setiap malam, Asun dan istrinya, Mina, bergantian menelepon dan menanyakan kabar ama Hua. Di antara semua putra-putrinya, Asunlah penggemar sejati masakan ama Hua. Setiap perayaan Pecun, Asun tak lupa berpesan untuk dibuatkan bakcang kesukaannya.

“Mina tak pandai membuat bakcang, jadi kusuruh dia usah buat. Bakcang buatan Mama memang tiada bandingnya,” ucap Asun di telepon jelang Hari Raya Pecun yang lalu.

Ama Hua tertawa bahagia hingga airmatanya mengalir mendengar pujian Asun. Alhasil, tanpa bantuan siapa pun, ama Hua mencuci ratusan lembar daun pembungkus bakcang, memasak beras ketan, menyiapkan segala bahan, membungkus ratusan biji bakcang sendirian dan mengukusnya hingga matang untuk dibagi-bagikan kepada anak-cucunya sama rata, namun bagian Asun lebih beberapa biji. Selalu!

Begitu juga ketika Hari Ibu yang selalu jatuh bertepatan dengan Hari Dong Zhi (Hari Raya Onde-onde) tiba, Mina tak akan lupa menelepon ama Hua, “Happy Mother’s Day, Mama…,” ucapnya.

“Hah? Api monster?! Di tivi, ya?” tanya ama Hua pada menantu kesayangannya.

“He-he, bukan, Ma. Sudah buat onde-onde?”

“Sudah. Nanti ingat datang ambil, ya?”

“Makasih, Ma. Maaf, ya, tidak bisa ikut bantu….”

“Oh, tak apa-apa….”

“Asun paling suka makan onde-onde buatan Mama.”

“Ya, ya…, makanya Mama sudah buat banyak untuk dia.” Ama Hua tertawa gembira. Segala keletihannya menguap entah ke mana meski tak ada kado untuk merayakan Hari Ibu untuknya.

Sayang, tinggal bersama Asun juga bukan pilihan yang baik. Bukan ama Hua tak mau, tapi mertua Asun yang tak punya anak lelaki terlanjur menjadi tanggungan Asun dan tinggal di rumah mereka. Ama Hua tak mau memperberat beban ekonomi Asun.

Menceritakan Abeng, putra keenamnya, pun ama Hua selalu berbinar-binar dan penuh semangat. Bagaimana tidak? Usaha putranya yang satu ini di bidang studio foto amat sukses. Empat orang putra Abeng bahkan disekolahkan hingga ke Australia dan dua orang di antaranya sudah berkeluarga, pulang ke Indonesia dan bekerja di perusahaan asing dengan gaji yang tinggi.

Ama Hua juga tak betah tinggal bersama Abeng, meski di rumah besar tersebut disediakan kamar khusus untuknya yang terletak di bagian paling belakang, berdampingan dengan kamar para pembantunya; agar ama Hua bisa beristirahat dengan tenang tanpa diganggu suara bising tamu yang datang, begitu kata Sasa, istri Abeng.

Mengenai putra bungsunya, Ahao, ama Hua juga menyimpan kebanggaan yang amat sangat padanya. Mampu membuka restoran bukan hanya satu, tapi tiga di negeri singa dan kerap naik pesawat bagaikan naik becak berkeliling dunia bersama istri dan anak-cucunya, siapa yang tak bangga punya putra demikian bertalenta?

“Ah, jika rumah ini dijual, Ahao sekeluarga pulang mau nginap di mana?” ama Hua turun dan kini mengambil sehelai kain basah.

“Oh ya, kudengar Ahao sangat sukses sekarang, ya?! Wah, anakmu hebat-hebat semuanya, Hua.”

“He-he-he. Biasa saja… Kalau Ahao, dari dulu memang suka jalan-jalan. Hampir seluruh Eropa sudah dikunjungi,” ucap ama Hua dengan rasa bangganya, “Baju ini juga dikirimnya untukku tempo hari. Katanya beli dari Belanda. Dia sangat berbakti. Tiap bulan selalu mengirimkanku uang dan berpesan supaya aku membeli apa saja yang kuinginkan. Tian (Tuhan) melindunginya….”

“Apa Imlek nanti Ahao akan pulang? Sudah lama aku tak melihatnya.”

“Ya, dia akan pulang hari pertama Imlek nanti.” Seberkas cerah muncul di wajah ama Hua bersamaan dengan kata-katanya. Selesai membersihkan halaman depan, ama Hua duduk di kursi goyangnya di ruang keluarganya dan menyalakan televisi untuk menghilangkan rasa lelahnya.

Sesaat kemudian, matanya terpejam. Televisi kini menonton ama Hua yang tertidur, bukan sebaliknya.

* * *

Malam Imlek.

“Ma, jangan terlalu lelah. Makan tuan yuan fan (makan malam bersama di malam Imlek yang melambangkan keutuhan keluarga) di rumah Ko Ahok atau Abeng saja. Usah masak sendiri,” suara Meili terdengar di gagang telepon.

“Ah, Mama sudah beli sepuluh ekor ayam untuk dibuat macam-macam lauk dan membuat dua bebek isi. Hampir matang, tuh. Nanti malam semua kumpul di sini saja,” nada kegembiraan keluar dari mulut ama Hua.

“Baiklah, Ma. Tidur lebih awal, ya?!” Meili mengakhiri interlokalnya. Ama Hua kembali sibuk di dapur. Tak lama, satu-persatu telepon berdering.

“Ma, tak enak meninggalkan kedua mertuaku di rumah, sementara kita berkumpul di rumah Mama. Mama tolong bungkus saja. Nanti kuambil. Tanpa kami sekeluarga, tak apa, ya, Ma?”

“Ma, kami tak jadi makan di rumah Mama. Anak-anak ingin mencoba masakan barat di restoran yang baru di buka itu.”

“Ma, aku baru ingat, ada undangan makan malam dari relasi bisnisku malam ini…”

“Ma, maaf aku lupa memberitahu… Anak-anak dan cucuku tak suka masakan Cina. Kita akan makan malam di luar saja. Nanti kujemput Mama, ya? Sayur yang sudah dimasak, masukkan ke kulkas saja….”

* * *

Imlek hari pertama.

Pagi-pagi sekali ama Hua sudah bangun dan menata ruang tamunya. Hari ini Ahao sekeluarga akan pulang. Membayangkan saja sudah membuatnya tersenyum sendiri. Selain itu, semua anak dan cucu beserta cicitnya akan datang sebentar lagi.

Kue-kue kering ditata di stoples kaca. Ada manisan, kue keranjang, lapis legit, permen aneka bentuk dan tak ketinggalan jeruk mandarin di atas meja. Lauk-pauk sisa semalam dipanaskan juga, siapa tahu ada yang lapar dan ingin makan nanti.

Setelah yakin semuanya lengkap, ama Hua beranjak ke kamar, mengeluarkan bungkusan yang berisi kertas angpao dan mulai memasukkan uang-uang ke dalamnya. Cucu dan cicit ditotal jangan ada yang ketinggalan!

Mendadak telepon berdering.

“Ma, gong xi fa cai!”

“Ahao, ya? Gong xi… sudah sampai Medan?”

“Hmm… belum, Ma. Ini di bandara. Semalam mau menelepon Mama, tapi sudah larut. Begini, Ma, anak-anak ingin bermain ke Shanghai. Katanya suasana Imlek di sana sangat indah, jadi…”

“Oh, ya.., ya….”

“Aku tak tega mengecewakan mereka. Hanya setahun sekali. Maaf, ya, Ma?! Angpao untuk Mama nanti saya transfer, ya?!”

“Ohh…, tak apa-apa. Ya, jangan kecewakan anak-anak. Tak apa…”

Gagang telepon diletakkan. Ama Hua tak sempat bersedih sebab di pintu depan rumahnya terlihat sosok-sosok berbaju dominan merah sedang menanti.

“Ma, Amaaa…, gong xi fa caiiii…!” bagai koor, anak, menantu, cucu dan cicitnya tiba berbarengan memberi salam Imlek.

“Gong xi-gong xi…!” seru ama Hua dengan kegembiraan tak terkira.

Semua larut dalam kegembiraan Imlek. Ama Hua membagikan angpao untuk semuanya dan dilanjutkan dengan pemberian angpao oleh anak-anaknya untuk ama Hua juga.

“Selly, maukah nginap di sini? Temani Aco (buyut) selama libur Imlek?” tanya ama Hua kepada cucu Ahok. Selly memandang buyutnya dan menunduk.

“Ama, habis liburan nanti, Selly ada ujian. Dia harus belajar juga Imlek ini,” ujar mama Selly mewakili penolakan Selly kecil.

Tak sampai siang, rombongan anak-cucu-cicit ama Hua pun pamit untuk mengunjungi dan memberi salam Imlek kepada kerabat yang lain. Tinggallah ama Hua sendirian lagi di rumah tuanya.

“Anak dan cucu adalah berkah. Banyak anak, banyak berkah…” desisnya.

Medan, Januari 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s