Beranda » Cerpen » Sepatu Kets

Sepatu Kets

sepatu-kets-246464-1.jpg

[Dimuat di Harian Analisa, 26 Juni 2016]

Oleh: Ramajani Sinaga

Bhusssss!!!

Bau sepatu kets milik Andika mengembus di dalam ruangan kelas. Anak-anak menahan nafas. Udara di dalam kelas sudah tercemar.

“Eh… bisa nggak kamu ganti sepatumu itu? Bau, tahu?!” Kania mengibas-ngibaskan tangan ka­nannya, menatap wajah Dika dengan sebal.

Pemilik sepatu kets tak me­nanggapi. Dino, teman sebangku Andika, hanya bisa menggeleng.

“Mungkin seisi kelas bersujud syukur kalau sepatumu itu rusak.” Senyum Dino mengembang.

“Sepatuku ini nggak mudah rusak, Bro.” Andika menimpali dengan senyum yang sangat bangga. Dia sedikit menggoyang-goyang­kan kaki kanannya, membanggakan sepatu yang sudah tampak sedikit kumal.

“Tunggu saja! Pasti akan rusak juga. Namanya juga buatan ma­nusia, Bro. Manusia aja nggak ada yang hidup abadi, apalagi cip­taannya itu.” Dino melempar senyum tipis ke arah Andika. Jari telunjuknya mengarah ke sepatu kets yang sedang dikenakan oleh Andika.

Andika tak menjawab, pura-pura tak mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Dino.

* * *

Sepatu kets Andika memang selalu menjadi bahan pembicaraan di sekolah. Dia selalu mengenakan sepatu itu ke mana pun dia pergi, tak bisa terpisah dari sepatu kets bau itu.

Dia mengenakannya saat belajar di kelas, di hari ulang tahun Siska, ulang tahun Melinda, menjenguk teman di rumah sakit, bermain basket di lapangan, saat kerja kelompok di rumah Alisya, saat jalan-jalan, pokoknya ke mana pun sang pemilik melangkah, sepatu kets itu selalu dikenakannya. Sampai-sampai, tapak sepatu kets itu jadi tipis. Tapi, sang pemilik enggan menggantinya dengan sepatu baru. Padahal, bisa dikata sepatu itu sudah tak layak pakai saking baunya!

Nando, ketua kelas, yang tu­gasnya meng-handle anak-anak, juga tak mampu melarang Andika mengenakan sepatu kets bau itu. Nando pernah menawarkan sepatu baru untuk Andika. Bahkan, dia berupaya mencari sepatu dan merek yang sama pula supaya Andika tak lagi mengenakan sepatu yang sangat mengganggu teman-teman sekelas itu. Akan tetapi, Andika menolak mentah-mentah tawaran itu.

“Sepatu ini berharga buat aku.” Andika memberi penjelasan dengan harapan teman-temannya itu tak lagi mengganggunya, atau menawar­kannya sepatu baru.

* * *

“Kenapa sih kamu selalu me­makai sepatu itu?” tanya Doni. Rasa penasarannya kian membuncah. Puluhan pertanyaan serupa pernah dia layangkan kepada Andika. Kali ini, Doni benar-benar berharap pertanyaannya itu dijawab oleh Andika.

Andika menghela nafas.

“Kau bisa ceritakan padaku. Aneh saja, sepatu lusuh seperti itu masih saja kau kenakan.”

Andika diam beberapa saat. “Ini pemberian almarhum ayahku,” jawabnya dengan suara sedikit bergetar.

Doni agak kaget mendengarnya.

“Karena itu aku selalu me­ngenakannya. Setidaknya rasa kangenku bisa terobati kalau mengenakan sepatu ini setiap hari.” Andika menjelaskan dengan suara rendah.

Doni mengangguk-angguk. Dia kini mengerti.

* * *

Cerita tentang sepatu kets Andika sudah tersebar di kelas, bahwa sepatu bau itu pemberian almarhum ayah Andika.

“Kasihan Dika,” ujar Kania dengan sangat menyesal. Dia paling sering mengolok-olok sepatu kumal itu.

“Tapi tetap aja nggak bisa! Sepatu itu tetap mengganggu kita!” timpal Sinta dengan wajah geram. “Sepatu itu bau dan sangat meng­ganggu kita. Aku nggak peduli sepatu bau itu dari ayahnya, kakeknya, pamannya!”

Beragam tanggapan dari teman-teman sekelas Andika. Ada yang memaklumi, tapi sebagian tetap saja tak menerima kenyataan tersebut.

* * *

Pagi itu, ada pemandangan berbeda. Sekolah Andika ke­datangan siswi pindahan dari luar kota. Sialnya, anak baru itu di­pindahkan ke kelas Andika yang bau.

Siswi yang baru diketahui bernama Shasa itu langsung menjadi trending topic di sekolah Tunas Bangsa. Siswi baru itu akan mencium bau sepatu Dika selama di kelas! Apa anak baru itu muntah?

“Nama saya Shasa.” Shasa memperkenalkan diri di depan kelas. Teman-teman menyambut dengan hangat. Bau sepatu Andika juga menyambut kedatangannya.

Shasa duduk di kursi yang sudah ditunjukkan ibu guru untuknya. Andika memerhatikannya. Ada sesuatu yang hangat mengalir di dalam hatinya.

“Fiuh… Inilah namanya cinta!” gumamnya gembira.

* * *

Andika mendekati Shasa. “Na­maku Andika. Aku biasa di­panggil Dika.”Andika mengulur­kan tangan.

Shasa menyambutnya dengan gembira. “Namaku Shasa.”

Beberapa detik kemudian, Shasa terpana melihat sepatu bau yang sedang dikenakan oleh Andika.

“Kamu kenapa?” Andika ke­heranan. “Em… Maaf, sepatuku bau ya?” tanya Andika setengah sadar. Untuk kali pertama, Andika seperti mengakui bahwa sepatu kets miliknya itu memang bau dan mengganggu anak-anak lain.

“Eh, nggak kok. Justru sepatumu itu unik.” Shasa tersenyum.

* * *

Hari ini, sekolah Tunas Bangsa kembali geger. Pasalnya, Andika tidak mengenakan sepatu kets usangnya lagi. Hari ini dia me­ngenakan sepatu baru! Sepatu baru? Ya, Andika sampai-sampai rela membeli sepatu baru dan me­mensiunkan sepatu kets usangnya. Usut punya usut, ternyata semua itu ada hubungannya dengan anak baru itu, Shasa.

Terkadang cinta memang mem­buat seseorang menjadi lupa daratan dan lupa lautan. Termasuk Andika yang mengganti sepatunya demi Shasa seorang.

Shasa yang melihat sepatu baru Andika melongo kaget.

“Sepat ketsmu mana?” tanya Shasa tak habis percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Andika mengenakan sepatu baru dengan merek ternama. Pasti harganya mahal!

“Sebenarnya ada yang pengen aku omongin sama kamu.”

“Apa?”

“Emh… Aku suka sama kamu, Sha.”

Shasa mendongak tak percaya. Dia menghembuskan nafas be­berapa saat.

“Dika, sebenarnya aku nggak suka sama kamu, tapi aku suka sama… sepatumu.”

Kedua bola mata Andika benar-benar mendelik mendengar jawaban itu!

* Maret 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s