Beranda » Cerpen » Merpati dan Tupai

Merpati dan Tupai

merpati

(Gambar diambil dari iphincow.com)

Di salah satu pinggiran hutan rimba, terdapat sebuah telaga yang memiliki air yang sangat jernih. Di dekat telaga itu, tinggallah dua ekor merpati dan seekor tupai kecil. Mereka sudah bersahabat sejak lama. Merpati sering membantu tupai. Demikian sebaliknya, tupai juga sering membantu kedua merpati itu. Persahabatan mereka memang sudah dikenal di hutan rimba itu.
Telaga jernih serta makanan di dalam hutan cukup untuk menghidupi mereka dengan baik. Mereka hidup berdampingan penuh kesyukuran. Tidak pernah sekalipun mereka mengalami kekurangan apa pun.
Di dalam hutan, terdapat banyak makanan yang bisa dimakan. Sering tupai membagikan makanannya kepada dua merpati. Demikian juga sebaliknya, merpati pun sering membagikan makanan kepada tupai.
Suatu waktu, telaga yang menjadi sumber penghidupan mereka mengering karena kemarau sedang melanda hutan. Kemarau tahun ini sangat parah. Telaga di dalam hutan mengering dan makanan di dalam hutan sangat sulit didapatkan. Pohon-pohon di dalam hutan tidak lagi menghasilkan buah-buah yang lezat seperti biasanya. Bahkan, semua pohon sudah mengugurkan daun.
Kemarau yang sangat panjang tentu mempengaruhi kehidupan merpati dan tupai. Tidak ada jalan lain, kedua merpati itu harus meninggalkan tempat itu. Mereka harus pergi dan menemukan tempat baru yang lebih layak. Agar mereka tetap basa bertahan hidup.
Pada suatu malam, mereka berunding di dalam sangkar mereka.
“Kita harus pergi ke arah Selatan, di sana sumber air dan makanan lebih mudah didapat,” ujar merpati jantan.
“Tapi itu sangat jauh.” Jawab merpati betina.
“Itu tak menjadi masalah. Kita harus pergi secepatnya. Kita tidak bisa lama lagi tinggal di sini.”
“Lalu bagaimana dengan tupai?” Tanya merpati betina.
“Kita harus meninggalkan dia. Kita harus mengatakan kepadanya bahwa besok kita harus meninggalkan tempat ini.” Jawab merpati jantan.
Keesokan harinya, mereka menemui tupai pada sebuah dahan pohon.
“Tupai, kami akan meninggalkan tempat ini. Kami tidak akan bisa hidup kalau terus bertahan di sini.” Ujar merpati jantan.
“Lalu bagaimana dengan aku? Apa kalian akan meninggalkan aku sendirian?” Tanya tupai dengan wajah sedih.
Kedua merpati itu sangat sedih melihat tupai. Mereka sebenarnya tidak tega meninggalkan sahabat baik mereka itu.
“Maafkan kami, Tupai. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan kami, kami harus meninggalkanmu.”
“Apa aku tidak boleh ikut bersama kalian?” Tanya tupai.
“Kami pergi jauh sekali, Tupai. Kami terbang ke sana dengan sayap kami.”
Mendengar kalimat itu, tupai semakin sedih. Dia paham keadaannya sekarang ini. Kedua sahabatnya itu mempunyai kedua sayap yang bisa membawa mereka kemanapun pergi. Sedangkan tupai tidak bisa terbang.
“Tolonglah… Kalau kalian akan meninggalkanku. Aku pasti akan mati kelaparan di hutan ini.”
Kedua merpati tertunduk, sebenarnya terlalu berat memang meninggalkan tupai. Tupai adalah sahabat baik mereka. Kedua merpati sebuk berpikir mencari jalan keluar. Akhirnya, salah satu diantara mereka memberi solusi yang tepat.
Merpati jantan mengambil sebuah kayu kecil.
“Kita bisa pergi bersama-sama dengan kayu ini,” ujar merpati jantan.
“Bagaimana caranya?” Tanya tupai keheranan.
“Kami akan terbang. Aku akan mengigit ujung kayu sebelah kanan, dan merpati betina mengigit ujung kayu sebelah kiri. Sedangkan engkau mengigit bagian tengah. Kami akan membawamu terbang ke tempat tinggal kita yang baru.”
Tupai akhirnya tersenyum mendengar perkataan merpati jantan.
“Tapi ingat! Jangan pernah melepaskan gigitanmu. Kalau kau melepaskan gigitanmu, maka kau akan terjatuh.” Merpati jantan menjelaskan. Tupai mendengarkannya dengan gembira. Dia berjanji tidak akan melepaskannya.
Sore itu, mereka akhirnya sepakat berangkat bersama-sama. Merpati jantan mengigit ujung kayu sebelah kanan. Merpati betina mengigit ujung kayu sebelah kiri. Kemudian tupai mengigit bagian tengah kayu itu. Beberapa menit, kedua merpati itu mengepakkan sayapnya dan mulai terbang tinggi.
Kedua merpati terus terbang sambil mengigit ujung kayu. Sedangkan tupai sangat gembira. Ini pertama kali dia bisa melihat pemandangan alam yang luas dari atas. Tupai gembira, walaupun dia tidak mempunyai sayap, tapi dia bisa terbang bersama kedua sahabatnya.
Tupai ingin sekali berterima kasih kepada kedua sahabatnya. Tupai juga ingin mengatakan rasa gembiranya. Tupai lupa dengan janji bahwa dia tidak boleh membuka mulut dan melepas gigitan dari kayu sebelum mereka tiba di tempat yang dituju.
Karena rasa gembiranya itu, tupai membuku mulut dan melepaskan gigitannya dari kayu. Tetapi, sebelum dia sempat mengucapkan kata-kata gembiranya itu, tubuhnya sudah jatuh terlebih dahulu ke tanah. Tupai lupa akan janjinya. Dia sangat menyesal.

Cerita ini diadaptasi dari cerita rakyat “Bebek dan Kura-kura”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s