Beranda » Cerpen » Mengetuk Daun Pintu

Mengetuk Daun Pintu

20150927091913_315

[Dimuat di Harian MedanBisnis, 27 September 2015]

Ketika ia kembali dari kegiatan memanjat gunung, ia selalu membawa sesuatu kepadaku. Seperti sehelai daun yang katanya ia temukan kesepian di bawah pepohonan. Aku selalu tersenyum menerima hadiah-hadiah itu dan mengumpulkannya pada sebuah tempat.
Aditia Herman, lelaki yang berada jauh di bawah usiaku. Maka ia sering kupanggil “anak-anak” di dalam hati. Aku sungguh kelimpungan dengan jarak usia kami yang sangat berbeda jauh.

“Kalian baik-baik saja, kan?” tanya Erin, sahabatku di kantor. Ia memicingkan matanya ke arahku sambil tersenyum.

Aku mengangguk, meski harus kuakhiri dengan helaan napas yang sedikit lebih panjang.

“Usia kalian sangat jauh. Dia masih berstatus mahasiswa.” Mata Erin membulat. “Ayolah, ceritakan tentangnya! Mahasiswa yang menjadi suamimu itu.” Erin membujukku – nyaris memaksa sebenarnya.

“Dia baik-baik saja. Masih kuliah setiap hari, ke kampus dengan motor bututnya yang tidak pernah dicuci. Aku sama sekali tidak mencampuri urusannya.”

“Lalu?” Erin menopang dagunya, mendengarkan ceritaku dengan wajah yang begitu serius.

“Tidak ada masalah. Aku memasak untuknya, sarapan dan makan malam, itupun kalau aku sempat melakukannya. Aku tidur di kamarku, dan dia tidur di kamarnya. Begitulah…”

Erin mengerutkan kening kemudian mengembuskan napasnya secara perlahan.”Itu idemu atau idenya? Maksudku, kalian tidur berlainan kamar itu ide siapa? Kalian pengantin baru yang paling aneh yang pernah kukenal. Sangat-sangat aneh…”

Aku tertawa. “Bukan ideku. Bukan juga idenya. Kami tak banyak bicara apabila di rumah. Dia sibuk dan aku sibuk. Dia sibuk dengan tugas kuliahnya yang tidak penting dan aku sibuk dengan pekerjaanku yang jauh lebih penting dari tugasnya.”

Erin mendengarkan kemudian tersenyum mempertontonkan barisan gigi putihnya yang rapi.

“Kau suka suamiku?”Aku menatapnya. Pura-pura jengkel. Dia menggeleng beberapa kali sambil tertawa.

“Aku benar-benar tak menyangka kau menikah dengan lelaki muda dan sangat tampan. Inilah namanya takdir dan jodoh. Suamiku itu manis menurutku.” Dia terkekeh sesaat, kemudian mengambil nafas secara perlahan. “Tapi belajarlah untuk mencintainya. Kalau aku jadi kau, aku mungkin sudah terlanjur menyukainya. Dia tampan, tinggi, muda, aktif di kampus, seperti yang kau bilang. Apa yang kurang darinya?”

“Entahlah. Dia belum dewasa. Dia terlalu muda untuk menjadi suamiku. Dan kau tak pernah merasakan punya suami muda, makanya kau berkata begitu mudahnya.” Jawabku ketus.

“Menurutku tidak masalah. Dia dewasa dan tampan kan?” Erin menaikkan alis kirinya dan memasang wajah menggoda.

“Kenapa kau tak saja menikah dengannya?”

“Kalau aku belum punya Ricardo, sudah kurebut dia darimu.”

Aku tersenyum simpul. Kemudian kami harus diam berjam-jam dan mulai fokus dengan pekerjaan kami masing-masing setelah atasan kami Pak Arifin muncul dan menatap kami dengan wajah penuh makna.

“Nanti kau ceritakan lagi tentang dirinya, ya!” Erin berbisik, berharap Pak Arifin tidak mendengar.

“Siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan suamimu yang super manis itu.” Jawabnya dengan mata hampir mendelik dan berupaya untuk tidak tertawa.

Mobil kumasukkan ke dalam garasi. Rumah gelap tanpa penerangan. Tidak ada yang menyalakan cahaya apa pun dari dalam sana. Itu artinya, anak itu belum pulang dari kampus sampai selarut ini. Bisa jadi dia ingin mengimbangiku pulang lebih larut daripada hari-hari sebelumnya.

Aku masuk ke dalam rumah, menyalakan semua penerangan di semua sisi rumah kami. Rumah ini memang sangat kesepian. Penghuninya hanya dua orang. Aku dan anak itu. Dan kami hidup dengan kesibukan kami masing-masing.

Rumah ini pemberian mertuaku, hadiah pernikahanku dengan anak itu. Lebih tepatnya memang kusebut rumah perjodohan. Aku tahu, tidak ada cinta yang terpaut di hati kami berdua. Aku belum belajar menyukainya. Dan aku yakin sekali, sembilan puluh sembilan persen, anak itu pasti belum belajar menyukaiku. Sisanya mungkin ia belajar melupakan.

Masih terbayang lekat dalam ingatanku, ketika teman-teman di kantor menertawakanku setelah menikah dengannya. Pada dasarnya, apa yang mereka katakan memang benar – dia memang jauh lebih muda dan tampan pula.

Malam benar-benar sudah larut. Kedua bola mataku tidak mampu terpejam. Anak itu belum juga muncul. Apa dia menginap di rumah seorang temannya? Tapi tunggu, mengapa aku memikirkannya? Aku sudah berjanji, bahwa aku tidak akan mencampuri urusannya. Biarpun dia terlibat dengan banyak masalah, aku berjanji tidak akan ikut campur.

Pukul satu dini hari, aku mendengar suara ketukan pada daun pintu rumah kami. Aku beranjak membuka pintu dan anak itu muncul dari balik daun pintu dengan wajah yang sangat lelah. Anak itu berdiri di depan daun pintu, menatapku dan seperti mencoba untuk tersenyum.

“Maaf. Aku banyak tugas kuliah dan tidak sempat memberitahu kalau aku pulang larut malam ini,” ujarnya.

Untuk apa dia memberitahuku? Aku bahkan tak pernah menunggu!

Aku mengangguk pelan. Perlahan dan tanpa suara aku membalikkan tubuh dan berlalu. Selanjutnya, aku harus menghentikan langkahku ketika ia kembali bersuara.

“Oh ya, mungkin beberapa hari ke depan, aku nggak akan pulang.”

“Kenapa?”Aku bertanya. Nada suara yang sama sekali tidak antusias.

“Aku ikut kegiatan mendaki gunung di kampus.”

“Ooo..” Sahutku dengan nada datar. “Baiklah…” Kataku dan membiarkan dia masuk ke kamarnya dan aku masuk ke kamarku sendiri. Kami benar-benar seperti dua orang asing yang tinggal di satu atap.

Sejak dia mengabarkan akan bergabung dengan sebuah organisasi pendakian gunung di kampus, dia sering pulang larut, atau tidak pulang sama sekali untuk berhari-hari ke depannya.

Aku sungguh gembira. Semakin anak itu menjauh dari sini, aku sungguh semakin lega.
***
Suara ketukan pada daun pintu beberapa kali. Pasti anak itu. Aku menggerutu dalam hati sambil mengikat rambutku yang tergerai panjang, sedikit acak-acakan, tanpa sempat merapikannya lebih dahulu.

Aku mendengus keluar kamar. Anak itu akhir-akhir ini semakin sering pulang sesuka hatinya. Bukan. Maksudku bukan untuk ikut campur dengan urusannya. Dia boleh saja kapan pulang, asalkan dia tidak menggangguku dengan ketukan pada daun pintu rumah kami beberapa kali.

Suara kekutan daun pintu adalah suara yang benar-benar sangat membosankan. Ketika daun pintu benar-benar terbuka dengan sempurna, dia berdiri dengan ransel menggantung di pundak dan wajah sungguh kelelahan.

Benar-benar sangat membuang waktuku, aku mengomel di dalam hati. Tidak banyak basa-basi, aku langsung membalikkan badan dan melangkah menuju kamarku. Dengan ekor mataku, aku melihatnya melangkah menuju kamarnya.

Beberapa menit kemudian, suara ricikan air terdengar dari kamarnya. Anak itu pasti sedang mandi. Apakah dia sudah makan? Ah, itu sama sekali tidak penting. Bukan urusanku untuk memikirkan dia sudah makan atau tidak.
***
“Hanya untuk membukakan daun pintu untuknya, kau sudah marah begitu.” Erin memandangiku tak habis percaya ketika aku baru saja menceritakan kejadian semalam.

“Aku tidak marah. Hanya sedikit kesal.” Jawabku sambil mengembuskan nafas. “Kalau kau ada di posisiku, pasti kau melakukan hal yang sama.”

Erin terkekeh.
“Aku benar-benar menyesal karena dia suka ikut kegiatan-kegiatan yang sama sekali tidak berguna.”

“Itu namanya hobi. Seperti halnya kau hobi bekerja di depan komputer usangmu.
Dia tentu punya hobi lain. Tunggu… Kau bilang dia suka mendaki gunung?”

Aku mengangguk.

“Ya, Tuhan. Itu pekerjaan paling menyenangkan.”

“Baiklah. Kenapa kalian berdua tidak mendaki gunung bersama-sama?”

Erin tertawa. Suara tawa yang terdengar begitu sumbang.
***
Setelah menghilang beberapa hari yang lalu, entah ia sedang melakukan kegiatan pendakian. Kembali terdengar suara ketukan pada daun pintu rumah kami.
Apakah posisiku benar-benar seperti seorang pembantu di rumah kami sendiri?Mengapa aku harus membukakan pintu untuknya?Aku mengepalkan tangan.Gemas.

Ketika daun pintu terbuka, kali ini aku melihatnya mengenakan baju cokelat dengan celana jeans hitam, dan masih dengan wajah yang sangat kelelahan.

“Maaf sudah merepotkanmu membuka pintu untukku.” Ujarnya, untuk pertama kali dalam dua minggu ini dia baru berbicara denganku.

“Untuk besok dan seterusnya, tak perlu lagi membukakan pintu untukku. Aku sudah membuat kunci duplikat rumah.” Tambahnya sambil menunjukkan sebuah kunci. Ia tersenyum.

Lalu ia menyodorkan sesuatu dari dalam tas ranselnya. Beberapa helai daun yang katanya ia pungut dari dalam hutan.

“Ini?”

“Daun ini untukmu. Aku menemukannya di dalam hutan.”

Sejenak aku memandang daun tersebut dengan sangat teliti. Daun tersebut tidaklah istimewa.
***
Suara ketukan pada daun pintu memang tidak terdengar lagi sebab ia sudah mempunyai kunci sendiri.

Anak itu benar-benar menghilang saat pendakiannya yang terakhir, begitulah informasi terakhir yang kudapat. Aku sama sekali tidak mengerti. Ia tidak kunjung muncul.
***
“Bagimana dengan suamiku?”

Kening salah seorang Tim SAR mengerut, menatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Aku mengerti maksud tatapannya. Aditia Herman terlalu muda kalau ia kusebut suami.

“Saya istri Aditia Herman.”

Dia diam beberapa saat.

“Oh, maaf. Dia bersama dengan dua orang temannya, melakukan pendakian dari kawasan Lasi, Kecamatan Canduang. Itu sebenarnya jalur baru dibuka.”

“Sudah berapa lama mereka tersesat?” Aneh sekali, aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang suamiku.

“Seminggu.”

Ya, Tuhan!!! Berarti selama sebulan ini, aku sama sekali tidak mengetahui keberadaannya di mana. Kupikir dia ada di rumah. Kukira dia selalu pulang larut seperti biasa.

“Hasil penelusuran tim kecil dan sekretariat kami. Kami menemukan jejak dan sisa makan di Parak Rotan daerah Lasi Canduang.”

“Kontak kami yang terakhir, mereka mendaki pada Rabu 21 Juni, berada di wilayah Parak Rotan atau ketinggian 1.500 Mdpl gunung.” Terang lelaki itu.

“Mereka sempat mengirim sms ke posko, kalau mereka tersesat dan kehabisan perbekalan makanan.” Lanjutnya.

“Lalu bagaimana?”

“Kita berdoa, semoga mereka bertahan di dalam hutan. Nyonya, kami dari tim SAR dan mapala, akan berusaha semampu kami. Kemarin kami sudah menerjunkan sebanyak lima puluh orang untuk menyisir hutan.” Lelaki itu mengembuskan nafas beberapa saat.”Tapi untuk hari ini, kita harus menghentikan pencarian, Nyonya. Selain medan yang terjal, faktor cuaca ekstrim dan angin kencang menjadi faktor kendala tim kami.”

Aku diam. Untuk pertama kalinya, aku begitu sungguh sangat khawatir dengan anak itu.

“Seharusnya pendakian mereka sudah berakhir seminggu lalu.”
***
Malam ini udara dingin sekali. Sudah beberapa jam, wajahnya tidak juga lumpuh di ingatanku. Wajah itu seperti menari-nari dengan jelas di dalam kepala. Entah mengapa, malam ini,aku benar-benar sangat merindukannya.

Terkadang kita memang baru merasakan kehilangan, ketika seseorang itu sudah pergi. Anak itu belum juga ditemukan. Mungkin aku harus menyusulnya suatu saat. Entah kapan…

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pada dan pintu depan rumah kami. Aku berdiri dan langsung berlari terengah-engah menujupintu. Pasti anak itu sudah pulang. Aku harus menyambutnya. Secepat kilat aku membuka daun pintu, berharap anak itu memang pulang malam ini. Akan tetapi, hanya angin malam yang berhembus menyembut kedatanganku. Tidak seorang pun berdiri di balik daun pintu.
Aku sangat rindu ketukan pada daun pintu…

(Oleh : Karya Ramajani Sinaga) Ramajani Sinaga, lahir di Medan, 05 Oktober 1993. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah, Banda Aceh. Karya-karyanya telah dimuat di Sinar Harapan, Majalah Story, Analisa, Waspada, Serambi Indonesia, Haluan Padang, dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s