Beranda » Cerpen » Tart Ulang Tahun

Tart Ulang Tahun

Cara-Membuat-Kue-Ulang-Tahun-Kue-Tart

Karya Ramajani Sinaga

Saya memiliki sebuah toko yang menjual aneka tart ulang tahun. Dengan begitu, saya menjumpai banyak pengunjung dengan mimik wajah yang senantiasa bahagia. Beberapa di antaranya membeli tart milik kami untuk perayaan ulang tahun teman, orang tua, guru, dan sebagian yang lain untuk merayakan hari jadi pernikahan.
Pengunjung yang datang adalah tamu yang datang pergi. Tentu saja saya tak dapat mengingat wajah mereka satu persatu atau barangkali mengingat pesanan tart mereka yang beraneka bentuk.
Setiap pengunjung yang datang pasti tersenyum bahagia. Tapi sebaliknya, kali ini justru saya mendapati kenyataan yang berbeda.
Seorang lelaki tua dengan langkah perlahan-lahan memasuki toko tart milik kami. Tangan kanannya bertumpu pada sebuah tongkat berwarna cokelat kemerahan. Hampir separuh rambutnya sudah berwarna putih.
Ia berjalan memperhatikan setiap tart yang kami pajang di setiap etalase. Ia tampak serius memperhatikan. Langkahnya mengikuti etalase-etalase yang bentuknya memanjang. Seorang rekan menghampirinya, tetapi lelaki tua itu memang ingin memilih sendiri tart yang dipajang di toko kami. Mata tua itu teliti dari tart yang satu ke tart yang lain, mengamati bentuk-bentuknya, mengamati warnanya. Sungguh, saya merasa lelaki tua ini memiliki selera yang begitu tinggi dibanding pengunjung-pengunjung yang lain.
Ia berkeliling memakan waktu yang cukup lama. Beberapa rekan tidak terlalu mempedulikannya dan lebih memilih pengunjung yang lain, yang silih berdatangan hari itu. Tetapi, mata saya tetap setia tertumbuk pada sosok lelaki tua itu. Pengunjung yang lain datang dan pulang, sedangkan ia masih memilih dengan waktu yang cukup lama. Ia menggerak-gerakkan tongkatnya seiring dengan langkah kaki yang tampak senja.
Saya akhirnya memilih menghampirinya.
“Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” Saya berupaya seramah mungkin, berharap lelaki tua ini tidak terganggu.
Dahinya berkerut sesaat.
“Saya ingin membeli sebuah tart.”
Saya tersenyum. Tentu saja, setiap orang yang datang ke sini sudah pasti memiliki tujuan tersebut.
“Kalau boleh diijinkan, bapak ingin bentuk tart yang mana? Berapa tingkat? Berwarna apa?”
Ia diam. Mata tua itu sekali lagi menyapu setiap sisi toko kami.
“Semua tart di sini dijual?”
“Semuanya dijual, Pak.”
Dan mata lelaki tua ini tiba-tiba beralih pada sebuah tart yang terletak di meja saya.
“Kalau yang itu?” tanyanya dengan suara hati-hati.
“Maaf, kalau yang itu tidak untuk dijual. Itu tart buatan saya sendiri. Dan rasanya belum tentu enak. Justru yang lainnya lebih menarik dan rasanya tidak perlu diragukan.”
“Tapi bagi saya tart itu lebih menarik daripada yang lain.” Ujarnya dengan nada yang cukup meyakinkan.
Saya tersenyum geli. Bagaimana mungkin tart berukuran sederhana dengan bentuk yang tidak menarik itu begitu menarik bagi lelaki tua ini. Jelas-jelas tart itu buatan saya ketika baru belajar membuat tart tadi. Sudah pasti tampilannya tidak menarik.
“Sekali lagi, saya minta maaf. Tart itu buatan saya. Dan saya baru belajar membuat tart. Bentuknya jelek dan rasanya mungkin tidak enak. Bagaimana mungkin saya memberikan tart yang jelek itu untuk pengunjung took kami.”
Lelaki tua ini tersenyum.
“Baiklah. Saya memilih tart itu.”
Saya menghela napas.
“Memangnya tart ini untuk ulang tahun siapa? Cucu? Anak? Istri? Atau barangkali sahabat bapak?”
“Tart untuk saya sendiri.”
Saya melongo sebentar. Memandangi wajah yang sudah termakan usia senja itu.
“Saya membeli tart untuk saya sendiri.”
“Anak bapak? Istri? cucu?”
“Istriku sibuk sekali. Ia pasti tidak mengingatku. Anak-anakku sibuk dengan pekerjaan mereka. Cucu-cucuku tidak seorang pun mengingatku. Mereka semua hidup dengan dunia mereka sendiri. Dan tart ini memang untuk saya sendiri.” Katanya dengan mata berkaca-kaca.
Saya mengambil tart yang ia pinta dan memasukkannya ke dalam kotak berwarna biru.
“Berapa harganya?”
Saya menggeleng.
“Seperti yang sudah saya katakan, Pak. Tart ini bukan untuk dijual.”
Ia merogoh sakunya dengan tangan yang keriput.
“Berapa?”
Saya kembali menggeleng.
“Tart itu memang tidak untuk dijual. Dan silakan bapak menikmatinya di hari ulang tahun, Bapak. Selamat ulang tahun.”
Lelaki tua ini tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Belum pernah saya menyaksikan senyum setulus lelaki tua ini. Betapa beruntungnya saya karena masih memiliki orang-orang yang senantiasa memperhatikan saya. Saya berdoa, sampai usia saya senja, rasa bahagia ini masih tetap terjaga bersama orang-orang yang mencintai saya.


E-mail : ramajanisinaga@rocketmail.com
Rekening : BNI 0239474968 sdr Ramajani Sinaga.
Alamat Rumah: Jln. Tgk. Syarief. Gg. Cut Tam No 7. Kelurahan Jeulingke. Kecamatan Syiah Kuala. Kota Banda Aceh. 23114.

2 thoughts on “Tart Ulang Tahun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s