Beranda » Cerpen » Adik Budi

Adik Budi

mengatasi_balita_cemburu_berlebih
[Dimuat di Radar Bojonegoro, 15 Mei 2015]
Lihatlah teman-teman, seluruh perhatian orang tuaku tertuju pada adik baruku, namanya Anggi. Dia masih kecil tapi orang tuaku lebih menyayanginya. Ibuku membelikannya baju-baju baru, sedangkan aku tidak dibelikan baju baru. Orang tuaku juga membelikannya tempat tidur baru yang ukurannya kecil, sedangkan tempat tidurku masih yang lama. Anggi begitu disayang sedangkan aku seperti dilupakan.
“Budi, ayo bantu ibu, Nak.”
Aku mendengar suara ibu dari arah dapur.
Sebenarnya aku ingin membantu ibu. Ya, dahulu aku memang sangat rajin membantu ibu. Tetapi karena sekarang mereka lebih menyayangi Anggi, aku tak akan mau membantu ibu lagi.
Aku memilih pergi bermain sepak bola di tanah lapang. Di sana sudah ada Berto, Wando, dan Gino. Mereka sudah datang duluan dan menunggu kedatanganku.
“Hei, sekarang kau punya adik kecil, ya? Selamat. Akhirnya kita sama-sama punya adik.” Kata Gino ketika aku baru sampai.
Aku tahu sebulan lalu Gino juga punya adik kecil. Tapi, tentu saja kami berbeda. Orang tua Gino pasti tak akan membeda-bedakan Gino dengan adik kecilnya. Perlakuan mereka sama terhadap Gino dan adik kecilnya.
Sore itu kami bermain sepak bola di tanah lapang. Tidak seperti biasa, Gino tiba-tiba tidak bermain lama.
“Maaf teman-teman. Aku harus membantu ibuku.” Ujarnya.
Kami menyudahi permainan.
“Kalian ikut saja, aku akan memperkenalkan adik kecilku pada kalian.” Kata Gino.
Akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke rumah Gino. Kebetulan, rumah Gino tidak terlalu jauh dari tanah lapang, tempat kami bermain sepak bola.
Ketika kami tiba, orang tua Gino menyambut kami dengan ramah. Gino memperkenalkan adik kecilnya dengan penuh semangat.
“Hai teman-teman. Ini adikku. Namanya Tasya.” Kata Gino bersemangat.
Aku diam memperhatikan. Gino tampak sangat menyayangi adiknya. Ia membelai pipi adiknya yang masih kecil. Hal tersebut berbeda sekali denganku.
“Oh ya teman-teman. Sejak aku punya adik, aku semakin rajin membantu ibuku. Kasihan ibuku, kan bebannya bertambah karena harus merawat adikku. Jadi aku harus meringankan bebannya. Kadang-kadang aku harus menyanyi untuk adikku, biar dia bisa tidur.” Kata Gino lagi dengan wajah berseri-seri.
***
Aku pulang ke rumah. Aku sadar, aku juga harus menyayangi adikku. Gino saja menyayangi adiknya. Bukankah dahulu aku sering berdoa agar Tuhan memberiku adik kecil yang lucu? Sekarang doaku sudah terkabul tapi aku malah tidak menyayangi adikku.
Tiba di rumah, aku melihat ibu sedang melipat pakaian. Pakaian kami itu menumpuk sekali. Keringatnya bercucuran. Adik kecil terdengar menangis di tempat tidurnya. Ibuku berlari dan menenangkan adikku agar tidak menangis lagi. Setelah adikku tidur, ibu melanjutkan melipat pakaian. Beberapa lama, adikku menangis lagi dan ibu kembali menenangkannya.
Ibu tampak sangat lelah. Berjalan kesana kemari. Belum lagi memasak untuk makan malam kami.
Oh Tuhan, apa yang sudah kulakukan? Ibuku begitu lelah. Ia harus memasak, mencuci pakaian, mencuci peralatan makan, menyapu halaman depan atau belakang, dan menyiapkan segala keperluan kami, termasuk menggosok seragam sekolahku. Belum lagi ibu harus bangun di tengah malam karena harus mengganti popok adikku.
Aku harus membantu ibu. Aku harus meringankan bebannya.
“Bu, Budi yang jaga adik ya.” Kataku.
Ibuku tersenyum lebar dan mengelus-elus kepalaku.
“Terima kasih ya, Nak.” Ibu tersenyum.
Lalu aku bernyanyi kecil di depan adikku.
“Balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya…”
Adikku tidak menangis lagi. Ia tampak menyukai lagu-laguku.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s