Beranda » Cerpen » Pengemis di Mesjid Raya

Pengemis di Mesjid Raya

Oleh: Ramajani Sinaga

Di hadapanku berdiri megah mesjid yang mahsyur namanya di seluruh penjuru dunia. Mesjid yang tegar ketika air tsunami menghempasnya. Waktu itu saat bangunan lain hancur karena musibah melanda. Namun, mesjid ini tetap kokoh hingga menyelamatkan ribuan manusia warga Banda Aceh waktu itu.
Mesjid ini pula yang menyimpan sejarah nan panjang. Tatkala penjajah Belanda menyerang Banda Aceh pada tahun 1873. Mesjid ini di bakar dengan tujuan dapat dibinasakan oleh tangan para penjajah. Ada sebuah monumen kecil di bawah pohon geulumpang dekat pintu masuk sebelah utara mesjid. Hari kamis, tepat 13 Syawal 1296 Hijriah, Tengku Qadhi Malikul Adil yang mahsyur namanya di Aceh, meletakkan batu pertama pendirian mesjid ini setelah mesjid dibakar.
Saya mengambil tempat di sebelah kanan mesjid. Adzan beberapa saat kemudian terdengar berkumandang dari seluruh penjuru. Jalan raya sunyi di waktu ini. Beberapa orang datang dari berbagai arah. Beberapa mobil mengkilap berhenti di depan Masjid. Mereka berpakaian rapi. Diantara mereka ada yang mengenakan seragam polisi dan pakaian pegawai. Semerbak wangi tercium hingga menusuk ke liang hati. Sudah jelas, wangi–wangian itu bersumber dari baju bagus mereka. Kini para lelaki berkumpul di Masjid. Pun adzan telah bersuara dari corong-corong Masjid. Kubasuh wajah ini hingga anggota tubuhku yang lain dengan air wudhu nan suci. Nikmat pensucian untuk menghadap-Nya. Saat aku masih dapat menghidup udara segar. Udara yang kuhirup hingga ke rongga tubuh ini. Tatkala banyak manusia yang tidak dapat menghirup udara segar lagi. Diantaranya tanggal 26 Desember 2004 menghilangkan nyawa beribu orang. Menusuk luka amat dalam. Tubuh–tubuh kosong tanpa ruh terhampar luas atas kuasa-Nya. Masjid ini yang menjadi saksi pilu musibah itu.
Kulangkahkan kaki ini ke ruang Masji. Tiba–tiba kornea mata ini tertuju pada seorang perempuan yang duduk di pintu Masjid. Wajahnya sangat muram dalam menghadapi hidup. Air matanya ingin mengaliri wajahnya itu. Aku terhisap memasuki lorong panjang, penuh kelokan. Pada saat tikungan, aku menemukan jejak luka yang dalam. Aku tak ingin mencari sebab di balik mata wanita sembab itu. Jika ia akan mengeluarkan air matanya, air mata yang begitu indah dan mengalir berbutir–butir penuh cahaya serupa air permata. Aku ingin memunguti dan merangkainya menjadi kalung sebagai penghibur atas luka lara dan merangkainya menjadi kalung indah, pun kekejaman pemimpin negeri ini padanya. Pemimpin yang lupa akan rakyatnya. Di pangkuannya seorang anak sedang tertidur pulas, entah karena lapar, tapi yang pasti dia sangat memprihatinkan. Seharusnya dalam umurnya anak itu dapat menikmati hidup, bermain dan belajar hingga senja datang. Aku ingin menjadi sang penghibur bagi anak itu. Di depan tubuh yang pahit itu terlihat dua gelas minuman kosong. Gelas yang digunakan untuk tempat sedekah dari orang para penderma.
Di balik mobil yang mengkilap itu. Tak ada yang merasa iba pada perempuan lusuh itu. Mereka tetap beribadah dan menghadap-Nya. Mereka lebih memilih berinfaq kepada Masjid nan gagah serba molek dibanding bersedekah kepada wanita pengemis itu. Teringat oleh ku Khalifah Abdul Aziz bin Marwan, ketika khalifah berjalan dalam keheningan malam. Tiba khalifah menemukan seorang wanita memasak batu kosong dan seorang anak dalam keheningan yang lapar. Sang anak tetap menunggu hingga masakan tiba, namun hingga kiamat pun tiba masakan itu tak akan ada. Tatkala khalifah sendiri dalam punggungnya ia berikan makanan itu kepada wanita. Mungkin aku tak akan menemukan pengganti sifat khalifah Abdul Aziz bin Marwan.
Beberapa orang tetap berjalan menuju dalam Masjid tanpa peduli kepada wanita pengemis itu. Wajah–wajah manusia yang sombong tapi tetap mengharap surga-Nya. Manusia yang tidak perlu tahu nasib saudara mereka sendiri. Air mataku ingin mengalir, tapi aku bukan melankolika. Pahit getir yang ia rasakan dalam hidup ini, menjadi sembilu penyayat hati. Aku ingin menghiburnya tetap mengucapkan puji syukur. Mungkin wanita itu terlahir menjadi seorang peminta–minta atau ia korban tsunami masa lalu, entah ia seorang bekas wanita penghibur kaum adam, hingga kulitnya telah berlipat – lipat dan ia detelantarkan tak terpakai lagi. Anak itu mungkin tak mempunyai seorang ayah. ah, aku telah berpikir kurang baik padanya, tapi jelas banyak orang tak peduli dengan mereka.
Aku meraba sakuku, berharap ada uang untuk di santunkan kepadanya. Uang yang kusantunkan tak sebarapa tapi hanya penghibur bagi hatinya yang pilu. Uang kusantunkan dalam botol kosong. Aku memberikan senyum padanya, hingga ia mengucapkan terima kasih padaku dan membalas seyumanku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s