Beranda » Cerpen » Sastra Mengingat Bulan Desember

Sastra Mengingat Bulan Desember

“Kawan, ada yang ingin kukatakan padamu. Suatu hari di bulan Desember, aku melihat ombak hitam setinggi pohon kelapa menerjang rumahku. Ia menghantam apa saja yang ada di depannya, termasuk tubuh ibuku.” Begitu yang ditulis oleh seorang teman ketika kami berusaha menuliskan sesuatu dengan tema bulan Desember (Tsunami) di salah satu ruang kelas FKIP Unsyiah.
Tentang apa yang dituliskan oleh seorang teman tersebut, saya jadi teringat cerpen Herman RN “Ibu” yang dimuat di Republika, puisi Fikar W Eda “Nyeri Aceh” yang dimuat di Kompas, puisi Harun Al Rasyid, Ziarah Ombak (antologi puisi tsunami), Lagu Kelu (kumpulan puisi tsunami, Aliansi Sastrawan Aceh), dan tentu masih banyak karya-karya lainnya yang bermunculan dengan tema serupa. Penikmat karya tema Desember itu barangkali dibawa menangis, sedih, menyentuh hati, dan pilu. Yang penting sebenarnya, bagaimana cara cerpenis dan penyair dalam mengungkapkan tema Desember tersebut.
Kita lihat apa yang ditulis oleh Herman RN dalam cerpennya; “Hari ini aku sudah kembali lagi, tapi tak kudapati kampung kita yang dahulu. Laut telah menyulap kampung kita menjadi datar seluruhnya. Di mana rumah kita? Kemana kau, ibu? Selamatkah dirimu? Atau adakah kau di antara mayat-mayat yang belum sempat diangkat para relawan itu? Aku telah mencarimu di pos-pos pengungsian, tapi tak kudapati namamu dalam daftar orang yang selamat.” (petikan cerpen Herman RN “Ibu”)
Seperti tajuknya ibu, ‘kacamata’ kita akan melihat bagaimana tokoh ibu hidup di dalam deskrispi dan dialog-dialog yang diramu oleh Herman RN. Tokoh Ibu yang setiap hari merepet kepada anaknya (tokoh aku-an) yang suka menulis dan mengirimkan karyanya ke koran-koran. Tokoh ibu menganggap bahwa pekerjaan menulis hanyalah pekerjaan sia-sia. Kemudian, cerita ditutup dengan musibah di bulan Desember 2004, ketika tokoh aku (-an) sudah menjadi seorang penulis besar. Tokoh aku (-an) kembali ke kampung halaman dan melihat kampung sudah rata dengan lumpur tsunami.
Kalau Herman RN menempatkan tokoh ibu sebagai korban tsunami, lain halnya dengan apa yang disampaikan Harun Al-Rasyid dalam puisinya. /Tiga tahun lalu, sayang/ Engkau mintakan sebuah ranjang/ Engkau dambakan sebuah almari pakaian/ Dan cermin khusus untuk berdandan/ Ayah telah menunaikannya padamu/ Dua pekan sebelum tsunami, 13 Desember 2004/ (Petikan Puisi). Dalam persepsi saya, puisi ini mengandung kata, imaji, dan pengungkapan yang sederhana, tetapi begitu menyentuh pembaca. Saya menangkap bahwa puisi itu berbicara tentang seorang ayah yang kehilangan anaknya ketika musibah. Lain lagi dengan apa yang diungkapkan oleh Fikar W Eda dalam puisinya. “Nestapa Aceh dalam nyeri dan perih kami /jangan kalian cari lagi Meulaboh/ jangan kalian tanya di mana Banda Aceh/ di mana Calang, Teunom, Lamno, Lhokseumawe, Bireuen, Sigli/ peta-peta telah koyak terlipat dalam gulungan laut.” (Petikan Puisi Nyeri Aceh). Puisi ini dalam persepsi saya cenderung sebagai ungkapan ‘protes’ di dalam kesedihan sang penyair.
Begitulah, karya-karya di atas sebenarnya hanya bagian kecil dengan tema bulan Desember. Saya belum memberikan interpretasi pada seluruh karya-karya dengan tema Desember. Pada akhirnya, kita harus percaya bahwa tsunami adalah peristiwa dan persoalan besar yang pernah terjadi. Hal tersebut sebenarnya dapat dijadikan sumber inspirasi selain konflik disintegrasi.
Saya percaya, cerpenis dan penyair sudah berusaha mengungkapkan dengan nurani mereka. Semoga tema Desember ini terus dikenang dan diarsipkan (barangkali) sebagai bukti bahwa sastra di Aceh terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.
“Mungkin tsunami hanyalah sentuhan kecil bagi-Nya dan musibah besar bagiku, karena aku kehilangan ibuku. Pada akhirnya, aku sadar, aku hanya mahluk kecil di hadapan Dia.” Begitu seorang teman mengakhiri ceritanya dengan tema bulan Desember.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s