Beranda » Cerpen » Perempuan Kopi

Perempuan Kopi

Karya Ramajani Sinaga

Perempuan itu tersenyum, bibirnya merona. Dia lalu meletakkan secangkir kopi yang dibuatnya. Baunya harum, aku sangat menikmatinya. Kuseduh sewaktu masih hangat. Minum kopi saat hujan sedang mengguyur bumi sangatlah nikmat.

“Kau sudah bersuami?”

“Suami saya sudah meninggal, Tuan.”

“Lalu, anakmu?”

“Saya belum punya anak dari almarhum suami saya.”

Aku diam. Sementara perempuan itu terus menatap wajahku. Kupikir, selama hidupnya ia pasti sangat kesepian.

“Kopi buatanmu sangat enak.”

“Dulu, almarhum suami saya sangat suka kopi. Saya selalu membuatkan segelas kopi untuknya setiap hari.”

“Itu kewajiban seorang istri kepada suaminya.”

“Kalau begitu, istri tuan pastilah sangatlah pandai meracik kopi.”

Aku diam. Istri? Ah, aku teringat wajahmu. Dulu, dulu sekali, kau berjanji akan membuatkan kopi padaku setiap hari. Tanpa merasa bosan sama sekali, janjimu. Tapi segalanya sudah berubah. Semua terjadi karena kau terlalu sibuk dengan urusan di kantormu, sehingga kau tidak sempat membuatkan segelas kopi untukku.

Rumah kita adalah ruang yang sangat sunyi. Aku merindukan sikapmu yang dahulu. Aku merindukan kopi buatanmu, sayang.

Kau selalu pulang larut malam, ditemani teman lelakimu, katamu. Sebatas temankah? Kedua bibir kalian bertemu, dalam budaya kita, apakah itu masih bisa dianggap teman, sayang?

Sejak saat itu, jantungku selalu bergetar cemburu. Lidahku kelu. Aku tidak dapat merasakan nikmatnya segelas kopi. Semua rasa telah hilang. Ah, apa dayaku, aku hanya lelaki kesepian.

“Kenapa tuan diam. Apa istri tuan tak dapat membuatkan segelas kopi?” suara perempuan itu memecahkan lamunanku.     

Aku diam. Tidak dapat menjawab pertanyaan perempuan itu. Sebenarnya, sama sekali aku tidak ingin mengingat wajahmu.

Hujan di luar begitu deras. Segelas kopi telah tandas. Setelah menikmati segelas kopi. Tiba-tiba tatapanku buram. Rasa kantukku menghadang. Setelah itu, aku tidak merasakan apa-apa lagi. Tapi sebelumnya, aku merasakan bibirku telah dilumat habis oleh perempuan kopi itu.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s