Beranda » Cerpen » Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua

20130721114820_518

[Sumber: Koran Medan Bisnis, edisi Minggu, 21 Jul 2013]

Sungguh, aku tidak tahu tempat apa ini. Sedari tadi aku meraba-raba dan tidak menemukan apa-apa di sini. Gelap. Tanpa cahaya. Apakah ini yang dinamakan alam kematian? Apakah aku sudah meninggal dunia? Pikiranku berkecamuk, takut, dan kacau. Kakiku terus melangkah sambil menerka-nerka arah jalan yang akan kulalui. Ingin rasanya bertanya kepada seseorang di tempat yang menakutkan ini. Tapi, tempat ini memang kosong. Tanpa dihuni mahluk apa pun. Sedari tadi, aku tidak melihat seorang pun manusia di tempat ini.
Aku mengingat kejadian terakhir yang kualami. Seingatku, terakhir aku mengendarai mobil pribadiku menuju rumah sakit persalinan, tempatku bekerja setiap harinya. Ketika sampai di pertigaan menuju rumah sakit, tiba-tiba aku menabrak sebuah bus yang melaju kencang dari arah kiri. Kepalaku terbentur mengeluarkan darah. Mungkin retak. Tapi, aku masih sempat mendengar suara kenderaan yang berdecit.

Bau amis darah masih sempat tercium menusuk rongga hidungku. Dan, aku masih sempat mendengar orang-orang berkerumunan menghampiri mobilku yang hancur. Setelah itu, aku tidak merasakan apa-apa lagi hingga aku sampai di tempat gelap ini. Inikah tempat orang-orang yang sudah meninggal dunia? Tapi di tempat ini tidak ada siapa pun, kecuali tubuhku dan kegelapan yang begitu hampa.

Tiba-tiba aku melihat siluet cahaya yang masuk ke dalam ruang. Hatiku mulai tenang. Mungkin itu jalan menuju keluar dari tempat ini. Aku berlari sekuat-kuatnya dengan harapan yang sangat besar agar dapat keluar dari tempat ini. Kegelapan adalah sesuatu yang tidak kusukai.

Akhirnya, kegelapan usai. Aku dapat keluar dari tempat itu. Tubuhku sudah berada di tempat terang. Tapi, keanehan tidak habis terjadi di sini. Aku menjumpai banyak orang membawa bungkusan. Mereka sangat ramai. Bersaf-saf. Semua mereka menggunakan pakaian putih suci. Bungkusan mereka bawa. Keningku mengerut. Tidak seorang pun di antara mereka yang kukenali. Tempat ini begitu asing. Aroma padang pasir menyergap tubuhku.

Aku mendekati manusia itu. Wajah mereka ada yang berseri-seri seperti bahagia. Namun, di antara mereka juga ada wajah yang kecewa dan seperti menahan rasa takut luar biasa. Wajah yang berseri adalah manusia yang membawa bungkusan ukuran besar. Sedangkan wajah yang ketakutan adalah manusia yang membawa bungkusan berukuran kecil. Kuperhatikan kembali tingkah mereka dengan seksama. Ternyata, ada juga di antara mereka yang tidak membawa bungkusan sama sekali. Manusia yang tidak membawa bungkusan selalu menangis selama dalam perjalanan. Sementara aku? Aku juga tidak membawa bungkusan sama sekali.

Sungguh aneh. Apa isi bungkusan yang sedang mereka bawa? Apa itu amalan kebajikan selama di dunia? Ah, mati aku. Aku terlalu banyak berbuat dosa sewaktu hidup di dunia. Sehingga aku tidak mempunyai bungkusan di tempat ini. Cepat-cepat aku bertanya pada seseorang diantara mereka.
“Maaf, saya boleh bertanya. Apa isi bungkusan yang sedang Anda bawa?” tanyaku pada seorang lelaki.

Lelaki itu diam. Tidak menjawab. Bahkan, ia seperti tidak mendengar pertanyaanku. Lelaki itu terus melanjutkan perjalannya. Aneh. Tapi, aku tidak begitu mudah menyerah. Kutanya lagi pada seseorang di antara mereka. Pun aku tidak menemukan jawaban dari mereka. Mereka hanya diam. Aku kecewa.

Tiba-tiba mataku tertangkap pada pemandangan yang lebih aneh lagi. Bahkan, kejadian seperti ini tidak pernah kutemui sebelumnya. Sekalipun tidak pernah. Ada banyak bayi yang menangis dan meratap. Suara bayi yang bising. Suara mereka memikik. Tanganku ingin membungkam mulut bayi-bayi itu. Aku menghampiri bayi-bayi itu.

“Apakah kau tidak kenal denganku?” tanya seorang bayi. Aku tersentak. Bagaimana mungkin seorang bayi dapat berbicara di tempat ini. Aneh.

“Tampaknya dia lupa siapa kita,” jawab seorang bayi yang lain. Pikiranku berkecamuk. Tempat apa ini?

“Memangnya kalian siapa? Kenapa kalian bisa berbicara?” Aku bertanya menyelidik.
“Kami adalah jabang bayi manusia yang belum lahir ke dunia,” ujar salah satu antara bayi di situ.
“Hahaha. Kau jabang bayi.” Aku tertawa.
“Kami adalah bayi-bayi yang kau bunuh beberapa tahun lalu!” Aku terkejut dengan ucapan mereka.

“Bayi?” Keningku mengerut. Berpikir.
“Ya, kau adalah dokter yang membantu mengugurkan kami lahir ke dunia. Semua kau lakukan hanya demi uang semata. Kau manusia jahat  dan durjana. Kenapa kau membunuh kami? Apa salah kami?”

Satu persatu mereka mengatakan aku adalah seorang pembunuh. Mereka jabang bayi yang dibunuh olehku. Jumlah mereka bertambah satu persatu. Mereka menangis. Meraung. Mereka seperti meminta pertanggung jawaban. Jumlah mereka semakin banyak.

Ya, aku seorang dokter di dunia. Aku telah banyak membunuh bayi manusia. Tapi itu semua atas perintah mereka. Dan, aku berpikir, di mana letak uang, di sanalah aku berada. Walaupun, aku mengotori tanganku sendiri.

Tiba-tiba suara bergemuruh. Semua manusia di tempat itu bersujud. Aku tersentak. Tampak sebuah sinar yang begitu indah. Sinar yang tidak pernah kutemui sebelumnya. Aku menangis. Merutuk diriku sendiri yang telah melakukan banyak dosa. Aku bersimpuh.

“Ya Allah… berikan hamba kesempatan ke dua. Berikan hamba kesempatan ke dua, Ya Rabbi. Tidak akan hamba ulangi dosa dan perbuatan. Ampuni hamba Ya Rabbi… berikan hamba lagi kehidupan dan kesempatan.” Air mataku berderai panjang.

“Hamba pembunuh … hamba telah melakukan banyak dosa. Hamba selalu menggunakan ilmu hamba dalam jalan kekufuran karena tamak terhadap dunia fana. Ya Rabbi, ampuni hamba..”
Sewaktu di dunia, aku tidak pernah salat, tidak pernah berpuasa di bulan Ramadhan, tidak pernah bersedekah, tidak pernah melangkahkan kaki ke mesjid dan surau. Aku sangat jauh dari Tuhan. Aku selalu saja berbuat dosa, karena tamak terhadap dunia. Andai saja ada kesempatan.. ya.. andai! Aku bersimpuh. Menangis.

Bibirku tercekat. Kudapati istriku dan anakku Alif sedang di dekat tubuhku. Istiku menangis penuh haru. Aku menangis. Inikah kesempatan kedua itu.
“Apa aku sudah mati?” Bibirku bergetar.

“Belum, Bang. Ada aku dan Alif yang begitu menyayangimu. Jangan tinggalkan kami. Jangan pergi…” suara istriku serak. Dia menghapus air mataku.

“Apa aku sudah di dunia sekarang?” Istriku semakin menangis.
“Allah Ya Rabbi.. Engkau telah memberiku kesempatan ini. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku untuk berbuat kebajikan,” air mataku berderai panjang. Tangis yang kian pecah di ruangan serba putih dengan sebotol infuse yang tegantung di dekatku.
“Besok aku mau puasa. Sudah lama aku tidak puasa,” ujarku kepada istriku. Dia tersenyum. Kudengar suara-suara penyeru dari mesjid. ( Oleh: Ramajani Sinaga)

(Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s