Beranda » Cerpen » Cerita Rakyat Paya Dapur

Cerita Rakyat Paya Dapur

Di pinggir payau yang luas, aku dan istriku hidup rukun dan damai. Dari payau tersebut kami mendapat ikan. Selanjutnya, kami akan menjual ikan hasil tangkapan kami ke pasar. Uang hasil penjualan kami pergunakan untuk membeli kebutuhan sehari-harinya. Sebenarnya banyak juga orang lain yang memancing payau tersebut, tetapi mereka tidak pernah mendapatkan ikan.

Suatu hari, aku mencari ikan ke payau dan meninggalkan istriku sendirian di rumah. Ketika aku kembali, kudapati istriku sedang murung dan bersedih hati. Lalu aku menanyakan perihal apa yang telah menimpanya hingga ia begitu murung.

Istriku menceritakan segala sesuatu yang telah terjadi pada dirinya. Bahwa ada seorang lelaki setengah baya yang masuk ke rumahnya. Lelaki itu bersikeras menaiki tangga rumah. Maka terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan. Aku terkejut tak alang kepalang. Karena kesetiaanku telah ternodai oleh orang lain, aku haram menyentuh istriku. Lalu aku pergi meninggalkan istriku  seorang diri di rumah di pinggir kolam yang luas itu. Aku tidak pernah kembali. Aku pergi dengan kekecewaan yang amat dahsyat.

Aku mendapat kabar. Beberapa bulan, jabang bayi yang dikandung istriku lahir. Karena kelahiran bayi itu tak diinginkan oleh istriku, ia kemudian membuang bayi tersebut ke dalam payau itu. Tiba-tiba udara menjadi gelap gulita. Hujan yang sangat lebat turun dan membanjiri semua kampung di sekitar itu. Rumah di pinggir payau tersebut tenggealam bersama istriku. Bencana yang datang secara tiba-tiba dan menelan korban jiwa merupakan azab bagi istriku dan lelaki setenagh baya yang berbuat mesum.

Setelah beberapa hari menggenangi perkampungan penduduk, air pun kembali surut seperti sediakala. Namun, rumah kami seperti tidak berbekas lagi. Rumah itu sudha tenggelam dan hilang dibawa oleh air bah.

Namun, ada sesuatu yang luar biasa terjadi di tengah payau tersebut. Asap yang berasal dari dasar payau yang dalam itu mengepul tanpa henti. Semua orang bertanya apa gerangan yang telah terjadi. Banyak orang mencoba untuk mendekati tempat yang aneh itu. Tetapi, saat mereka hendak sampai ke tempat tempat itu perahu mereka tiba-tiba tenggelam dan tidak muncul-muncul lagi. Demikian pulalah selanjutnya. Tidak ada orang yang bisa mencapai tempat itu. sementara asap itu tetap mengepul sepanjang hari tanpa henti-hentinya. Kadang-kadang tampak bayangan orang tua yang berdiri di antara asap yang mengepul itu. Ia berdiri tenang dan menatap jauh. Penduduk desa percaya bahwa orang tau itu adalah orang sakti yang datang ke tempat itu.

Lalu seseorang yang bijaksana bermimpi bahwa seseorang yang mendiami tempat itu adalah seorang pertapa yang baik hati. Beliaulah yang berusaha menjaga kesucian tempat itu. Memang sejak kejadian tersebut tidak ada lagi orang yang suka berbuat tidak senonoh di pinggir payau. Apa lagi air payau semakin bertambah jernih bagaikan air laut. Penduduk setempat menganggap air itu keramat. Setiap tahunnya penduduk setempat membuat sesajian untuk orang yang dianggap sakti yang mendiami payau tersebut.

Demikianlah terus-menerus hingga puluhan tahun. Payau tersebut tetap mengeluarkan asap. Berbagai tahyul muncul. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah kerajaan orang halus. Ada pula yang mengatakan bahwa payau itu adalah tempat pertapaan seorang yang sakti mandraguna.

Beberapa waktu kemudian asap itu pun menghilang. Namun penduduk tidak berani lagi datang ke tempat itu. Karenanya, payau itu kemudian menjadi sangat angker. Akhirnya, penduduk sekitar payau tersebut menamakan kampong mereka dengan sebutan Paya Dapur.

Dituliskan kembali oleh Ramajani Sinaga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s