Beranda » Cerpen » Kamu Memang Cantik

Kamu Memang Cantik

[Masuk ke dalam nominasi 10 Cerpen (Cerdak) Terbaik Majalah Story]

Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian -dalam hal dunia- dan janganlah kalian melihat orang yang lebih di atasnya. Karena sesungguhnya hal itu akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat yang Allah berikan kepada kalian.” (HR. Muslim)

***

Anita sedang menggoyang-goyangkan celengan ayam-ayamannya, saat Rudang muncul di kamarnya. “Wah, jadi nih beli bebe keluaran terbaru?” goda Rudang.

Anita hanya tersenyum tipis. Virus bebe akhir-akhir ini memang menjangkiti banyak orang, termasuk Anita. Tapi tiba-tiba dia teringat dengan Chogah, cowok yang telah mencuri hatinya sejak SMA. Pikirannya mulai sibuk pada dua pilihan; antara bayangan bebe keluaran terbaru dengan wajah Chogah yang kuyu.

“Bebe apa Chogah ya?” gumam Anita tanpa sadar. Dengan gesit tiba-tiba tangan Rudang menyambar celengan dari tangan Anita. Lumayan berat. Kalau isinya cuma kepingan logam lima ratusan, jumlahnya tidak lebih dari dua ratus ribu. Tapi kalau di dalamnya juga terdapat lembaran seratus ribuan yang banyak, mungkin isinya bisa mencapai satu jutaan lebih. Rudang terkekeh. Hihihi.

“Kalo cuma mau traktir Si Chogah, gak usah sampe pecahin celengan kale! Kan sayang, mending buat aku aja ya,” rengek Rudang. Sedangkan Anita hanya diam, pikirannya masih berkecamuk antara dua pilihan; Chogah-bebe, bebe-Chogah!

“Masa kamu yang traktir Chogah, seharusnya dia donk yang traktir kamu. Masa cewek yang traktir cowok. Apa dunia sudah terbalik?” Rudang terus mengoceh. Anita menatap wajah Rudang. Tatapan yang membuat Rudang harus segera membungkam mulutnya.

“Ingat nggak waktu kita jalan-jalan ke perkampungan sebelah, persis di dekat gang rumahnya Chogah?”

Rudang mengangguk. “Kenapa kita gak membantu Chogah menjadi relawan untuk anak-anak itu?” lanjut Anita dengan nada penuh semangat.

“Jadi hasil dari celengan ini kamu sumbangkan untuk anak-anak itu? Kamu yakin, Nit?”

Anita mengangguk.

“Loh, kamu nggak jadi beli bebe keluaran terbaru? Nanti menyesal. Kamu udah lama loh nabung untuk beli bebe baru. Kan sayang sia-sia begitu saja.”

“Anak-anak di perkampungan itu butuh bantuan. Setidaknya kita bisa meringankan beban mereka kan?”

“Masa kamu gak iri, teman-teman kita semua sudah pada punya bebe keluaran terbaru. Kamu harus berpikir lagi, menyesal di akhir tiada gunanya.” Agaknya Rudang kurang setuju dengan pendapat Anita.

“Ingat nggak hadis yang diajarkan guru agama kita waktu SMA dulu?”

“Aku tak ingat. Lagian dulu nilai agamaku selalu paling rendah.”

“Aku masih ingat. Hadisnya mengajarkan: lihatlah orang yang lebih rendah dari pada kita dalam urusan dunia, supaya kita bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Artinya, kita jangan lihat ke atas melulu! Kalo orang lain beli bom rakitan yang mahal, lah kamu pingin juga? Coba deh, bersyukur dan melihat ke bawah, masih banyak orang yang hidup dalam kesusahannya. Kan lebih baik membantu mereka daripada berhura-hura dan bergaya tidak karuan.”

Rudang diam sembari menatap dua bola mata Anita dengan lekat.

“Daerah tempat mereka tinggal sangat dekil. Kasihan..” tambah Anita.

“Tumben kamu dewasa. Apa ini gara-gara Chogah?” goda Rudang sambil mencubit pipi Anita.

“Oke, kalau begitu, aku juga mau pecahin celengan kuda-kudaanku di rumah, biar bisa membantu anak-anak itu.”

“Celengan kuda-kudaan?” Anita mengeryitkan dahi.

“Ya, celengan kuda-kudaan. Hari gini masih punya celengen ayam-ayaman, udah gak zaman kali. Hihi.” Lalu, kedua sahabat itu tertawa bersama. Mereka bermaksud membantu anak-anak kurang beruntung itu tepat pada perayaan hari anak nanti. Mereka ingin membantu Chogah menjadi relawan.

***

Chogah mengambil tempat di dekat Anita. Mereka berdua melihat anak-anak yang tampak jauh lebih baik dari sebelumnya. “Terima kasih atas bantuanmu,” ujar Chogah memecah keheningan.

“Terima kasih?”

“Tanpa bantuanmu, mereka gak akan bisa hidup begini. Rumah singgah lebih baik untuk tinggal mereka dari pada tinggal di tempat sebelumnya. Mereka layak mendapat pendidikan seperti anak-anak lain.”

Anita tersenyum.

Kamu cantik sekali,” ujar Chogah, membuat kedua pipi Anita kemerahan. Anita bersusah payah menetralkan debaran dalam dadanya.

“Kamu masih ingat kan, apa yang kuucapkan dulu?”

Anita mengangguk.

“Perempuan cantik tidak hanya dilihat dari sisi materi dan fisik, tapi dari hati dan kepribadiannya. Dan kamu memiliki semuanya.” Ujar Chogah dengan tenang, tapi Anita tidak tenang. Meskipun ia berusaha mengusir kegugupannya, tapi tetap saja tubuhnya ngilu diiringi detak jantung yang luar biasa.

“Maafkan aku sebelumnya yang telah berprasangka buruk terhadapmu. Kupikir kamu salah satu dari gadis kaya yang suka berhura-hura dan menghamburkan uang. Kini, aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi.” Ujar Chogah. Tak sengaja, kedua mata mereka bertemu. Ada debaran diantara keduanya.

“Ciyee… ada yang berbunga-bunga. Karena separuh aku…. Dirimu…” terdengar suara Rudang menyanyikan lagu Noah ‘Separuh Aku’. Ia menggoda Anita dan Chogah sambil tertawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s