Beranda » Buku » Sinopsis Novel Marwah di Ujung Bara

Sinopsis Novel Marwah di Ujung Bara

13559616

Konflik di Aceh sudah sekian lama terjadi tanpa ada tanda-tanda kesepakatan damai. Semua kalangan khawatir akan keadaan Aceh ke depannya, diantaranya keluarga besar mahasiswa Darussalam yaitu persatuan antara BEM Unsyiah dan BEM IAIN Ar-Raniry. Mereka berencana untuk melakukan aksi menolak Darurat militer Aceh yang akan disyahkan 10 hari kemudian sebagai tanda partisipasi mahasiswa dalam permasalahan di tanah air. Rencana itu telah disusun saat Rapat koordinasi yang dipimpin oleh ketua BEM Unsyiah, Fauzan  Zaid, ditemani oleh Sekretaris Umum BEM Unsyiah, Al Hijri dan ketua BEM IAIN Ar-Raniry, Meurah Muda, serta teman-teman lain perwakilan setiap fakultas. 

Di balik persahabatan Al-Hijri dengan Fauzan, ternyata Hijri adalah seorang mata-mata intelijen yang sengaja mengawasi keadaan di ranah kemahasiswaan. Hijri dan anggota intelijen lain sedang merencakan sebuah operasi rahasia yang dinamakan ‘Operasi Pembebas’. Operasi gabungan militer dan polri tersebut akan menangkap sejumlah orang yang namanya terdaftar sebagai orang yang harus ditangkap baik dalam keadaan hidup atau mati. Hijri terlihat kaget ketika melihat daftar nama yang akan menjadi sasaran operasi Pembebas. Dari sejumlah daftar nama tersebut, terdapat satu nama yang tak asing lagi bagi Hijri, nama itu adalah sahabatnya sendiri, sahabat yang dia sayang, sahabat yang pernah satu kos dengannya. Meurah Muda.

Pada mulanya Hijri hanyalah mahasiswa biasa saja hingga peristiwa tragis menimpa keluarganya. Ayahnya yang baru saja keluar mesjid setelah shalat maghrib berjamaah ditembak dari jarak dekat oleh dua orang tak dikenal. Hal itu membuat sebongkah dendam di hati Hijri hingga ia bersedia untuk menjadi intelijen rahasia militer.

Tibalah hari rapat paripurna di DPRD, rapat yang dipimpin oleh ketua DPRD, ayah Fauzan sendiri. Saat ketua menyampaikan petisi mendukung darurat militer, dengan tiba-tiba Fauzan memotong dan membacakan petisinya sendiri dengan mengatasnamakan mahasiswa Unsyiah serta masyarakat Aceh. Pihak militer sempat berusaha menghentikan fauzan membacakan petisinya. Tapi dengan beberapa ilmu Aikidonya, Fauzan bisa tetap bertahan dan menjatuhkan pihak militer hingga pembacaan petisinya selesai. Setelah keluar dari ruangan barulah pihak militer memperlakukan Fauzan dengan sedikit keras. Fauzan dibawa ke polres dan terancam akan dipenjara. Hanya saja, berkat kedudukan ayahnya, Fauzan tidak mendapat sanksi yang berat, Fauzan hanya harus meminta maaf pada publik dan menyatakan bahwa Fauzan mengundurkan diri sebagai Ketua BEM Unsyiah.

Peristiwa yang menimpa Fauzan menyebabkan semua teman-teman dan keluarga mengkhawatirkan Fauzan. Apalagi Fauzan tiba-tiba menghilang. Selain itu, rencana Aksi menolak darurat militer terancam tidak dilaksanakan karena pihak kepolisian tidak memberikan ijin untuk melaksanakan aksi.

Disisi lain, meskipun kegelisahan juga menghampiri Hijri, tetapi Hijri harus tetap melaksanakan tugasnya, yaitu melakukan operasi Pembebas. Sasarannya adalah Meurah Muda. Hijri dan kelompok intelijen yang lain sudah berada di depan rumah Kos Meurah Muda semenjak sore hari, mengawasi setiap kejadian di rumah kos Muda. Ketika tepat pukul 09.00 malam, operasi dilangsungkan. Pintu rumah kos ditendang keras. Semua yang berada di dalam kos langsung panik. Setiap pintu kamar dibuka. Lalu tibalah giliran kamar Muda diperiksa. Saat pintu ditendang, ternyata sasaran yang dicari tidak ada dalam kamar. Kamar sudah dalam keadaan kosong. Hijri tahu, pasti rencana Operasi Pembebas malam itu telah bocor sehingga seseorang telah memberitahukan pada Muda.

Beberapa kilometer dari rumah kos Muda, Muda sedang berada di rumah sakit mengantarkan ayah Indah, teman kuliah Muda yang sedang sakit parah, untuk menjumpai putrinya. Muda bisa selamat dari Operasi Pembebas karena sebuah pesan yang dia sendiri tak tahu berasal dari siapa. Pesan yang disampaikan melalui halaman iklan pada sebuah koran. Pada halaman iklan telah dilingkari beberapa huruf dan nomor yang tersusun menjadi sebuah perintah agar Muda segera mengubungi nomor yang dimaksud. Setelah Muda menghubungi nomor tersebut, hanya sebuah petunjuk yang memerintahkan agar Muda segera pergi jauh dari Banda Aceh. Mudapun harus pergi secara diam-diam. Ternyata hal itu memang berhasil membuat Muda selamat. Tetapi Muda tak langsung pergi jauh meninggalkan Banda Aceh. Muda ingin menyelesaikan niatnya untuk membantu Indah agar segera sembuh dari sakitnya.

Esoknya, Muda bertemu dengan Hijri di Mushala. Muda mengajak Hijri berbincang. Ternyata Muda menceritakan semua kisahnya pada Hijri. Bahkan Muda menitipkan sebuah buku untuk Indah yang berisi semua kisah Muda serta kisah-kisah para sahabatnya, termasuk daftar nama jaringan GAM dan keberadaannya. Hijri sangat senang bisa bertemu dengan incarannya serta mendapat sebuah buku yang sangat berguna untuk informasi intelijen. Muda sangat peraya pada Hijri meskipun Muda tak tahu sebenarnya Hijrilah orang yang bertugas untuk menangkapnya.

Setelah bertemu dengan Hijri, Muda langsung berangkat menaiki bus menuju Medan. Tetapi perjalanan yang diharapkan akan lancar malah terkendala. Muda ditahan di salah satu pos militer sehingga luka parah akibat pukulan para militer tidak bisa dielakkan. Kemudian Muda dilarikan ke Rumah Sakit Sigli.

Sementara Muda sedang dirawat di Rumah Sakit Sigli, Fauzan telah merencanakan sesuatu hingga meminta semua aktivis mahasiswa untuk menghadiri rapat. Tentu saja semua orang datang karena ingin tahu penjelasan mengenai peristiwa saat Fauzan membacakan petisi di rapat Paripurna serta untuk mengetahui bagaimana kelanjutan masa jabatan mereka jika Fauzan mengundurkan diri sebagai ketua BEM Unsyiah. Saat rapat dimulai, ada satu hal yang berbeda dari Fauzan. Dia terlihat ceria dan tenang. Kemudian dia memulai pembicaraan. Tapi dia berkata bukan sebagai ketua BEM, melainkan sebagai teman. Fauzan ingin teman-temannya membantunya sebagai teman untuk tetap melaksanakan aksi menolak darurat militer. Tetapi ada salah satu teman yang tidak setuju dan pergi meninggalkan ruangan. Fauzan telah mengajak semua paguyuban serta aktivis di unversitas swasta lain. Meskipun di antara mereka ada yang tidak mendukung, Fauzan tetap akan melaksanakan aksi menolak darurat militer di Aceh.

Di sebuah sudut cafe, seorang yang tadi keluar dari ruangan tengah mengobrol dengan temannya dan merencanakan sesuatu rencana jahat untuk Fauzan. Rencana untuk menjatuhkan Fauzan.

Beribu-ribu kilometer dari Banda Aceh, tepatnya di Pulau sebrang. Tokoh-tokoh Aceh sedang mengupayakan agar darurat militer tidak disahkan. Mereka telah mengajukan dokumen inisiasi untuk diperlihakan pada Presiden, tetapi Presiden yang sedang sibuk belum sempat membaca dokumen inisiasi tersebut.

Esoknya, hari di mana darurat militer akan disahkan dan hari di mana aksi gabungan akan dilakasanakan, Fauzan terbangun dengan keadaan lemah. Hijri sempat bertanya apa yang terjadi pada Fauzan. Fauzan mengatakan bahwa dia tidak apa-apa. Setelah itu Fauzan langsung terbaring tak sadarkan diri. Sementara Hijri yang melihat itu  tersenyum tipis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s