Beranda » Cerpen » Pohon Kelapa, Pohon Persabatan

Pohon Kelapa, Pohon Persabatan

[Masuk ke dalam nominasi 15 Cerpen (Cerdak) Terbaik Majalah Story]

Karya Ramajani Sinaga

Nanda dan Marini, dua sahabat yang selalu setia sejak kelas VII hingga sekarang di kelas IX, mereka selalu satu kelas. Dan kebetulan mereka selalu menempati rangking 1 atau rangking 2 secara bergantian. Lebih kebetulan lagi, Nanda dan Marini sama-sama nge-fans berat sama Ariel Noah.

***

Teeeettt! Teettttttttt! Bel sekolah akhirnya berbunyi. Jam istirahat telah tiba. Para siswa berhamburan keluar kelas, termasuk dua pelajar terbaik di sekolah ini, Nanda dan Marini. Seperti biasanya, mereka selalu membeli somay Pak Amir. Tanpa diminta pun, Pak Amir sudah tahu, Nanda dan Marini sama-sama suka somay dengan campuran saus dan kecap yang banyaak.

Dua sahabat itu kemudian beranjak ke suatu tempat. Tempat dimana mereka pertama kali berjanji terikat dalam persahabatan yang begitu erat. Yaap, di bawah pohon kelapa dekat taman sekolah. Mereka sering menghabiskan waktu di tempat itu. Di batang pohon kelapa itu, tertulis nama mereka berdua: best friend forever Nanda Atiqah dan Marini Nauli. Pohon kelapa itu adalah pohon persahabatan bagi mereka berdua.

Kali ini mereka malah membuat perjanjian khusus di bawah pohon persabatan itu. “Kalau kamu yang dapat rangking 1, aku bolehi kamu nikah sama Ariel.” Ujar Nanda.

“Ah, mimpi kali bisa nikah sama Ariel!”

“Hmm.. maksudku juga itu, kalian cukup nikah di mimpi doank.”

“Huuu, biarpun nikah sama Ariel cuma dalam mimpi, bagiku itu sudah lebih dari cukup tau!”

“Tapi kalau yang ini aku serius, semester ini kalau kamu yang dapat rangking 1, aku rela kamu pedekate sama Jang Shan!” kata Nanda dengan nada serius.

“Beneran, kamu gak cemburu?” ledek Marini.

“Kan kamu juga suka Jang Shan?”

Marini menjulurkan lidahnya pada Nanda. Mereka tertawa bersama. Tanpa mereka sadari, Jang Shan dari jauh memperhatikan tingkah mereka berdua. 

***

Pengumuman juara kelas telah diumumkan. Marini dan Nanda tertawa bahagia. Kali ini Marini yang meraih rangking 1 dan tentu Nanda meraih rangking 2. Tiba-tiba Jang Shan menghampiri mereka berdua.

“Selamat Nanda..” ujar Jang Shan sambil menjulurkan tangan kanannya kepada Nanda. Jelas-jelas Marini kecewa, padahal ia yang mendapat rangking 1, nyatanya Nanda yang diberi selamat terlebih dahulu oleh Jang Shan.

Semakin hari, Marini juga tidak bisa pedekate dengan Jang Shan, karena Jang Shan memilih mendekati Nanda setiap harinya. Marini kecewa. Apalagi sangat terlihat bagaimana Jang Shan berusaha memberi perhatian  lebih pada Nanda. Ah, rasa kecewa itu perlahan membuat Marini berubah. Kecemburuan membuat Marini lupa akan arti persahabatan. Marini mulai menjauhi Nanda. Nanda tak membaca perubahan sikap Marini.

Marini melangkah sendirian ke bawah pohon kelapa. Ia menangis. Perlahan ia menghapus air matanya. Lalu ia menghapus namanya di pohon persabatan yang telah ia tuliskan dengan Nanda sewaktu mereka masih duduk di kelas VII dahulu.

“Maafkan aku Nanda. Aku harus menghapus namaku di pohon ini. Itu artinya, kita tidak…” suaranya terputus.

***

“Makan somay yuukk.” Ajak Nanda setelah mendengar bel istirahat berbunyi.

“Ah, aku lagi gak selera.” Jawab Marini dengan nada datar.

“Kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini kok berubah?”

“Nggak pa-pa.”

“Kalau ada masalah cerita donk.”

Marini berusaha tersenyum. Meskipun senyum itu kecut di hadapan Nanda.

***

Entah kenapa, tiba-tiba Nanda merindukan sosok sahabatnya, Marini. Sosok itu telah hilang. Marini mulai suka marah. Kerinduan pada sosok Marini begitu kuat.

Tanpa dia sadari, ternyata ia sedang berada di bawah pohon kelapa, pohon persahabatannya dengan Marini. Tiba-tiba Nanda tidak membaca nama Marini di batang pohon kelapa itu. Pasti ada seseorang yang telah menghapusnya.

“Apakah ini ada hubungannya dengan Jang Shan?” piker Nanda dalam hati. Nanda berusaha menghubungi Marini. Tapi tidak ada jawaban sama sekali.

***

“Good morning!” sapa Marini dengan senyum bahagia. Pagi itu Marini sangat berbeda dari biasanya.

“Morning.. kamu nggak marah sama aku?” tanya Nanda dengan nada ragu-ragu.

“Nggak.. Apa ada alasanku untuk marah padamu, Sayang.” Ujar Marini dengan Nada manja, seperti biasanya.

“Bukannya kamu marah karena aku dekat sama Jang Shan. Dan… dan kamu udah menghapus namamu di pohon persehabatan kita.”

“Maafin aku. Aku sadar, Jang Shan suka sama kamu, dan kamu suka sama Jang Shan. Kalian saling suka satu sama lain..” ujar Marini. Segera mungkin Nanda merangkul sahabatnya itu, setelah ia mengetahui semuanya.

“Maafin aku, Mar.”

“Udah-udah. Dan… dan hari ini aku senang banget.”

“Senang?” Tanya Nanda penasaran.

“Yap, tadi malam, aku mimpi nikah sama Ariel. Oh my Good. Dia persis pangeran dalam mimpiku. Itu mimpi paling indah..”

“What?”

“Itu udah cukup buat aku bahagia.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s