Beranda » Puisi » Nyak Laot

Nyak Laot

[Harian Umum Batak Pos, edisi 28 April 2013]

Karya Ramajani Sinaga

*Saya tidak berhasil mendapat foto cerpen saya yang ini, tapi saya hanya diberitahu lewat email oleh redaksinya, bahwa karya saya dimuat.🙂

Perempuan tua dengan rambut putih tergerai panjang sedang berkomat-kamit. Suaranya tidak terdengar begitu jelas. Aku dan nelayan yang lain sedang mengelilingi tubuhnya, kami membentuk lingkaran di atas pasir putih pantai. Beberapa menit setelah dia selesai berkomat-kamit, maka kami akan bertanya tentang keadaan laut saat ini kepada wanita tua itu. Jika wanita tua itu mengatakan keadaan laut sekarang ini tidak memungkinkan untuk mencari ikan, maka tidak seorang pun nelayan di sini yang berani pergi melaut. Ucapan perempuan tua itu seperti menjadi kepercayaan para nelayan di sini.

Kami sangat serius mendengarkan semua perkataan-perkataan perempuan tua itu. Perempuan tua itu kami panggil Nyak Laot. Tiada yang mengetahui nama asli Nyak Laot, kami memanggilnya dengan panggilan demikian, sebab Nyak Laot mengetahui semua hal tentang keadaan laut.

“Saat ini ini ombak laut tidak senang, kalian harus lebih berhati-hati kalau sedang pergi melaut,” ucap Nyak Laot dengan mata tertutup di hadapan semua para nelayan. Para nelayan bebas bertanya tentang keadaan laut kepada Nyak Laot. Tentu Nyak Laot akan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan kami.

“Ke arah mana kami harus melaut agar kami dapat banyak ikan, Nyak?” tanya seorang warga kampung kepada Nyak Laot.

Nyak laot diam sejenak. Terdengar seperti suara gemercik radio rusak dari mulut Nyak Laot. Lalu dia berkata: “Kalian pergi melaut lebih menuju ke arah selatan, di sana banyak ikan dan ombak tidak terlalu berbahaya,” jawab Nyak Laot dengan mata yang masih tertutup.

Aku masih ragu akan ucapan Nyak Laot, bagaimana mungkin dia dapat mengetahui jumlah ikan dan keadaan ombak laut sedangkan tubuh Nyak Laot sedang berada di tengah-tengah kami sekarang ini. Sama sekali aku tidak yakin akan ucapan Nyak Laot.

“Apa yang harus kami lakukan biar laut jadi tenang, Nyak?” bertanya lagi seorang lelaki bertubuh gelap. Dia juga seorang nelayan di sini.

“Kalian harus bersyukur atas karunia Allah, hasil tangkapan melaut bisa kalian bagikan kepada orang-orang yang kurang mampu dan orang yang sedang dalam kesusahan,” jawab Nyak Laot. Entah kenapa jawaban Nyak Laot demikian bijak. Apakah ruh yang sedang merasuki tubuh Nyak Laot adalah bagian dari ruh yang bertakwa kepada Allah? Aku memang pernah mendengar dari almarhum guru mengajiku dahulu, bahwa jin layaknya manusia, sebab ada jin baik (jin yang bertakwa kepada Allah) dan jin kufur (jin yang mendurhakai perintah Allah).

Nyak Laot sebenarnya tampak tidak berbeda dengan wanita-wanita tua yang lain. Namun setelah dia kerasukan ruh mahluk halus, Nyak Laot akan berubah  menjadi perempuan pandai dan mengetahui semua hal tentang keadaan laut. Nyak Laot selalu menuntun para nelayan yang akan pergi melaut. Dia ibarat jarum kompas, sebagai penunjuk arah bagi para nelayan di sini.  

Nyak Laot tidak pernah memerintahkan kami agar membuat sesajian (sesajen) kepada air laut. Nyak Laot tidak ingin kami terjerumus pada golongan orang-orang yang musyrik.

“Untuk apa kalian memberikan sesajen pada air laut, laut itu bukan Tuhan! Lebih baik kalian membantu orang-orang yang sedang dalam kesusahan. Sesajen itu tindakan yang mubazir di hadapan Allah SWT,” ucap Nyak Laot.

Entah kepada siapa lagi warga kampung ini akan bertanya tentang keadaan laut jika suatu saat Nyak Laot telah tiada, sedangkan semua warga kampung di sini menggantungkan hidup pada air laut sebagai nelayan.

***

Para nelayan sangat diresahkan oleh kabar dan berita tentang akan terjadinya bencana besar, sehingga banyak nelayan yang tidak pergi melaut. Aku dan para nelayan berduyun-duyun menemui Nyak Laot untuk bertanya kepadanya tentang kabar itu.

“Nyak, kami harus bagaimana? Kami sudah tidak punya apa-apa lagi kalau tidak pergi melaut?” tanya seorang nelayan kepada Nyak Laot.

Nyak Laot diam tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Dia tertunduk dengan bibir terkatup bisu.

“Aku semakin tua, sepertinya aku tidak mampu membantu kalian kali ini,” ucap Nyak Laot dengan suara pelan hampir tidak terdengar.

Kami duduk di atas pasir pantai membentuk lingkaran mengelilingi tubuh Nyak Laot. Kami bersedih dengan kepala tertunduk. Kami masih berharap agar Nyak Laot dapat membantu kami kali ini. Namun sepertinya Nyak Laot kehilangan kekuatan.

“Aku memang sudah tidak dapat membantu kalian,” ucap Nyak Laot dengan pendangan yang melemah. Semua nelayan diam kaku tanpa suara. Rambut Nyak Laot memang sudah memutih, bahkan tidak terdapat rambut berwarna hitam lagi.

Tiba-tiba tubuhku dingin dan bergetar hebat. Pandanganku menerawang ke segala arah. Aku merasakan sesuatu sedang melesat kedalam tubuhku. Bibirku berkomat kamit tidak dapat aku kendalikan. Semua pandangan para nelayan dan Nyak Laot tertuju pada tubuhku yang sedang kedinginan.

“Coba bertanya kepada dia?” ucap Nyak Laot. Aku masih terheran namun aku tidak mampu mengendalikan tubuhku.

“Apa yang akan terjadi?” tanya seorang nelayan kepadaku secara tiba-tiba.

“Bangsa ini telah tercoreng harkat dan martabatnya, negeri ini telah dikotori oleh orang-orang yang berbuat dosa. Mengotori pembuatan kitab suci Tuhan! Laknat! Mereka mengaku berbuat atasnama Tuhan, sedangkan mereka pencuri jahannam!” jawabku tanpa sadar. Entah kenapa bibirku dapat berucap kalimat-kalimat itu. Bibirku masih menyerocos tanpa mampu aku kendalikan.

“Apa laut sedang tidak senang sekarang?” tanya seorang lagi kepadaku.

“Laut tetap tenang. Kalian bisa pergi melaut ke arah utara. Di sana sedang banyak ikan. Tapi kalian harus tetap bersyukur akan karunia Allah,” jawabku tanpa sadar dengan tubuh yang masih bergetar hebat. Mataku masih tetap menerawang.

“Apakah ada bencana besar di negeri ini, ada berita jika pulau Sumatera akan tenggelam dengan gempa dan tsunami berkekuatan besar nantinya?” tanya seorang pemuda lagi kepadaku.

“Hanya kepada Allah SWT kita berlindung dari segala bahaya dan bencana. Kita harus kembali kepada jalan yang benar. Semua kehendak Allah,” jawabku tidak sadar lagi. Aku terheran kenapa bibirku dapat berucap demikian bijak. Kalimat-kalimat itu keluar dengan sendirinya dari bibirku. Tubuhku masih bergetar hebat.

“Jadi kami harus bagaimana?”

“Kalian harus membantu orang-orang kurang mampu di sekitar kalian, kalian juga membantu orang miskin dan aneuk yatim. Jangan hanya menimbun harta kalian sendiri tanpa membantu orang lain. Sekarang kalian bisa pergi melaut dengan membaca Bismillah,” jawabku lagi dengan bijak.

Beberapa detik kemudian aku tersadar. Badanku tidak bergetar hebat lagi. Dan pandangaku tidak menerawang. Sesuatu yang melesat pada tubuhku telah terasa keluar. Tiba-tiba semua para nelayan dan Nyak Laot tersenyum kepadaku, sedangkan aku masih terheran-heran tentang kejadian yang menimpaku barusan tadi. Aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa aku mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu? Kenapa jawabanku demikian bijak?

 Harian Umum Batak Pos

BIODATA:

Ramajani Sinaga, lahir di Raot Bosi, Sumatera Utara, 5 Oktober 1993. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester tiga Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s