Beranda » Artikel » Manusia Sakit

Manusia Sakit

Oleh: Mihar Harahap
[Harian Analisa, edisi 10 Maret  2013]
Ruang Rebana harian Analisa edisi Januari 2013 menampilkan cerpen “Danau Toba, Suatu Kisah” karya Ramajani Sinaga, “Gadis Penunggang Kuda” karya Beni Af, “Pembunuh” karya Budi P. Hatees dan “Garis Putus-Putus” karya Maulana Satrya Sinaga. Keempat cerpen ini menarik diapresiasi karena berhasil merangsang pembaca untuk lebih mendalami maknanya. Paling tidak, pembaca dapat memahami cerita yang mengungkap berbagai peristiwa antar manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Danau Toba, Suatu Kisah

Cerpen ini sangat sederhana. Hanya prihal Togar ( anak Medan, tak fasih bahasa Batak), yang pertama, pulang ke huta Ompung (desa Buhit Tao Toba Samosir) saat libur kuliah dengan tujuan menikmati alam pedesaan sekaligus belajar budaya Batak. Kedua, pacaran dengan Juli (anak juragan tambak, terkenal di Pulau Samosir) yang dikabarkan bersifat keras, kejam, bengis dan karena itu mereka pacaran secara diam-diam. Di kampus Togar juga mempunyai pacar, anak kampus.

Ketiga, Togar bermasalah. Memang, ketika dalam masalah, pecerpen memancing rasa keingintahuan pembaca (biar pembaca tertanya-tanya) dengan mengungkap persoalan secara perlahan. Togar telah menzinahi Juli yang sempat menghebohkan orang kampung. Ternyata selesai dengan mudah hanya karena Togar mengakui perbuatannya. Orang kampung yang semula marah besar, ayah dan inang bahkan memukul Togar sakin kesalnya, tiba-tiba bersikap baik dan masalahpun selesai.

Sehubungan dengan ketiga prihal inilah, patut dipertanyakan sekaligus merupakan koreksi. Pertama, apa yang melatarbelakangi ayah, inang dan orang-orang kam-pung menerima begitu saja pengakuan Togar, sementara perzinahan itu terjadi di desanya yang masih asri dan ketat budaya. Kedua, bagaimana sikap orangtua Juli ( dikenal keras, kejam, bengis) dan keluarga besarnya dalam menerima kenyataan ini. Sebab menurut estimasi pasti terjadi keributan besar yang belum tentu masalah akan selesai.

Gadis Penunggang Kuda

Cerpen ini menyajikan persoalan khas, mitos keperawanan. Sebagaimana cerita dari dulu hingga kini, seperti dialami Mirasih dituduh Firman tak perawan lagi yang berarti pernah melakukan hubungan badan dengan orang lain. Akibatnya baru 3 hari menjadi pengantin baru sudah bercerai. Bahkan kemudian memanas ke konflik keluarga kedua belah pihak karena dibumbui fitnah. Begitupun Frman ingin kembali tetapi Mirasih tetap bertahan, membesarkan anak hasil malam kedua dan tidak lagi menunggang kuda.

Mirasih memang penunggang kuda sejak kecil, hingga dewasa. Menurut Dr. Ina, seksiolog, ketebalan selaput dara tiap wanita berbeda. Mungkin selaput dara Mirasih tipis, hingga mudah terkoyak, misalnya akibat menunggang kuda. Bukan satu-satunya ka rena hubungan badan sebelum menikah. Penjelasan dokter ini menyadarkan kekeliruan Firman, sebab itu dia ingin kembali. Mirasih menolak karena merasa sakit hati, walau harus membesarkan Marsya (maunya nunggang kuda juga) seorang diri.

Tak tahu pasti apa gunanya mengungkap mitos ini kembali. Sebab andaipun kini terjadi seperti cerpen ini, tetapi dengan perkembangan pengetahuan masyarakat dan teknologi kedokteran sekarang, semestinya mitos ini tak perlu dipersoalkan lagi. Terlepas terasa bahwa 1).karakteristik Mirasih kurang berkembang karena diatur pecerpen, 2).Penjelasan dokter kurang profesional karena tidak spesifik dalam bidangnya dan 3).Tindakan Firman gegabah, tidak menunjukkan keintelektualannya sebagai seorang sarjana.

Pembunuh

Meski cerpen ini mengungkap persoalan biasa (petengkaran/pembunuhan) tetapi teknik pengugkapannya lumayan. Burju membunuh istrinya akibat konflikasi kejiwaan di mana 1).Sang istri menceraikannya (jadi bukan dia yang menceraikan istri), 2).Istri mengusirnya dari rumah (kebetulan rumah itu milik istri/mertua, 3).Dia menerima perceraian itu tanpa alasan ( tak penting apa dan bagaimana perceraian itu), 4).Da merasa gengsi dan har-ga diri sebagai laki-laki/suami dan 5).Dia merasa gelap mata karena diceraikan.

Memang apa dan bagaimanapun alasannya, membunuh itu merupakan suatu kejahatan, apalagi membunuh orang terdekat seperti istri sendiri. Akan tetapi -bukan bermak-sud sebagai pembenaran- konflik batin turut melatari peristiwanya. Sayang, latar itu tak terungkap dalam cerpen. Bila disingkap ketokohan Burju, dari luar, kelihatan peristiwa terjadi sangat situasional, individual dan emosional, sedang dari dalam, melukis-kan gejala manusia sakit, gelisah, galau dan penuh misteri.

Dialog pimpong antara ‘aku’/teman akrab (pemilik bengkel Dor Jeges di Amplas) dan ‘kau’ (Burju/pemilik skuter tua/pembunuh) cukup elegan, karakteristik dan berseni hingga rasanya kurang serasi diucapkan anggota masyarakat/profesi biasa. Begitupun ada beberapa kalimat yang tidak berkohesi/berkoherensi di antara dialog dan mempengaruhi makna. Juga tentang cara polisi menangani persoalan, terutama ketika aku dan Burju di-intograsi polisi, terkesan tidak profesional, kurang serius dan agak mengada-ada.

Garis Putus-Putus

Pecerpen menampilkan jalan pikiran tokoh ‘saya’ (sebagai abang/anak dari adik/ orangtua sebuah keluarga berada) yang mengidap penyakit sindrom/kelainan/kecatatan. Memang pecerpen tidak mengeksploitasi, melainkan mendeskripsi jalan pikiran itu dalam merespon kehidupan yang dialami dan dirasakan. Tampaknya, pecerpen ingin membuktikan bahwa manusia sindrom sekalipun dapat mengekspresikan jalan pikirannya. Atau menandai bahwa meski mengalami kelainan fisik, tetapi jalan pikiran tetap baik.

Disatu pihak, keluarga mengawasi ketat ‘saya’ ( di dalam/luar rumah ) karena pe- nyakitnya itu. Jangan sampai, apa yang dilakukannya, dapat membahayakan diri/orang lain. Di pihak lain, rumah dan pengawasan tidak relevan dengan jalan pikirannya. Mi- sal, dia tidak suka rumah (dinding, warna, lampu) dan keluarga (dipukul adik,makan menyisakan nasi). Karena itu, dia lebih enak ke luar rumah, berjalan, menyusuri garis putusputus di tengah jalan raya, meski para pengendara kemudian memakinya.

Ada apa dengan garis putus-putus? Deskripsi simbolis eksistensialis yang dimaknai dengan 1).Manusia itu adalah akalnya/jalan pikirannya, bukan fisiknya, 2).Hakikatnya manusia itu dalam keadaan bersih/baik, lalu dialah yang membuat kotor/jahat dan 3).Manusia itu hidup lagi berkembang dalam keteraturan, tetapi tidak menghalalkan segara ca-ra. Hanya, cerpen penuturan dengan sentuhan permukaan (belum menukik ke dalam) be-rakibat kurang berkembangnya karakteristik ‘saya’ sebagai tokoh cerita.

Menurut kita, dalam edisi pertama tahun 2013, keempat cerpen menampilkan manusia/tokoh/pelaku dan pengamanah cerita yang ‘sakit’ dalam melakoni kehidupannya. Manusia sakit: Togar, karena melakukan perzinahan dengan kekasih gelapnya. Firman percaya mitos dan Mirasih dendam kesumat. Burju membunuh istrinya, sementara orang-tua dan adik memandang rendah ‘saya’ Sakit, karena tekanan kehidupan, salah berpikir ataukah karena pengaruh latar manusianya? Perlu kajian lebih lanjut.

Penulis Kritik Sastra Sumut dan Dekan FKIP-UISU Medan

4 thoughts on “Manusia Sakit

  1. salam kenal.. Numpang baca2 ya..
    Boleh bertanya sesuatukah? Kalu kita ngirim karya ke media cetak spti analisa, medan bisnis, atw waspada, gima carany kita tahu klo krya kita dimuat? Ap harus pantu terus korannya atau ada pmberitahuan dri pihak redakturnya ?
    Terimakasih sbelumnya, semoga berknan menjawab🙂

    • Salam kenal kembali…
      kiti bisa mengirimkannya via pos atau via email..
      Kita memang harus memantau, karena tak semua media memberitahukan tanggal dan waktu pemuatan karya.
      Terima kasih sudah berkunjung🙂

      • terimakasih sudah menanggapi.
        nanya satu hal lagi boleh? kalau seandainya karya kita dimuat tapi kita tidak tahu, apakah pihak redaktur mau menghubungi penulis untuk membicarakan masalah honor?
        mohon maaf sebelumnya, makasih🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s