Beranda » Cerpen » Menghitung Detik Hari

Menghitung Detik Hari

Karya Ramajani Sinaga

[Harian Sinar Harapan, edisi 12 Januari 2013]

Deburan ombak laut menghempas pasir pantai. Membuat sampan-sampan yang terikat di bibir pantai ikut terombang-ambing. Langit kian pekat. Bulan tidak jua muncul pada permukaan langit. Angin pantai menghembus dingin. Lama kami diam membisu tanpa suara. Sesekali terdengar suara perut yang kelaparan. Ya, kami belum makan. Sejatinya kami lupa, entah ini hari keberapa kami belum makan.

Ini memang berat, tapi aku harus melakukannya. Meninggalkan mereka, anak-anakku. Aku dengan istriku pamit kepada Ibrahim, anak kami yang sulung. Setidaknya, kami harus percaya bahwa ia mampu menjaga adik-adiknya yang masih lugu.

“Jaga baik adik-adikmu selama bapak dan emak pergi, ya.” Pesan istiku dengan suara berat pada Ibrahim. Ia mengangguk pelan.

Sungguh, aku hampir menitikkan air mata seakan tidak sanggup meninggalkan tubuh mereka yang masih mungil. Meskipun, hidup yang kian getir ini bukanlah untuk diratapi. Lebih baik mereka tinggal di rumah dari pada harus ikut bersama kami mengarungi samudera demi menafkahi hidup yang semakin sukar. Tidak ada yang dapat kulakukan selain mencari ikan di laut. Ya, di laut. Uang simpanan telah habis dan hutang kepada tetangga semakin merajalela. Sementara ombak laut selalu mengamuk tidak pernaha tenang.

Aku dan istriku harus pergi mencari ikan sebanyak-banyaknya malam ini. ya, itu harus. Hal itu wajib kami lakukan demi menyambung hidup.

Siti, istriku, sebenarnya aku melarang ia ikut bersamaku malam ini. Tapi dia terus memaksa dengan alasan untuk membantu kala membentangkan jala di tengah-tengah laut. Padahal sudah kukatakan padanya, ombak laut sedang tidak tenang seperti dulu. Kusuruh agar dia beristirahat saja di rumah dan menjaga anak-anak. Laut sedang ganas. Dalam kondisi seperti ini, para nelayan lebih memilih berdiam diri dan menghabiskan uang simpanan dari pada harus pergi kelaut mencari ikan mempertaruhkan nyawa hidup. Di samudera, antara hidup dengan kematian.

“Ibrahim, jaga adikmu baik-baik ya. Nanti ayah akan belikan mainan mobil-mobilan pada kalian kalau ayah dan emak sudah pulang dari laut.” Janjiku pada Ibrahim. Lagi. Dia mengangguk pelan. Kulirik istriku yang tengah berusaha tersenyum kepada anak-anak. Aku tahu ada air mata yang mengambang di sudut matanya. Terkadang kemiskinan memang menghempas kebersamaan dan mengalahkan segala-galanya.

Aku mulai menarik sampan ke tengah-tengah laut. Membawa kami pergi berlayar mencari ikan. Anak-anak kami melambaikan tangan mereka. Mereka tersenyum bahagia mengharapkan semua janji yang telah kukatakan. Sementara sampan mulai berlayar membawa kami ketengah-tengah lautan. Lamat-lamat anak-anak kami yang mungil itu tidak terlihat lagi.

Suara ombak kian menggebu dan menghempas karang di dasar lautan. Sampan kami terus berlayar di lautan. Kulirik istriku sedang tertunduk dalam cahaya remang-remang di atas sampan. Dia diam. Aku tahu, ia sedang menangis. Ia hanya berusaha menyembunyikan rasa kesedihan itu dariku.

Ia memang jauh berbeda dari yang dulu. Kulitnya semakin menghitam legam, sebab terlalu sering terpanggang sinar matahari ketika ikut denganku menjala ikan di laut biru. Sangat berbeda waktu aku mengenalinya pertama kali dahulu. Ia memang berubah secara fisik, namun hatinya masih saja selembut dahulu.

Ketika kami sudah berada di tengah laut. Jala mulai kami bentangkan. Deburan ombak terus menganga membuat sampan kami terus terombang-ambing di tengah lautan.

“Bismillah… di laut-Mu, kami mencari rezeki yang halal.” Doaku dengan bibir yang bergetar sewaktu membentangkan jala ke laut.

Ketika kami tengah berusaha membentangkan jala untuk menangkap ikan, tiba-tiba sebuah ombak bergulung-gulung mendekati sampan kami. Ombak itu semakin mendekat. Aku berteriak.  Sampan kami terhempas ke dalam ombak yang bergulung-gulung itu.

Dinginnya air laut malam hari melumuri tubuh kami. Mulutku terbungkam air laut. Di tengah air laut kami terombang-ambing. Aku dan istriku berusaha berenang mencari daratan. Kukeluarkan seluruh tenagaku. Yang aku tahu pada waktu itu, aku terus memegangi tangannya. Sebagai seorang suami, aku wajib mempertaruhkan nyawa untuk melindungi dan menyelamatkan nyawanya.

***

Aku merasakan cahaya matahari tengah membakar kulitku yang hitam legam. Saat kusadari, aku dan istriku terdampar pada sebuah pulau kecil di tengah-tengah lautan. Kami selamat atas ombak yang bergulung-gulung tadi malam. Namun aku tidak melihat sampan kami.

Sejauh mata memandang, hanya hamparan air laut biru yang melenakan seperti tanpa akhir. Air biru membentang luas. Aku dan istriku berpandangan sejenak. Lalu kami hanya terdiam. Membisu tanpa suara.

“Pulau apa ini, Bang?” Istriku mulai bertanya, memecahkan keheningan. Aku hanya mampu menggelengkan kepalaku dalam diam.

Pulau kecil ini mati. Tidak satu tumbuhan pun yang dapat kami temui di pulau ini. Pulau ini hanya terdiri dari pasir putih yang membentang raya. Luas.

Aku terus berpikir bagaimana cara kami agar dapat keluar dari pulau mati ini. Andai saja sampan kami tidak terhempas ombak itu tadi malam. Aku mulai menceracau dalam ketakutan. Sementara istriku sudah menitikkan air mata. Oh, aku paling tidak tahan melihat seorang perempuan menangis. Aku berusaha menghiburnya agar dia tegar.

Hari pertama kami di pulau…

Kami tidak makan apa-apa. Sial. Tidak seekor hewan pun yang kami lihat untuk mengganjal perut kami yang tengah kelaparan. Aku terus berpikir mencari jalan keluar. Sementara cahaya matahari terus menusuk pori-pori kulit yang hitam. Membuat rasa haus dan dahaga semakin terasa di tenggorokokan.

Hari kedua…

Akhirnya kami harus meminum air laut karena kami sangat dahaga. Tidak ada cara lain demi mengobati rasa haus ini. Padahal, sebenarnya air laut itu hanya menambah rasa haus dahaga. Tapi tidak ada hal yang dapat kami perbuat selain dari meminumnya.

Aku masih berharap seorang nelayan melihat kami di pulau terpencil ini. Supaya kami dapat pulang meninggalkan tempat yang gersang ini.

Hari ketiga…

Kami semakin didera rasa lapar dan haus yang luar biasa. Kami mulai tidak berdaya. Kulihat mata istriku sangat lembap karena terlalu sering ia menangis. Aku sudah lelah membujuknya. Entah berapa lama lagi kami harus berada di tempat ini. Berapa lami lagi kami mampu menahan lapar dan dahaga di tempat ini?

***

Malam bersama suara deburan ombak. Bulan tampak bersinar terang. Menyinari kami berdua dalam diam. Rasa haus, dahaga, dan lapar telah menghilang. Serasa kami tidak merasakan apa-apa lagi.

Aku dan istriku terbaring di permukaan pasir. Dia di sampingku terbaring lemah, diam tidak bersuara. Kami lemah tidak berdaya. Dengan kelemahanku, aku menggenggam tangannya yang dingin menggigil. Kurasakan tangan kami bersatu. Aku berharap dia masih bertahan hidup.

Kami hanya menghitung hari di pulau mati ini. Menghitung hari yang tidak kami ketahui sampai kapan akan berakhir. Berapa lama lagi kami terdampar di pulau ini.

Kami terus memandangi bulan. Ya, bulan itu. Pasti anak-anak kami sedang menunggu kami di bibir pantai. Mereka menunggu semuanya. Menunggu mainan mobil-mobilan yang telah kujanjikan sebelumnya. Oh, anak-anakku pasti berbaris menghadap laut di tepi pantai. Anakku yang bungsu pasti sedang menangis karena terlalu lama menunggu kami berdua. Aku dapat melihat mereka. Ah, mereka pasti sedang menunggu kami dalam tangisan yang parau. Anak-anakku masih terlalu kecil. Mereka belum dapat hidup yatim-piatu.

Istriku masih tetap diam. Yang kuharapkan dia masih dapat menghirup udara malam dan melihat bulan. Sebab bulan itu yang akan membawa kami pulang. Aku terus menggengam tangannya dengan hangat.

Suatu saat kelak, entah kapan, orang-orang akan melihat kami masih terus berpegangan tangan. Ya, berpegang tangan, meskipun kami dalam diam dan tidak berdaya di pulau ini. Jiwa-jiwa kami yang kesepian akan selalu bersama. Berdua. Oh, rembulan, bawalah kami pulang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s