Beranda » Cerpen » Anak Padang Pasir

Anak Padang Pasir

Karya Ramajani Sinaga

[Sumber: Radar Seni, 10 Februari 2013]

Negaraku terhampar padang pasir. Sesekali butir-butir pasir suci terhempas oleh angin. Padang pasir di negaraku lazimnya permadani suci. Namun saban hari selalu terdengar suara senjata membahana di udara, membuat para kafilah-kafilah Arab tidak akan menginjak padang pasir di negaraku.

Tiada terdengar suara nyanyian anak-anak penggembala seperti zaman Rasulullah dahulu. Semua manusia di sini selalu menangis. Padang pasir negaraku gersang akan kedamian. Semua hampa karena kematian. Padang pasir negaraku menggerutu ketakutan karena selalu mencium bau darah manusia setiap saat.

Rumah-rumah di negaraku penuh dengan dinding yang berlubang. Meskipun kami menutup kembali lubang-lubang itu, lubang-lubang yang terbuat dari peluru itu akan selalu hadir seakan tiada pernah usai, karena senjata tidak pernah berhenti bersua pada negaraku yang gersang. Kami sengsara saat peluru-peluru melubangi rumah-rumah kami. Kami berlari tidak tentu arah bersama ketakutan.

Meskipun kematian selalu menghantui, namun kami tetap bersyukur atas limpahan karunia Ilahi. Sekalipun leher kami dipenggal oleh tentara-tentara berloreng yang tidak pernah kami kenali itu. Kami tidak akan pernah menyerahkan iman dan keyakinan, meskipun napas ini berhenti dan usai. Dunia fana ini, hanya sementara, ia akan usai jika sangkakala bersuara. ‘Mereka’ merayakan kemenangan dengan membunuh saudara-saudaraku, namun mereka tidak akan pernah mampu membunuh iman dan ketakwaan kami. Tidak! Kami akan tetap merdeka!

Saat khutbah jumat sedang berlangsung pada sebuah masjid di negaraku, tiba-tiba banyak peluru menggerutu dari semua arah dinding masjid. Kami berhamburan ketakutan. Sebagian jamaah salat jumat tubuhnya tertembus peluru tentara-tentara itu.

Tiba-tiba aku melihat pamanku sedang berlari ke arah tentara-tentara itu. Pamanku, Ihsan bin Umar, dengan suara lantang mengutuk orang-orang berloreng itu.

“Pergi kalian dari tanah kami! Allahu Akbar! Ini Bumi Palestina!” Seru pamanku dengan suara menggema di udara. Ia bersuara dengan lantang dan keras. Dan aku melihat kepala pamanku tertembus peluru-peluru tentara itu, namun aku melihat bibirnya tersenyum penuh kebahagiaan. Paman seperti merasa sedang menang pada sebuah pertempuran. Paman tetap bersuara takbir Tuhan. Tubuh paman kini bersimbah darah dan syahid atas kemenangan. Hampir aku berlari menuju tubuh pamanku, sebab aku ingin menemani tubuh paman yang kedinginan, namun ayah melarangku dengan keras.

Tentara-tentara itu lalu pergi tersenyum atas kemenangan. Kami masih diam dalam persembunyian. Mereka selalu merasa puas setelah menggerutu kedamaian ibadah kami. Mereka merasa bangga dan damai saat melihat jasad saudara-saudara kami terhampar dan bergumul darah di atas padang pasir! Mereka yang pernah menyeruakan bahwa beribadah adalah hak setiap orang dan setiap orang mempunyai hak untuk menikmati hidup atau kesejahteraan di hadapan dunia. Namun, entah kenapa mereka juga menganggu ibadah kami dan ketentraman hidup ini.

***

Tank-tank bersama peluru telah siap meledakkan tubuh kami. Para tentara itu seperti pasukan pengibar bendera berjejer rapi menghadap negara kami. Sedikit saja aku melangkahkan kaki ke arah mereka, tentu peluru-peluru mereka itu akan mencabik-cabik tubuhku. Menyeruak. Menghantam.

Aku masih menatap tentara-tentara itu dari jauh. Mereka terlihat seperti noktah-noktah kecil. Namun ‘mereka’ bukanlah noktah kedamaian. Mereka seperti harimau lapar yang siap menyergap mangsa dengan perut keroncongan. Dan sebenarnya salah satu mangsa yang sedang mereka inginkan adalah diriku sendiri.

Dahulu, Rasulullah pernah melakukan isra’ mikraj perjalanan malam dari mesjid Al-Haram di kota Mekkah ke sebuah mesjid pada negaraku ini. Tentu kau tahu tentang sejarah itu, bukan? Itulah sebabnya, walaupun saban hari peluru membahana di negeriku sendiri, sejatinya kami seperti belum merdeka, tapi kami tetap bahagia dan tersenyum penuh kedamaian. Aku tetap bahagia karena Rasulullah pemimpin umat pernah bertandang ke negaraku kala melakukan perjalanan malam itu. Itu perintah Tuhan.

***

Malam bersama hamparan padang pasir sangat dingin. Sesekali angin malam berhembus menusuk lubang pori-pori kulitku. Siang hari hawa panas menyangat kulit, namun malam sangat dingin menusuk kalbu yang sedang menggigil kedinginan.

Sebagai seorang anak lelaki, aku harus berjaga-jaga di luar rumahku. Tentara-tentara itu kapan saja bisa menyerang kami.

Kapan perang ini akan berhenti dan usai di tanah kami?

Kenapa kami diperangi?

Ini tanah milik siapa?

Mengapa bau amis darah tidak kunjung sirna?

***

Pukul sebelas malam, saat mengetahui suasana sudah mulai aman. Kami meninggalkan tempat pengungsian dan kembali ke rumah. Kami beristirahat dengan tenang. Namun tepat pukul dua malam, peluru-peluru kembali menembus rumahku. Aku ketakutan dengan tubuh mengigil. Pada saat itulah, seseorang yang paling aku sayangi, ayahku, habis dibantai oleh peluru ‘tentara-tentara jahannam’.

Ayah dan pamanku habis dibantai peluru. Saudara-sudaraku menangis bersama kepedihan. Entah kapan perang berdarah ini akan selesai dan usai. Padang pasir yang terhampar pada negaraku hanyalah kesedihan. Kepada siapa aku harus mengirimkan surat perdamaian? Kepada siapa aku harus mengirim surat tentang Hak Asasi Manusia?

Setetes air hangat terbit dari dua bola mataku saat mengingat semua kejadian masa-masa kesakitan.

“Sebagai lelaki Palestina, pantang bagimu untuk meneteskan air mata. Belajarlah dari perjuangan Rasulullah, karena siapapun sebenarnya dan pasti akan mengalami kematian.” Terdengar suara ibuku yang sudah berada di sampingku. Aku menyeka air mata.

“Berapa umurmu sekarang?”

“Delapan tahun. Besok aku harus berperang melawan tentara kafir itu, umurku sudah cukup untuk syahid, Ibu.”

“Jangan! Kau harus menjaga adik-adik dan saudaramu. Kasihan orang-orang tidak berdosa yang menjadi korban. Gaza kita harus damai.”

***

Kepalaku manggut-manggut karena didera rasa kantuk. Tiba-tiba sebuah bayangan hitam berkelebat tampak pada sebuah lorong di antara rumah-rumah warga. Pastilah bayangan itu mata-mata pasukan tentara-tentara yang akan menyerang kami malam ini. Aku mengikuti bayangan hitam itu. Kuinginkan pemilik bayangan itu mati di tanganku sendiri seperti mereka membunuh ayah dan pamanku. Tapi bayangan itu bergerak sangat cepat.

Bayangan itu menghindar dariku. Aku terus mengejarnya. Napasku terengah-engah. Ternyata bayangan hitam itu menuju ‘tentara-tentara kafir’. Sudah benar pikiranku, tentu bayangan hitam itu adalah mata-mata mereka yang akan melaporkan pada komandan tentang kondisi kemananan di tempat kami ini.

Aku bersiap-siap mengabarkan kepada warga lain kalau kondisi sedang tidak aman, namun tiba-tiba terdengar suara senjata membahana bersama suara seorang wanita. Terdengar suara seorang wanita berteriak: Allahu Akbar!

Tubuhku mengigil kedinginan. Sepertinya aku mengenal suara wanita itu. Suara yang menemaniku dalam suka duka.

***

Keesokan harinya, seorang wanita terbaring tanpa nyawa di dekatku. Aku menangis. Melolong. Aku memeluk tubuhnya. Tubuhnya dingin bersimbah darah. Ia salah satu wanita Gaza paling perkasa. Dia wanita besi. Dia ibuku. Dia sosok bayangan gelap yang telah aku lihat tadi malam. Bayangan yang telah aku sangka seorang mata-mata dari tentara kafir.

Terdengar berita ke seluruh pelosok negara kami: seorang wanita berjubah dan bercadar hitam mencoba melawan tentara-tentara kafir. Wanita itu telah syahid. Wanita itu ibuku.

Ibu rebahkanlah jasadmu dengan damai di pangkuan Tuhan. Negeri kita akan segera damai, Ibu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s