Beranda » Cerpen » Cokelat

Cokelat

Karya Ramajani Sinaga

Nury seperti mendapat hidayah dari langit. Biasanya dia selalu tampil tomboy dan tidak kenal yang namanya bedak, sisir, apalagi nama-nama kosmetik mahal. Nury selama ini punya motto hidup: mending beli makan buat kenyang dari pada beli kosmetik cuma ngabisin uang. Tapi beberapa waktu ini, Nury berbeda dari biasanya dan melupakan motto hidupnya itu. Nury telah memenuhi catatan buku diary-nya dengan berbagai macam nama kosmetik dan kegunaannya.

Foundation: alas bedak, dipake sebelum pake bedak, bedak: ada yang tabur ada yang padat, warnanya harus sesuai sama kulit wajah, deodorant: biar nggak bau ketek, parfum: biar wangi kayak bidadari turun dari kahyangan, lipstick: biar seger dan menggemaskan, eyeliner: biar mata tambah cantik, mascara: biar kalo kedip-kedip tambah cling-cling. Dan, masih banyak alat kosmetik kecantikan lainnya yang tertulis, hingga berlembar-lembar, sampai lulur dan masker pun ikutan dalam daftar buku diary Nury.

Akhwa, adik Nury paling cute sedunia, bingung bukan kepalang melihat kakaknya berubah drastis seperti itu. Apalagi akhir-akhir ini ia sering melihat kakaknya berlama-lama sambil senyum-senyum sendiri di depan kaca hias.

Akhwa semakin penasaran. Akhwa merunut kalender, mungkin ada hari yang spesial, tapi nyatanya nggak ada angka yang dilingkari. Kenapa kakaknya jadi rajin banget bersolek? Apa kakaknya itu akan mengikuti Miss Universe ajang kecantikan perempuan sedunia?

***

Mata Akhwa terbelalak saat membaca status fesbuk kakaknya: Alhamdulillah, hari ini aku nyelesain satu cerpen dengan baik, aku bersyukur pada-Mu, Gusti Allah…

Akhwa kaget bukan kepalang membaca status fesbuk kakaknya itu. Malaikat mana yang berhasil membuat kakaknya itu berubah drastis. Kenapa tiba-tiba kakaknya jadi rajin banget nulis-nulis? Sejak kapan coba! Sepengetahuan Akhwa, kakaknya itu paling malas yang namanya merangkai kata. Ah, jangankan buat nulis cerpen, bacanya aja kakaknya itu palinmg malas. Ini pasti mimpi, gumam Akhwa dalam hati. Pelan-pelan Akhwa masuk ke kamar kakaknya. Didapatinya sang kakak sedang bersolek di depan kaca.

“Kakak kenapa sich? Akhir-akhir ini kok sering nongol depan kaca. Habis itu malah suka nulis cerpen lagi. Ada apaan sich kak?” Tanya Akhwa dengan wajah manyun penasaran.

“Valentine,” jawab Nury sambil mencoba maskaranya di depan kaca hias.

“Emang kenapa kalo Valentine?”

“Kata orang-orang Valentine kudu cantik, kudu wangi, biar makin romantis.”

“Emang mau ngapain?” tanya Akhwa keheranan.

“Mau nonton layar tancep di kelurahan.”

Akwa mangap. Sepengetahuannya, layar tancep di desa Baja Dolok cuma ada kalau pas hajatan sunatan atau kawinan. Itupun JIKA ADA! Sebab, banyak anak-anak yang udah pada sunatan tapi nggak pake layar tancep.

Akhwa semakin penasaran melihat perubahan Nury. Akhwa ingat, Paman Google selalu tahu banyak hal. Kali ini ia bermaksud menanyakan Valintine pada Paman Google. Meskipun tinggal di sebuah desa kecil, Nury dan Akhwa tidak ketinggalan informasi, karena ada internet yang bisa mereka gunakan di perpustakaan desa.

Akhwa semangat mensearch kata Valentine di Google. Kata Om Google, Valentine itu ada banyak macam sejarahnya. Tapi Akhwa paling suka sejarah Valentine versi hari raya Santo Valentinus. Konon, pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis mempercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Akhwa mangap lagi. Nah, nah, jangan-jangaann… kakaknya itu udah siap menikah. NIKAH? Ha?

Dengan langkah tergesa-gesa Akhwa pulang ke rumahnya. Buru-buru dia masuk kamar kakaknya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Didapatinya sang kakak sedang asyik membaca buku Maurin.

“Kakak…. Siapa yang mau kakak kawini? Hilal, Chogah, Pensies, atau Zibril?”

Nury melongo melihat adiknya. “Chogah?? Aihh, kakak nggak mau sama yang cekiiing… Seleraku itu kayak cowok-cowok Super Junior tau.”

Akhwa terdiam. Sejak kapan coba kakaknya itu jadi suka Super Junior. Padahal sepengetahuan Akhwa, kakaknya itu dari dulu nggak suka sama Boyband.

Melihat perilaku kakaknya yang berbeda dari biasanya, Akhwa bermaksud mengintai gerak-gerik kakaknya itu di sekolah. Dia pingin tau siapa orang yang sudah berhasil merubah sifat kakaknya. Mungkin seorang siswa yang ganteng telah membuat hati kakaknya itu keseng-sem. Sekolah Nury dengan Akhwa berdekatan alias bertetangga karena satu perguruan. Sehingga, Akhwa yakin ia pasti dapat mengintai Nury dengan sangat mudah.

***

Teet.. teet.. terdengar suara bel sekolah sebagai pertanda waktu untuk beristirahat telah tiba. Akhwa mulai menjalankan aksinya. Dari jarak jauh pake teropong kecil, Akhwa memperhatikan satu demi satu para siswa di sekolah, namun tidak ada kakaknya. Sementara di dalam kelas, Nury sedang asyik membaca buku Maurin. Tiara, sahabat karib Nury juga heran melihat tingkah Nury akhir-akhir ini.

“Yuuk ke kantin, aku udah lapar benget nih.” Ajak Tiara.

“Hmm.. kamu aja deh. Aku lagi diet nih.” Jawab Nuri dengan buku Maurin masih di genggaman tangannya.

“Eh.. Biasanya kamu langkah seribu ke kantin kalo bel istirahat udah bunyi.”

“Aku lagi nggak selera tau.”

“Nggak selera apa nggak selera..” Goda Akhwa. Akhirnya Tiara meninggalkan Nury yang masih asyik membaca buku.

Akhwa ingin menjadi penulis paling cantik. Kali ini mata Nury tertancap pada seorang siswa cowok bertubuh tinggi dan berlesung pipi di luar kelas. Jantung Nury tiba-tiba terguncang. Laki-laki itu bernama Doni. Dia cowok yang pintar nulis di sekolah. Bahkan selalu memenangkan perlombaan ajang kepenulisan. Buru-buru Nury mengambil sebuah buku dari tasnya dan menemui Doni di halaman sekolah.

“Haii..” Sapa Nury dengan gugup.

“Hai juga.” Jawab Doni dengan senyum mengembang. Mereka saling berbicara dan berpandangan.

“Kamu kan pinter nulis. Di buku ini ada cerpen Nury spesial Valentine. Aku minta masukannya ya..” Pinta Nury dengan menyodorkan sebuah buku.

“Boleh..” Jawab Doni dengan senyum. Jantung Nury semakin dag-dig-dug saat dua bola mereka sealing bertemu.

“Karena udah mau baca cerpenku. Ini buat kamu..” Kata Nury sembil menyodorkan sebatang cokelat sebagai tanda kasih sayang. Doni menerimanya. Sedangkan dari jauh, Akhwa tersenyum lebar melihat tingkah kakaknya itu.

“Oh, jadi itu cowok yang udah buat kakak berubah drastis. Cowok itu beda sama Chogah yang cekiing. Pantesan aja kakak jatuh cinta. Papa dan Mama harus tau kabar gembira ini,” gumam Akhwa dengan semangat 45.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s