Beranda » Artikel » Senyum Pahlawan Tangis Si Miskin

Senyum Pahlawan Tangis Si Miskin

Oleh Mihar Harahap

[Sumber: Harian Waspada, 31 Desember 2012]

“Ia dikejar penjajah. “Laknat kalian penjajah!” katanya/Sebuah peluru menghunus tubuhnya/Membuat senyum mengembang dari bibirnya/Menahan sakit yang diderita/Ia terbaring memeluk senjata/Mengingat anak istri menunggu di rumah/Dari tubuhnya mengalir darah/Asa dan cita telah tercapai/Ia hanya ingin negeri ini merdeka!” (petikan puisi “pahlawan” karya Ramajani Sinaga)

Bentuk puisi ini sederhana, biasa-biasa saja, bahkan dengan segala kekurangannya, akan tetapi saya menangkap ada makna lain (entah diilhami pemuisi lain atau tidak) yang ingin disampaikan. Begini, kalau peluru menghunjam tubuh, biasanya orang akan mengaduh, mengerang kesakitan. Pada puisi ini ini, ‘ia’ yang dikejar penjajah, tertembak, menumpah darah dan menahan sakit, tetapi tidak mengerang, tidak menyesal sedikitpun, melainkan tersenyum. Senyum pahit karena senyum menahan sakit.

Dalam kondisi gawat darurat dan senyum pahit disakratul maut itulah, ia ingat anak istri. Bahkan ia sadar, sepeninggalnya, nasib anak menjadi yatim, sedang istri menjanda. Namun ‘asa’ dan ‘cita-cita’ (kemerdekaan bangsa suatu negara) menurutnya, melebihi kepentingan anak-istri, kepentingan sanak-keluarga atau kepentingan apapunn. Jadi, ia telah perjuangakan kemerdekaan dengan keikhlasan dan pengorbanan, selanjutnya biarlah bangsa-negara memelihara anak-istrinya, sedang Tuhan akan melindunginya.

*Penulis adalah Kritikus Sastra dan Dosen FKIP-UISU Medan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s