Beranda » Artikel » Bertemu Hasan Al Bana di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU)

Bertemu Hasan Al Bana di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU)

Hehe, beliau sosok yang humoris jugašŸ˜€ bagi yang belum tahu siapa Hasan Al Bana, ini dia sedikit cuplikan profil beliau. cekiduut..

Hasan Al Banna lahir di Padang Sidempuan, 3 Desmber 1978. Menyelesaikan SD, MTsN, dan MAN 1 Padang Sidempuan serta menyelesaikan Program S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Universitas Negeri Medan (Unimed). Mulai menulis sejak bergabung dengan teater LKK Medan tahun 1999, antara lain tersebar di Mimbar Umum, Analisa, Waspada, Medan Bisnis, Harian Global, Andalas, Riau Pos, Sagang, Sabili, Lampung Post, Suaru Pembaruan, Republika, Suara Merdeka, Jurnal Nasional, Jurnal Cerpen Indonesia, Koran Tempo, Kompas, Horison, Tapian, dan Gong.

Sejumlah cerpennya juga terangkum dalam antologi bersama penulis lainnya.

Ia kerap terlibat (sebagai kru, pelakon, penulis naskah, dan sutradara) dalam berbagai pementasan teater bersama teater LKK Generasi, teater LKK Unimed, Teater Siklus Ind. Art, Teater Patria, antara lain di Medan, Banda Aceh, Padang, Pekan Baru, Lampung, Jakarta, serta Yogyakarta. Kini bekerja di Balai Bahasa Medan, juga dosen luar biasa di FBS Unimed.

Ini foto yang lebih lucu, entah kapan lagi bertemu dengan beliau.šŸ™‚ Banyak orang yang sangat menyukai cerpen-cerpen Hasan Al BanašŸ˜€

Di sini saya merasa kren, padahal belum ada apa-apanya dibandingkan dengan beliau.

Berikut saya muat salah satu tulisan mengenai beliau, tapi saya lupa siapa penulisnya. Selamat membacašŸ™‚

Tak Sudi Menanggalkan Jubah ā€˜Kegelisahanā€™

Ā Hasan Al Banna, nama lengkapnya, mengingatkan kita padaĀ  cendekiawan muslim asal Mesir yang banyak dikagumi orang karena kecerdasannya, keunikannya, dan semangatnya yang besar dalam berdakwah. Hasan Al Banna yang akan kita bicarakan ini, pria tampan kelahiran Padangsidimpuan, 3 Desember 1978, namanya memang belum sebesar tokoh Hasan Al Banna asal Mesir itu. Tetapi, soal prestasi dan sepak terjangnya di dunia sastra dan teater, kerap membuat bibir kita melontarkan decak kagum.

Hasan mulai senang membaca puisi sejak masih duduk di bangku SD, namun ia baru benar-benar jatuh hati pada dunia sastraā€”terutama dalam menulisā€”ketika menjadi mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan (Unimed). Tahun 1999, Hasan mulai berkecimpung di Teater LKK Unimed. Saat itulah, sedikit demi sedikit, pria keturunan Minangkabau ini membangun kerajaan mimpinya di dunia yang aktif digelutinya sekarang.

Menapak tilas proses awal kepenulisan seorang Hasan, berarti mengingat segala ā€˜ketidakmudahanā€™. Dulu, Hasan ā€˜rajinā€™ berjalan dari kantor surat kabar yang satu ke kantor surat kabar yang lain, menitipkan karya dengan harapan agar dimuat. Satu-dua karya memang dimuat, tetapi lebih banyak yang tidak diketahui nasibnya. Berulang-ulang terjadi demikian. Alih-alih jera, Hasan malah menikmatinya.Ā  ā€œSungguh, ā€˜ketidakmudahanā€™ itu bagi saya, sesuatu yang indah untuk dikenangā€¦ā€ demikian pengakuan putra pasangan almarhum Emsi dan Darlis ini. Ya, Hasan adalah sosok yang tidak meyakini segala sesuatu yang instan, termasuk dalam proses berkarya. Jalanan terjal terus dijajal, hingga akhirnya memberikan buah yang manis. Dan tentu saja, peran keluarga besar dan keluarga kecilnya, yakni sang istri, Dewi Haritsyah Pohan, dan cahaya mata mereka, Embun Segar Firdaus, sangat bermakna. Dukungan penuh dicurahkan pada segenap aktivitas Hasan. Siapa menduga, ternyata sang istrilah yang selalu menjadi penyunting pertama atas karya-karyanya. Boleh dikata sang istri mungkin awam sastra, meski menyenangi sastra. Tetapi, pada banyak debat terhadap hasil karya Hasan, kerap muncul hal-hal yang mengejutkan, menggairahkan, dan mengesankan. Sastra, ternyata bisa melangitkan kekaguman dan rasa cinta antara Hasan dan istri, bahkan juga mungkin menjadi salah satu faktor perekat hubungan yang paling ampuh dalam mahligai sepasang sejoli yang selalu terlihat serasi ini.

Sebagian orang mengatakan kalau dunia menulis tidak menjanjikan apa-apa. Tapi kenapa Hasan malah ā€™beraniā€™ terjun total ke dunia ini? Pengagum AA. Navis dan Hamsad Rangkuti ini tersenyum bijak. ā€Saya Ā paham atas pendapat khalayak yang mengatakan bahwa menulis tidak menghadiahkan apa-apaā€”terutama terkait finansial. Namun, saya pun sangat paham atas kenyataan bahwa saya mendapat banyak hal dari menulis, termasuk materi. Masalah banyak atau tidak materi yang didapat, tentu Ā sampai bunuh-bunuhan pun tidak akan selesai dibahas. Prinsip saya, sejauh mana tingkat keyakinan dan ketekunan dalam mengerjakan sesuatu hal, maka sejauh itu pula hasil yang didapat,ā€ demikian urainya.

Kini, karya-karya Hasan berupa cerpen, puisi, dan esai, gencar menghiasi berbagai media lokal dan nasional. Beberapa antologi telah dibukukan. Sejumlah penghargaan diraih. Yang sangat membanggakan, cerpen Hasan yang berjudul ā€œTiurmaidaā€ masuk dalam antologiĀ 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008Ā (PT. Gramedia Pustaka Utama:2008) versi Anugerah Pena Kencana Award. Kabar teranyar, cerpen ā€œKurikā€Ā  buah karya bungsu dari lima bersaudara ini, dimuat di Jurnal Cerpen Indonesia edisi Januari 2009. Sekadar informasi, dari 512 cerpen yang ada, hanya 19 yang terpilih, danĀ  cerpen Hasan ituĀ  salah satunya.

Para sastrawan Sumut menyebut-nyebut Hasan sebagai penulis muda yang produktif melahirkan karya-karya menawan. Banyak pula pembaca yang menyanjung kalau cerpen Hasan memberikan ā€˜sensasiā€™ baru kepada mereka dalam menikmati sebuah karya sastra. Kisah-kisahnya mantap, kalimat demi kalimat yang mengalir begitu puitis dan sangat pas padu-padannya. Mengenai hal ini, Hasan berkomentar, ā€Untuk menyelesaikan sebuah fiksi, saya harus kaya segala-galanya. Kaya baca, kaya data, kaya fakta, kaya referensi, kaya kreativitas, kaya proses, kaya kesabaran, dan kaya imajinasi!ā€ Jangan terkejut, Hasan bisa membutuhkan waktu lebih dari 2 tahun untuk mengolah 1 judul cerpen! Semua ini dilakukan demi merampungkan sebuah karya yang berkualitas.

Di samping menulis, Hasan juga bergulatĀ  dalam berbagai pementasan teater dan pertunjukan sastra. Beberapa kali ia terlibat dalamĀ  pagelaran yang digelar di Medan, Banda Aceh, Padang, Pekanbaru, Jambi, Lampung, Jakarta, dan Yogyakarta. Di bidang ini, tak sedikit prestasi yang ditorehkan oleh putra daerah yang sehari-harinya bekerja sebagai PNS di Balai Bahasa Medan, Depdiknas. Hasan Ā memenangkan cukup banyak perlombaan baik kiprahnya sebagai pelakon, maupun sutradara.

Pria yang pernah mengikuti Program Penulisan Esai Mejelis Sastrawan Asia Tenggara (MASTERA) di Banyuasin, Sumatera Selatan (2004), Festival Puisi Internasional di Medan (2007), Pentas Penyair se-Sumatra di Batam (2007), dan Temu Sastrawan Indonesia 1 di Jambi (2008) menegaskan, ā€œBagi saya, karya yang ditekuni dengan kesungguhan, kejujuran, kerja keras, dan diiringi tabur doa, dengan sendirinya akan menjemput pujian.ā€

Disela-sela kesibukannya, Hasan masih dengan senang hati memenuhi undangan menjadi pembicara, instruktur pelatihan menulis, dan dewan juri sayembara menulis dan baca sastra. Beberapa waktu lalu ia mendapatkan kehormatan membacakan sajak-sajaknya yang bertema HAM di Konsulat AS di Medan. Gurat semangat untuk berkarya akan terus hidup dalam pribadi seorang Hasan Al Banna. ā€œSaya bakal tidak sudi menanggalkan jubah ā€˜kegelisahanā€™ dari tubuh saya, meski kian hari kian lusuh, kian kumuh. Tentu ā€˜kegelisahanā€™ tentang apa saja. ā€˜Kegelisahanā€™ yang datang dari mesin kepekaan saya sebagai manusia. Semakin lusuh dan kumuh jubah ā€˜kegelisahanā€™ saya, semakin terpacu saya untuk berkaryaā€¦!ā€ demikian tutup pria yang baru-baru ini diutus oleh Teater GenerasiĀ  (Jaringan Teater Sumatera) untuk mengikuti pelatihan Ā sutradara di Lampung (bersama tentor Putu Wijaya), sambil tersenyum.

Ini dia foto yang terakhir dengan beliau. Karya-karya beliau sangat luar biasa. Suatu saat, saya harus seperti beliau. AmiinnšŸ™‚

2 thoughts on “Bertemu Hasan Al Bana di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s