Beranda » Curhat » Ketika Cerpen Pertamaku Dimuat di Media

Ketika Cerpen Pertamaku Dimuat di Media

[Oleh: Ramajani Sinaga]

SAAT itu saya baru menjadi mahasiswa baru angkatan 2011 pada sebuah universitas negeri dan terbesar di Aceh. Kamu pasti bisa menebak gimana rasanya menjadi mahasiswa baru. Kesana-kemari waktu itu menggunakan angkutan umum alias angkot atau labi-labi dalam bahasa Aceh, sebab belum memiliki sepeda motor atau kreta dalam bahasa anak muda Medan. Pada akhir-akhir bulan November 2011, semangat menulis semakin tinggi, berbagai motivasi dari abang-abang leting agar menyarankan mengirim tulisan ke media cetak (koran).

Salah seorang teman seangkatan telah menulis puisi dan berhasil dimuat pada sebuah koran ternama di Aceh. Wah, great!! Lalu, saya kapan dimuat? Dia bisa kenapa aku nggak? Dia makan nasi dan aku juga makan nasi? Hehe..

Waktu itu saya kirim naskah pertama saya ke media terbesar itu. Dengan membaca ‘Bismalah’ saya kirim. Hari minggu saya intip-intip koran di kedai kopi (di Aceh amat banyak kedai kopi). Saya berharap ada pemuatan. Saya buka dan cari-cari lembaran rubrik ‘sastra’. Waktu itu saya belum tahu-menahu halaman berapa rubrik sastra di koran tersebut. Alhasil, dapat halaman rubrik sastra, tapi tidak ada nama saya. Saya kecewa, tapi harus tetap semangat. Ya, harus semangat! Seperti lagu Bondan Prakoso—tetap semangat!

Jauh dalam pirikan saya dan lubuk hati saya yang amat dalam dan sedalam-dalamnya (lebay), apakah karena saya memakai nama pena Ramajani Sinaga, jadi tidak dimuat?? apakah tulisan atau karya marga Sinaga (alias marganya suku Batak) tidak laku di Aceh? Saya penasaran tapi tetap serius dalam hal menulis. Saya perbaiki cerpen-cerpen saya, salah satunya memperhatikan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Hari selasanya saya kirim cerpen saya yang berjumlah empat. Wah, empat? Banyak amat, Mas. Hehe. Atas dasar saran Abang leting, kalau kirim karya sebanyak-banyaknya ada kemungkinan dimuat salah satunya, makanya saya menjalankan ide ini. Dengan membaca ‘Bismillah’ saya kirim tuh cerpen saya yang jumlahnya empat. Nggak sayang tuh empat-empat dikirim ke media yang sama, Mas? Namanya belum punya nama dalam dunia kepenulisan, no problem.

Hari minggu tiba—hari yang amat saya tunggu-tunggu. Orang tua saya datang dari kampung, kata mereka mau beli sepeda motor atau kreta dalam bahasa anak Medan untuk saya. Wah, tepat sekali! Mudah-mudahan cerpen saya dimuat hari ini, supaya bisa nunjukin karya langsung sama orang tua.

Paginya, saya ke kedai kopi. Saya buka koran. Jantung saya terguncang, hehe, saya deg-degan. Dimuat nggak ya cerpen saya? Ya Allah, berlilah hamba-Mu ini ketabahan jika tidak dimuat. Saya buka lembar budaya sastra. Dan, wah, di koran tersebut tertulis nama Ramajani Sinaga dengan judul cerpen Ayah Merindukan Mekkah. Idiiiih. Dunia seperti mau terbang. Saya merasa sedang berada di tengah salju, atau di tengah-tengah bunga-bunga rampai (lebai) hehe.. akhirnya saya hanya dua kali kirim tapi sudah dimuat.

Oang tua saya datang, dan saya tunjukin korannya kepada mereka. Hari itu, Minggu, 4 Desember 2011 adalah hari yang bersejarah buat saya. Saya di belikan kreta atau honda, biar nggak naik angkot lagi kemana-mana, dan cerpen saya dimuat di koran. Alhamdulillah Ya Allah..

So, buat kamu yang ingin jadi penulis, tapi nggak dimuat-muat. Tetap semangat kata Bondan Prakoso, dan tetntu harus berusaha serta berdoa.

Jeulingke, 11 September 2012

4 thoughts on “Ketika Cerpen Pertamaku Dimuat di Media

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s