Beranda » Cerpen » Kentut Tahajjud

Kentut Tahajjud

[Dituliskan kembali oleh Ramajani Sinaga berdasarkan cerita Nazar Shah Alam]

 (Perubahan seperlunya)

ALKISAH, pada zaman dahulu, hiduplah seorang raja yang tampan dan bijaksana. Sungguh, Yang mulia raja sangat baik perangainya. Yang mulia Raja mempunyai seorang putri yang cantik, bernama Yang mulia putri Seulanga. Waktu telah mematangkan Yang mulia putri Seulanga. Dia terus tumbuh beranjak dewasa. Tatkala terdengarlah kecantikan dan juga kebaikan hati Yang mulia putri Seulanga ke seluruh pelosok kampung.

Pemuda-pemuda kampung telah mengetahui kecantikan putri Seulanga. Syah Bana, salah seorang pemuda kampung pengangguran—telah mendengar berita akan kecantikan Yang mulia putri Seulanga. Maka tergeraklah hati Syah Bana untuk menemui Yang mulia raja, dengan tujuan meminang putri Seulanga, namun Syah Bana memang harus berpikir dua kali. Sebab, Syah Bana sadar bahwa dia pasti bukan lelaki idaman Yang mulia putri Seulanga.

Suatu hari, Syah Bana menceritakan keinginan dan cita-citanya itu kepada sahabat karibnya, Ali Husen namanya, juga lelaki pengangguran di kampung.

“Ingin sekali aku meminang Yang mulia putri raja, Husen.”

“Hah, apa katamu!? Jangan banyak bermimpi. Haha.. Berkacalah dirimu kawan.” Sanggah Husen diiringi tawa.

“Berkaca?? Aku tiap hari berkaca. Mau ke sini juga aku berkaca, mau mencuri ayam tetangga juga aku berkaca.”

“Maksudku, lihat dirimu, dan lihat siapa putri itu! Apakah kau pantas meminang seorang putri raja, sedangkan kau lelaki pengangguran, juga pemalas. Hanya satu keunggulanmu…”

“Apa itu keunggulanku itu?” tanya Syah Bana penasaran.

“Kau kuat makan! Haha.” Jawab Husen dengan suara tawa.

“Apa pun katamu, aku harus menjadikan Yang mulia putri Seulanga menjadi istriku! Harus!”

***

Negeri kekuasaan Yang mulia raja sangat dikaruniai oleh Tuhan Yang mahakuasa. Tanahnya amat subur. Namun, ada sesuatu hal yang meresahkan Yang mulia raja—rakyat selalu terlelap dalam kehangatan selimut saat tengah malam telah tiba. Acap rakyat tidak melaksanakan salat tahajjud karena sulit terbangun. Yang mulia raja telah berusaha menyelesaikan masalah ini. Bagaimanapun, semua karunia Tuhan wajiblah disyukuri supaya tidak menjadi bala bencana bagi semua rakyat Yang mulia raja.

Maka Yang mulia raja sibuk berpikir. Masalah tersebut telah menyatroni pikiran Yang mulia raja. Yang mulia raja akhirnya mengeluarkan keputusan—Barang siapa yang sanggup membangunkan rakyat Yang mulia raja dari tidurnya dalam waktu sedetik tanpa mengeluarkan suara dari mulut, untuk melaksanakan ibadah salat tahajjud, maka akan dinikahkan dengan Yang mulia putri Seulanga. Mendengar berita tersebut, bukan main girangnya hati Syah Bana. Bukan hanya Syah Bana yang gembira karena mempunyai kesempatan untuk mempersunting Yang mulia putri Seulanga, juga pemuda-pemuda kampung lainnya ikut gembira. Namun, berbagai cara telah dilakukan untuk membangunkan rakyat dalam waktu sedetik, namun tidak juga berhasil.

Sedetik?? Membangunkan rakyat tanpa suara dari mulut?! Dalam waktu hanya sedetik? Ah, hal itu seperti takhayul saja, pikir Syah Bana dalam hati. Namun Syah Bana tetap berusaha. Bagaimanapun, Syah Bana telah bercita-cita untuk mempersunting Yang mulia putri Seulanga.

“Ayolah, biasanya kau sangat cerdas berpikir.” Kata Syah Bana kepada sahabat karibnya, Husen.

“Bagaimana aku bisa berpikir, aku sangat lapar. Kalau aku lapar, aku sulit untuk berpikir.”

Maka Syah Bana membelikan banyak makanan ditemani kopi hangat untuk mereka berdua. Namun, makanan hampir habis, tiada juga solusi yang didapat. Syah Bana sudah kenyang dan pening kepalanya. Dia kesal kepada Husen yang tidak mau berpikir. Saking kesalnya, Syah Bana kentut dengan suara keras. Bahkan tempat duduk yang sedang ia duduku terhempas ke tanah. Husen, sahabat karib Syah Bana diam dengan mulut yang menganga. Husen masih belum percaya dengan peristiwa yang dialaminya. Semua orang terperanjat. Bagaimana mungkin suara kentut begitu keras, bahkan dapat mematahkan kursi yang sedang diduduki.

“Hahahaha… aku punya ide,” kata Husen kepada Syah Bana.”

“Apa?” tanya Syah Bana dengan memegang bokongnya karena terjatuh di tanah.

“Bagaimana kalau kita gunakan kentutmu?”

“Kentut??”

“Ya, kentut. Kentutmu yang akan membangunkan orang-orang untuk salat Tahajjud. Gimana?” nanti akan aku jelaskan kepadamu bagaimana caranya.”

“Baiklah. Aku setuju.”

Syah Bana dan Husen berhari-hari di gua, bukan bertapa untuk memperoleh ilmu kanuraga dari dewa. Namun, Syah Bana dan Husen di gua belajar menghasilkan dentuman kentut yang lebih besar agar dapat membangunkan banyak orang dalam waktus sedetik. Syah Bana tetap berusaha. Dia memang bercita-cita tinggi untuk mempersunting Yang mulia putri Seulanga, walapun dengan segala cara.

Syah Bana menghadap Yang mulia raja. Dia mengatakan kepada Yang mulia raja bahwa ia telah manyanggupi permintaan Yang mulia raja—Syah Bana akan dapat membangunkan orang tengah malam tanpa suara dari mulut dalam waktu sedetik.

***

Mulut Syah Bana terus mengunyah. Syah Bana memang harus makan banyak agar menghasilkan suara kentut yang lebih besar.

Tengah malam telah tiba. Maka Syah Bana bersiap-siap menggunakan kentutnya untuk membangunkan semua orang. Husen, sahabat karib Syah Bana yang cerdas, telah membuat sebuah benda berbentuk slang yang dihubungkan dengan drum besar. Syah Bana memulai aksinya. Dia kentut di mulut slang dan berakhir dengan suara dentuman diiringi getaran hebat dari sebuah drum besar. Semua orang di kampung terbangun dan terjaga dari tidurnya termasuk juga Yang mulia raja.

“Hamba telah melaksanakan titah, Yang mulia,” kata Syah Bana di hadapan Yang mulia raja.

“Baiklah, karena kau dapat melakukannya, kau boleh mempersunting putriku. Dan mulai sekarang jadilah raja untuk rakyat!”

Sejak saat itu Syah Bana mendapat kehormatan, ia menjadi Yang mulia raja Syah Bana.

Sedang hujan di rumah ompung…

 

Serdang Bedagai, 24 Agustus 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s