Beranda » Cerpen » Ayahku Berkaki Satu

Ayahku Berkaki Satu

Karya Ramajani Sinaga

[Buku antologi bersama Negeri Dalam Sepatu]

SAAT kau datang ke desaku, kau akan melihat seorang lelaki tua berkaki satu. Kau melihat kulitnya telah bergaris-garis termakan usia senja. Badannya kian membungkuk tua. Rambut putih. Pandangan matanya telah rabun. Mulutnya terkatup bisu. Dia semakin rumit dengan kaki yang jumlahnya satu. Pun dia tidak menginginkan semua itu.

Lelaki tua itu ayahku. Umurnya telah tua renta. Dia hanya terbaring diam di atas ranjang tua. Namun semangatnya selalu menganga. Dia menduda saat Malaikat Izrail menjemput ibuku. Sebuah peluru tertancap di tubuh ibuku. Lubang peluru menumpahkan air mata penderitaan.

Aku menangis dan mencengkram tanah, memaki orang-orang berdosa.  Mereka orang-orang bertopeng yang telah membunuh ibuku dengan senjata laras panjang. Meski mereka mengacuhkan tingkahku karena badanku sangat mungil.

“Diam kau anak kecil!” bentak lelaki berbadan tegap.

Aku berteriak dan melolong, pun tidak seorang pun yang berani menolong. Mereka malah meninggalkanku bersama tubuh ibu yang akan menemui kematian. Ayah yang pergi menggarap sawah tidak kunjung tampak. Aku miris. Aku menggenggam tangan ibuku. Ibuku diam tanpa suara. Dia tersenyum damai menghadap Ilahi.

Lalat-lalat hijau meyelubungi tubuh ibu, sebab tubuh ibuku berbalut darah. Bau amis darah tercium pekat dari tubuh emak. Aku berteriak-teriak.  Suasana sunyi senyap tanpa suara. Tidak seorang pun menjawab teriakanku. Semua orang menutup pintu rapat-rapat, seolah tidak terjadi sesuatu.

Aku terus berteriak sembari tertawa di hadapan jasad ibuku yang kaku. Aku seperti lutung gila karena telah dicuri makanannya. Matahari semakin garang.

Bibirku kering kehausan. Sesaat kemudian seorang lelaki sedang menatapku dari kejauhan. Ia berlari mendekati tubuh. Lelaki itu menangis. Ini pertama kalinya aku melihatnya menangis. Dia mendekapku hangat.

“Ibu sudah mati, Ayah.”

Wajahnya berkerut bersama air mata yang berlinang membasahi wajahnya. Dia diam tanpa suara. Lalu tubuhnya terjatuh ke tanah. Meredup. Sunyi tanpa suara.

***

Ayahku bisu sejak kepergian ibuku. Dia lelaki pendiam menyimpan dendam. Aku sulit meredam amarah yang terpendam dalam hati ayah. Ayah menjadi seorang lelaki tertutup. Ia selalu memilih berlama-lama saat menaburkan bunga di istana ibu.

“Kau pulang duluan,” ucap ayah kepadaku.

Aku mengangguk. Padahal rintik hujan sedang membasahi bumi. Pun hari telah petang. Dengan berat kedua kakiku meninggalkan ayah yang sedang berziarah di hadapan istana emak. Pelan aku berjalan meninggalkannya. Setiap lima langkah sekali aku menoleh kepada lelaki tua itu, berharap agar ia memanggilku untuk menemaninya.

 ***

Aku lama menunggu ayah kembali. Berdiri di depan pintu sembari menatap rintik air hujan. Timbul kekhwatiran, suasana sedang tidak aman. Beberapa kali terdengar suara senjata meletup-letup. Aku berharap ayah kembali dengan sempurna. Tidak pernah kuharapkan sebuah peluru menembus kulit dan dagingnya. Saat kemudian, aku melihat seorang lelaki berlari tergopoh bersama rintik hujan.

“Ayahmu…ayahmu.., Umar! Umar!”

Lelai itu berteriak. Tiba-tiba jantungku terguncang hebat. Rasa khawatirku semakin tinggi. Apakah mereka telah melakuukan hal serupa pada ayahku, persis seperti yang telah mereka lakukan pada ibku.

 ***

Ayahku berkaki satu. Sekelompok orang telah mengunyah dan memotong salah satu kaki ayahku ketika ia sedang berziarah di makam ibuku. Mereka tidak ingin melihat ayahku mati. Aku tidak akan membiarkan ayahku hidup dalam penderitaan. Bukan karena cacian orang lain. Dia ayahku. Biarpun kakinya tinggal satu.

Saat ini ayah benar-benar hancur. Tuhan telah membekukan tubuh ayahku. Dia lumpuh beserta penyakit stroke mendera tubuhnya. Ayah berhajat di atas ranjang. Setiap saat aku yang membersihkan kotorannya. Ayah tidak mampu mengatakan sesuatu, sebab Tuhan telah membuat lidah ayah kelu. Ayah semakin tua.

Dia ayahku, biarpun kakinya satu. Aku sumbangkan hidupku kepada ayah. Ayahku tetap terbaring di ranjang. Dia tertidur sangat pulas. Napasnya terdengar pendek-pendek, karena dia sudah tua dengan beribu penyakit yang sedang menghampiri tubuhnya.

Aku menatap wajahnya. Mereka yang telah membuat ayahku berkaki satu. Mereka yang telah membuat ayahku menderita. Aku mencium tangannya sebagai rasa hormat dan terima kasih penuh takjub. Namun ia tetap tertidur pulas.

Tanganku turun ke lehernya. Menekan lehernya semakin kuat. Ia terbangun dari mimpi. Matanya melotot tajam. Namun ia tak dapat melawan, karena ia lumpuh. Aku tersenyum kepadanya. Aku mencoba biasa di hadapannya.

Aku menenangkannya. Aku berbisik di telinganya agar dia tetap tenang. Namun ia tetap tidak tenang. Matanya melotot tajam ke arahku. Tanganku semakin kuat menekan lehernya. Matanya mengeliat sebentar, lalu diam. Dan ia terbaring lemah. Aku tak lagi mendengar suara napasnya.

Aku melepaskan tanganku dari lehernya. Aku mendekap tubuhnya yang kaku. Ia diam. Detak nadinya telah berhenti. Kurapikan tempat tidur ayah. Kututup wajahnya dengan selimut. Laskar Tuhan telah menjemputnya. Aku tidak tahan melihat ayah hidup dalam penderitaan. Ayah persis diantara kehidupan dan kematian. Penyakit telah mencabik-cabik tubuhnya. Jangankan untuk mengobati penyakitnya, untuk makan tiga kali dalam sehari sangatlah rumit.  Sebab itulah, aku membiarakan tanganku memanggil Izrail untuk mencabut nyawanya. Aku lebih berdosa membiarkan ia hidup penuh penderitaan.

Aku berdua bersama ayah. Ia terbaring di atas ranjangnya. Uangku tidak sanggup membeli kain kafan untuk membalutkan tubuhnya. Sehingga kubiarkan jasad ayah membusuk di atas ranjangnya. Tanah keluargaku telah dirampas secara paksa, karena aku bukanlah orang pribumi. Aku tidak punya hak untuk memakamkan ayahku di tanah orang lain. Aku membiarkan jasad ayah di atas ranjangnya. Berminggu-minggu. Berbulan-bulan.

Suasana gampong menjadi gesit, setiap saat suara genjatan senjata tak pernah usai. Pun Seulanga diperkosa paksa. Namun suasana lebih sulit dan rumit, sebab orang gampong mencium bau busuk yang beterbangan bersama angin. Bila angin berhembus kasar, maka akan tercium bau busuk yang menyengat. Tiba-tiba aku mendengar suara derap kaki sangat ramai menuju rumahku.

“Umar… Umar… Umar…”

Terdengar suara orang-orang gampong mengetuk pintu rumahku sangat kasar. Aku diam. Aku membiarkan mereka berteriak di depan rumahku yang sudah reot tua ini. Tiba-tiba mereka mendobrak pintu rumahku. Mereka masuk seenaknya, mengubrak-abrik isi rumah. Lalu mereka menemukan jasad ayah yang membusuk.

 “Dia anak gila!!”

“Dia membunuh ayahnya sendiri!”

“Dia gila?!”

“Ya. Dia sudah gila!”

Mereka saling bersahutan memaki dan mencaciku. Tiba-tiba mereka bergerak ke arah tubuhku. Mereka menarikku. Aku melolong. Aku diarak mengelilingi gampong. Aku pikir akan ada sekelompok orang yang menelanjangiku, dan memotong salah satu kakiku persis seperti yang telah terjadi pada ayahku. Namun tubuhku berhenti pada suatu tempat sunyi senyap. Aku dirantai. Dipasung di pinggiran gampong. Aku berharap Izrail menjemputku sekarang. Biar aku bertemu dengan ayahku yang berkaki satu, dan ibuku yang berlubang tertusuk peluru.

 

Agam: Laki-laki, Kaum Adam

Gampong: Kampung

Seulanga: Bunga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s