Beranda » Cerpen » Tubuh Terakhir

Tubuh Terakhir

Karya Ramajani Sinaga

[Sumber: Koran Batak Pos, edisi Sabtu 11 Agustus 2012]

SAAT ini tubuhku telah renta. Kulitku bergaris termakan usia senja. Aku hanya sebuah tunggul kayu tua, tidak ada yang dapat aku lakukan saat ini kecuali hanya terbaring di ranjangku. Pelbagai penyakit menghampiri tubuh tuaku. Allah telah memburamkan mataku, membisukan suaraku, melumpuhkan tubuhku, dan lidahku dibuat kelu. Hanya saja Allah membiarkan air mataku tidak kering terhisap waktu, Allah memberikan waktu padaku di dunia ini, sebab aku merasa hidupku ada pada posisi pintu gerbang kematian. Siapa saja dapat tertimpa kematian, karena kematian sesuatu yang sangat pasti, dan benar-benar hadir pada setiap orang, termasuk juga kau, kawan!

Allah memang tidak mengeringkan air mataku. Jika aku merasakan tubuhku sakit luar biasa, yang aku lakukan adalah meneteskan butiran-butiran air hangat dari kelopak mataku. Supaya orang-orang di sekelilingku tahu sakit yang kurasakan. Aku merasakan tubuhku seperti hantaman benda tajam, supaya mereka ingat pada Allah! Sesempurna apapun mereka, tetap saja suatu saat akan mengalami apa yang aku rasakan saat ini. Supaya mereka tidak sombong dengan rasa kesempurnaan yang telah mereka miliki; tubuh gagah mereka, tazir mereka, ilmu, ketampanan, dan kecantikan yang mereka punya hanya titipan Allah yang suatu saat akan diambil oleh-Nya. Hanya sementara!

Aku dahulu seperti kau. Tubuhku gagah dan tampan. Pun aku berani mengusir penjajah di Tanoh Rencong ini, namun kesempurnaan yang aku miliki perlahan-lahan Allah cabut satu persatu. Awalnya Allah melenturkan kulitku, mengugurkan gigi putihku, merubah warna rambutku hitam menjadi putih, lalu tubuhku di hantam beberapa penyakit yang mematikan. Aku divonis dokter menderita penyakit komplikasi.

Allah tetaplah Mahakuasa dan Maha penyayang, aku masih dapat mendengar dengan jelas. Sayup-sayup aku mendengar azan mendayu dari corong meunasah. Entah tangan mungil siapa tiba-tiba mengenggam tanganku yang keriput dan menempelkannya pada sebuah benda yang berdebu dengan lembut.

“Tayammum yo, Kek.” Suara itu berbisik di telingaku. Aku menurut, itu suara cucuku, namanya Ahmad. Dia akan memimpin salat di dekatku. Duhulu aku pernah mengajarkan cinta dari Allah kepadanya. Allah selalu memberi keringanan kepada hamba-Nya, jika tidak mampu salat berdiri, maka salat duduk, pun tidak mampu salat dalam posisi duduk, maka salat berbaring, jika tidak mampu salat terbaring maka salat dalam memberi isyarat pada anggota-anggota tubuh, Allah itu sayang kepada kita, Ahmad tetap mengingat nasihat-nasihat itu hingga sekarang.

Saat ini salatku hanya tetap terbaring di atas ranjangku. Bagaimanapun yang dapat aku lakukan saat ini hanya salat dalam keadaan terbaring lemah. Aku menangis. Hatiku miris. Kadang aku berpikir, sudah saatnya aku pergi kehadapan Ilahi bertemu istriku yang telah pergi tujuh tahun lalu bersama ombak tsunami Desember 2004.

Air bening hangat mengalir dari mataku. Ada seseorang yang telah menghapusnya dari wajahku. “Jangan menangis lagi, Kek. Kakek pasti sembuh.”

Sungguh, hanya Ahmad yang paling mengetahui kondisi dan perasaanku. Kurasakan tubuhku antara kehidupan dan kematian. Seperti seorang manusia yang kembali ke tempo hari. Hidupku kembali seperti dahulu, saat Ibuku menimang-nimangku dengan lagu-lagu syahdu, dan semudah itu aku buang air kecil dipangkuan Ibu. Ibuku tidak marah. Saat ini masa-masa itu telah kembali, bedanya Ibuku tidak ada lagi. Aku buang air kecil di ranjangku karena mulutku terkatup tak mampu mengatakannya. Sesaat kemudian aku mendengar keributan.

“Ayah tadi sudah buang air, ini buang air lagi.”

“Syarifah! Jangan begitu, Ayah sedang sakit. Tak pantas kita bicara dihadapan Ayah seperti itu!”

Allah Ya Rabbi, betapa sakitnya aku ketika  anak-anakku kacau karena aku. Andai saja Ibuku hidup saat ini, pasti Ibuku akan tersenyum melihat aku buang air karena bibirku tak mampu mengatakannya seperti umurku belia waktu dahulu. Namun kasih sayang Ibuku berbeda dengan anak-anakku, sangat benar-benar berbeda. Mereka tidak sudi melihat aku bertingkah seperti ini. Oh Tuhan, apakah aku salah dalam mendidik anak-anakku?

 “Aku mau rumah!!”

“Tidak!! Rumah untukku!”

“Ayah dulu sudah janji, akulah hak waris akan harta-harta ayah!”

“Tutup mulutmu! Aku paling berhak. Aku anak bungsu, bagianku lebih banyak!”

“Akulah yang selalu di dekat ayah. Yang menjaganya ketika sedang sakit. Tahu kalian? Aku yang ngurusi ayah dari dulu, mulai ayah sakit, aku yang menjaganya! Kalian? Apa kerja kalian? Hah, jadi aku harus dapat bagian banyak akan harta ayah!”

“Atas dasar apa kau berkata seperti itu. Bagianmu hanya sepetak sawah! Kau anak perempuan!”

Aku mendengar sayup-sayup anak-anakku bertengkar hebat. Mereka memperebutkan harta warisanku di depan tubuhku yang sedang sekarat. Jika Allah memberikanku kesempatan untuk dapat berbicara kembali, akan aku nasihati mereka dengan baik, pun akan aku didik mereka bagaimana caranya membagikan seluruh harta warisan. Tapi tidak! Rasanya aku sudah mengajarkan seluruh yang aku punya kepada mereka. Aku sudah mendidik mereka tata cara sopan santun di hadapan orang tua, atau tata cara menjenguk dan berbicara di depan orang yang sedang sakit. Aku merasakan sudah banyak nasihat dan ilmu yang telah kuberikan pada mereka. Tapi sekarang kenapa mereka bertindak demikian? Kenapa mereka bertengkar hebat memperebutkan harta di hadapan tubuhku yang remuk akan menghadapi kematian? Apakah mereka lupa salah satu nasihatku; bahwa harta hanya titipan Allah semata? Entah setan apa yang telah menggelabui anak-anakku sehingga mereka tega bersuara lantang bertengkar di depan tubuhku yang akan menemui ajal.

“Bila kau tidak memberiku sawah yang luas itu. Akan kuhajar kau!!”

“Kau yang akan kuhajar!!”

“Diam kalian semua!! Aku putra paling tua, jadi aku paling berhak membagi harta ayah!”

“Aku tidak setuju!!”

Angin hentakkan bumi ini. Berikan peringatan pada anak-anakku. Aku sudah tak mampu memperingatkan mereka, karena saat ini aku hanya tunggul kayu tua yang tidak mampu berbuat apa-apa. Mulutku telah membisu. Kulitku keriput. Mataku tertutup. Kaki dan tanganku telah dibekukan oleh Tuhan, sehingga tak mampu bergerak sama sekali. Aku lumpuh. Tidak mampu bergerak sama sekali. Sungguh!

Anak-anakku tetap bertengkar hebat di hadapan tubuhku yang sekarat. Semakin lama suara mereka semakin meninggi. Tiba-tiba suara anak-anakku menghilang, dan seseorang telah mengenggam tanganku dengan lembut. Tidak seperti biasanya, entah kenapa aku dapat membuka mataku pelan-pelan.

Aku melihat kegelapan, benar-benar gelap dan sunyi. Suara anakku yang bertengkar hilang. Aku melihat seorang bidadari cantik, seperti turun dari negeri kahyangan. Aku menatapnya lekat. Aku merindu padanya, sungguh! Setelah tujuh tahun berlalu perpisahan dengannya terjadi. Bidadariku tertelan gulungan ombak Desember 2004. Bidadari itu semakin mendekat ke tubuhku. Aku menangis dan mengutuk diriku sendiri.

“Kau tidak bersalah, Cutbang.”

“Ini salahku. Aku tidak sanggup menjaga anak-anakku, mereka hampir dibutakan harta, Laila.”

Laila bidadariku menangis dan berucap; “Cutbang telah berjuang mendidik anak-anak kita. Terima kasih, Cutbang. Aku bangga padamu!”

“Aku tidak berhasil!”

Laila bidadariku tersenyum manis. Laila diam, aku terus memandanginya. Kini aku merasakan tubuhku seperti kapas yang terhembus oleh angin. Sangat ringan. Hingga aku merasakan sakit yang selama ini aku rasakan telah lenyap. Pun aku sepertinya mempunyai sayap. Setelah itu, aku memejamkan mata dan tak merasakan apa-apa lagi. Aku harus siap menerima ganjaran pahala dan dosa!

Cutbang: Panggilan seorang istri kepada suami dalam adat Aceh.

Ramajani Sinaga, mahasiswa pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s