Beranda » Cerpen » Sanggar Pemujaan

Sanggar Pemujaan

Cerpen Iman Budhi Santoso dan Ramajani Sinaga

[Panduan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMA/MA ]

SEMENJAK perkenalannya dengan Kinasti, reporter sebuah majalah ibu kota, Ponco seperti memperoleh matahari baru. Matahari yang menghidupkan warna-warni benda. Matahari yang sinarnya mampu menerobos relung-relung gua. Tetapi, yang cahayanya itu pula, setelah terfokus melalu lensa, tega membakar apa saja. Tidak terkecuali Doktorandus Poncodriyo yang memujanya.

Hampir satu jam Ponco mondar-mandir di pendapa. Rumah sedang sepi. Ayahnya, Glondong Mondrogono rapat di kabupaten. Ibunya ke sawah. Neneknya menunggui panen kopi, adiknya, Sinto besuk Bu Carik yang telah seminggu ini mondok di rumah sakit. Sedangkan Parinah, pembantunya, sibuk di dapur menunggu jemuran gabah di klongkangan.

“Kalau tidak sekarang, kapan lagi,” tekad Ponco dalam hati. Lusa reportase Kinasti harus jadi. Sedah dead line katanya. “ Besok sore saya tunggu lho, Mas. Bisa, kan?” Pesan Kinasti tadi malam. “Kalau tidak, Mas Ponco ngapusi namanya.”

Si matahari mulai merajuk. Dan Ponco tidak bisa berbuat lain. Meremas tangan si gadis dan berbisik, “Asal hadiahnya cocok, Oke?” Kinasti tertawa renyah. Mencubit hidung pemuda itu, kemudian lari ke kamar hotelnya. “Pokoknya besok!” teriaknya. Dua buah jari ditempelkan ke bibir. Lalu melambai.

Setelah menutup pintu serambi, Ponco berjingkat-jingkat menyelinap ke dalam senthong tengah. Satu-satunya kamar yang belum pernah dimasukinya seumur hidup. Sebab, ada ketentuan tidak tertulis yang berlaku turun-temurun sejak simbah-simbah dulu. Menurut ayahnya, seisi rumah dilarang keras masuk ke sana, kecuali ayah sendiri. Atau anak laki-laki tertua, tapi nanti setelah ayah wafat dan si anak tersebut menggantikan kedudukan ayahnya sebagai kepala keluarga.

Tanpa diduga, mitos kesakralan itu cabar, pudar, gara-gara Kinasti. Dua hari yang lalu, sepulang mewancarai seorang paranormal di Pantai Selatan, Kinasti diajak mampir sampai di rumah. Glondong Mondroguno dengan istrinya kondangan. Nenek tilik bayi ke rumah Ratri, sepupunya di Mentasan. Sinto kuliah. Yang ada hanya Si Nah.

Sambil menunggu orang tua Ponco, mereka ngobrol ke sana kemari. Saat itulah Ponco menceritakan beberapa ciri khas Jawa seperti warisan kakek buyutnya ini. Termasuk misteri senthong tengahnya.

Mendengar kisah Ponco, Kinasti bukannya percaya, tetapi justru menertawakannya. “Jadi, Mas Ponco dua puluh sembilan tahun belum pernah ke situ?” tanya Kinasti keheranan.

“Tidak hanya aku. Ibu dan adikku juga. Kenapa? Aneh?, ya?” Jawab Ponco. Kinasti geleng-geleng kepala. “Sudah masuk akal. Di Jakarta, aku bebas ke kamar siapa saja. Kamar ayah ibu. Kamar adik, kakak. Kamar tamu. Juga kamar pembantu. Ada apa sih, sebetulnya senthong tengah itu?”

“Siapa tahu?” jawab Ponco.

“Mas Ponco nggak ingin tahu?” potong Kinasti.

“Kata ayah, tidak berhak, kalau nekad bisa kualat.” Ponco menjawab sekenanya. Setengah berkelakar. Tidak disadari jawaban tadi malah memancing perdebatan.

“Itu kalau keluarga Mas Ponco. Kalau bukan?”

“Orang lain maksudmu? Sama saja. Ya, kualat.”

“Tidak percaya,” bantah Kinasti mulai serius. “Buktinya?”

Merasa terpojok, Ponco berusaha mengelak dengan memberikan pertanyaan balik. “ Lha, kalau buktinya nggak kualat apa?”

Kinasti tertawa. Menutup majalah yang tengah dibacanya. Kemudian berdiri. Melenggang menuju senthong tengah. “Aku buktikan.” Jawabnya seperti main-main, tapi sungguhan. Ponco terperanjat. Serentak melompat, meraih tangan Kinasti dan memegangnya erat-erat. “Takut aku kualat, ya?” tanya Kinasti kenes menggoda. Sorot matanya dan senyumnya terasa membakar. “Tidak. Tetapi, pokoknya jangan.” Ponco mencegahnya sungguh-sungguh. Tetapi, nada suaranya segera merendah ketika pandangannya membentur medan cahaya yang dipancarkan Sang Matahari.

Tiba-tiba, entah bagaimana caranya, Kinasti dapat melepaskan diri. Secepat kilat ia menyibak korden tebal merah hati di depannya, dan menghilang ke dalam.

“Kinasti…, “ Ponco memburu. Namun, tangannya yang sudah menyentuh korden segera ditarik kembali. “Kinasti cepat keluar! Nanti ada orang!” perintahnya dengan gugup. Matanya nyalang mengawasi serambi serta pintu arah dapur.

“Kinasti… keluar! Jangan macam-macam di situ,” Ponco memperingatkan lagi yang dibalas dengan suara tertawa cekikian dari dalam.

Begitu Kinasti nongol, ia langsung digeret Ponco ke serambi. “Kamu ini benar-benar…,” kata Ponco kesal. Tetapi segera dipotong oleh si gadis. “Di dalam aku tidak apa-apa kok, Mas. Sungguh. Sumpah, deh. Cuma lihat-lihat. Tidak nyentuh apa-apa, kok.” Sambil menggelayur manja, ia bertanya. “Mas, Ponco nggak kepingin tahu, apa yang aku lihat?”

Nggak,” Ponco menjawab singkat sambil merebahkan diri ke kursi. Hatinya masih berdebar-debar mengalami kejadian tadi.

“Mas Ponco marah, ya?” Tanya Kinasti.

“Nggak.”

“Nggak percaya. Kok jawabnya singkat-singkat? Oke’ deh. Kinasti minta maaf. Kinasti telah lancang melanggar tata tertib keluarga Mas Ponco. Kinasti bandel. Tidak tahu adat. Orangnya jelek. Suka melawan. Suka menang sendiri…”

“Lho, lho, kok jadi kayak ramalan bintang? Sudah, sudah. Kamu ngomong apa sih?” Ucap Ponco ganti menghibur Si Matahari yang mendadak cemberut. Menyusutkan sinar peraknya ke hati lelaki Poncodriyo yang tengah merangkai kembang yang bermekaran di sana.

Keesokan harinya, di hotel, Kinasti menyodorkan notes adress-nya kepada Ponco. “Alamat rumah?” Ponco bertanya sambil menarik ballpoint dari suku baju. Kinasti tersenyum kecil. “Untuk apa?” berkata demikian ia merebut notes tadi dan menunjuk salah satu halamannya. “Mas Ponco bisa membaca ini?” tanyanya penuh harap.

Ponco mengerinyitkan dahi, melihat jari lentik Kinasti yang menunjuk serangkaian huruf Jawa cakar ayam. “Itu aku kutip dari sebuah buku  di sentong tengah kemarin. Tulisannya tidak jelas. Lagi pula aku tergesa-gesa mengutipnya. Bunyinya bagaimana, Mas? Bisa, tidak?”

Terpaksa Ponco memenuhi keinginan Kinasti. Dengan terputus-putus ia mengeja tulisan tadi. “Ini, te…luh. Lalu ini, te…nung. Ya, benar. Tenung. Lalu, ini… san… san… santet. Yang terakhir itu, tuju. He, sebentar. Kamu membukanya, ya? Kamu membacanya?” Ponco bertanya sambil menggenggam erat tangan Kinasti. Kekhawatiran membayang di wajahnya.

“Sumpah. Nyentuh pun tidak. Benar! Cuma lihat. Buku itu tergeletak di meja, dan sedikit terbuka. Kayaknya yang saya catat itu judulnya. Bukunya sih, sudah tua sekali. Kertasnya sudah kuning. Tulisannya semua kayak gitu, huruf Jawa. Tetapi, bukan cetakan. Sepertinya tulisan tangan, pakai tinta hitam. Benar, Mas. Untuk apa aku berbohong?”

“Buku-buku yang lain banyak?” tanya Ponco tidak sengaja. Pengakuan Kinasti jadi menarik perhatiannya.

“Nah, ya kan? Ya, kan? Mas Ponco jadi inggin tahun, kan?” Kinasti merasa menang. Ponco tersenyum kecut, merasa kalau  dirinya dikerjain.

Selanjutnya, Kinasti nyerocos menceritakan apa yang disaksikan di senthong tengah kemarin. Ada tiga buah tombak yang mata tombaknya terbungkus kain putih. Sebuah payung kebesaran yang warnanya sudah  kusam. Sebuah almari dari kaca yang berisi sejumlah keris. Sebuah meja kursi tua antik di mana ada setumpuk buku tua, satu di antanya setengah terbuka. Lalu sebuah dipan beralaskan tikar pandan tanpa bantal. Kamar terkesan bersih, tenang, dan menyejukkan sekali.

Sejurus kemudian Kinasti berkata. “Bagaimana kalau aku mewawancarai ayah Mas Ponco? Untuk reportase ini? Beliau pasti tahu banyak mengenai mistik Jawa.”

Ponco langsung menyanggah. “Gila. Jangan. Beliau pasti menolak. Lagi pula alasanmu? Kok tahu kalau beliau mengerti mistik?”

Mendengar alasan itu Kinasti diam. Tapi, dasar gadis cerdik, dan wartawan lagi, ia tidak kehabisan akal. “Kalau begitu, bagaimana kalau minta tolong Mas Ponco?”

“Mewawancarai ayahku? Tidak mau!” jawab Ponco cepat.

Kinasti melengak. Kemudian tertawa. Kali ini sedikit keras. “Bukan, bukan itu. Bagaimana kalau misalnya… Mas Ponco memfotokopikan buku itu? Berani? Mau? Mau kan, Mas… demi reportase Kinasti?”

Melihat Ponco diam, Kinasti makin berani. “Tidak apa-apa, kok. Buktinya aku. Masuk ke sana juga tidak kualat. Ya Mas, ya? Mau, kan? Cuma fotokopi, kok. Sumpah deh. Tidak Kinasti salah gunakan. Nanti kalau melanggar, siap kualat, deh.”

Perang dalam batin Ponco mulai berkecamuk. Antara memenuhi adat tradisi, atau meluluskan rengek Kinasti yang menggemaskan ini. Padahal, Ponco selama ini selalu berusaha menjaga tradisi adat nenek moyangnya. Ah, nyatanya Kinasti tidak apa-apa setelah masuk ke senthong. Kalau Kinasti baik-baik saja, tentunya demikian juga denganku, pikir Panco dalam hati sambil mengernyitkan dahinya. Namun Panco sedang diselimuti kebimbangan. Sementara Kinasti semakin menjadi-jadi. Kinasti terus merengek-rengek dengan manja agar Panco memenuhi keinginannnya itu.

“Baiklah, nanti sore aku antar kopiannya ke rumahmu.”

“Betul ya, Mas? Jangan Ngapusi.”

“Iya..”

“Janji? Pokonya aku tunggu Mas Ponco di rumah, itu penting buat reportase Kinasti, ya?” rengek Kinasti manja.

Dan Doktorandus Poncodriyo masih diselimuti kebimbangan yang amat dalam. Entahlah. Dia merasa sedang berada di dua sisi yang berbeda. Ponco ingin membantu matahari yang selalu dipujanya saat ini. Bagaimana pun, Sang Matahari pujaannya sangat memerlukan kopian buku kuno yang tersimpan di senthong rumahnya.

Setelah Kinasti beranjak meninggalkan rumah Ponco, maka Ponco mulai memperhatikan seisi rumah. Ponco mulai berjalan dengan mengendap-endap menuju senthong tengah, untuk mendapatkan buku kuno yang tersimpan di dalamnya. Ponco takut Si Nah melihatnya masuk ke ruangan terlarang itu. Atau Sinto yang telah pulang kuliah akan melihatnya. Ah, untuk apa khawatir, pasti ayah masih di tempat undangan. Dan nenek tilik bayi masih di rumah Ratri, sepupunya di Mentasan. Barangkali Sinto masih belum pulang kuliah, biasanya Sinto juga pulang sedikit kesorean. Hanya Si Nah. Ah, tentu saja Si Nah sangat sibuk dan tidak akan melihatnya masuk ke senthong. Lalu bagaimana kalau aku kualat? Panco masih berpikir keras. Ia masih bimbang melangkahkan kakinya menuju  senthong.

Belum sempat Panco melangkah ke dalam senthong, tiba-tiba handphone di saku celananya berdering, membuat Panco sedikit terperanjat. Syahdan, tubuh Panco bergetar hebat. Semakin bergetar hebat. Tubuhnya mengigil kedinginan. Baru saja Panco mendapat kabar—Sang Matahari, wanita pujaannya telah mengalami kecelakaan berat di jalan raya menuju rumahnya. Apakah Sang Matahari, Kinasti, wanita pujaan Panco kualat karena melanggar pantangan yang dipegang erat oleh nenek-moyang Panco selama ini?

 

(Footnotes)

Glondong: seorang kepala desa (kades) yang mengetuai beberapa kades dari desa yang lain.

Klongkangan: halaman antara pendapa dengan rumah besar.

Ngapusi: berbohong.

Senthong: kamar tidur khusus rumah Jawa

Simbah-simbah: nenek moyang

Cabar: pudar

Tilik bayi: menjenguk bayi yang baru lahir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s