Beranda » Artikel » Korea Memperkenalkan Budaya dan Sejarah Melalui Drama

Korea Memperkenalkan Budaya dan Sejarah Melalui Drama

Oleh: Ramajani Sinaga

Tidak salah jika kita menyebutkan drama Korea Selatan adalah penguasa drama di Asia, terlebih lagi drama Korea saat ini telah banyak menghiasi insan pertelevisian di Asia, termasuk negara Indonesia. Korea telah berhasil memperkenalkan sejarah dan budaya Korea melalui drama. Sejarah yang didramakan disebut drama saeguk (Drama klasik Korea). Salah satu drama saeguk Korea yang mendunia adalahJewel in the place (Dae Janggeum).

Mendunianya beberapa drama Korea saeguk seharusnya menjadi bahan pelajaran bagi para sutradara di Indonesia. Hal penting yang harus diketahui, bahwa bangsa Korea (para sutradara) tidak pernah malu memperkenalkan budaya dan sejarah bangsanya kepada dunia, seharusnya Indonesia juga belajar dari hal demikian? Salah satu bukti, yaitu keberhasilan drama The Great of Queen Seondeok pada tahun 2009 yang produksi oleh salah satu televisi milik Republik Korea Selatan, kisah pada drama The Great of Queen Seondeok tidak lain berasal dari sejarah Korea yang diangkat menjadi drama.

Peperangan antara Deokman (Ratu Shilla) dengan selir Mishil memang benar adanya dalam sejarah Korea. Dalam sejarah, Ratu Shilla (Deokman) adalah ratu yang pertama di Korea. Ternyata drama klasik Korea tidak berhenti sampai dengan kesuksesan Jewel in the Place (Dae Janggeum) dan The Great of Queen Seondeok, setelah kesuksesan dua drama tersebut, pada tahun 2010 drama klasik Korea ‘Dong Yi’ (Jewel in the Crown) kembali meledak di pasar Asia.

Ternyata drama klasik sangat berpengaruh kepada jumlah wisatawan yang berkunjung ke negara Korea Selatan, terbukti jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Korea dari tahun ke tahun terus bertambah. Beberapa wisatawan mancanegara sengaja mengunjungi tempat-tempat klasik di Korea Selatan karena telah menyaksikan drama-drama klasik Korea.

Pada Tahun 2012, drama klasik Korea ‘The moon emberaces the sun’ kembali meledak di pasar Asia, bahkan hampir mendunia. Meskipun cerita yang didramakan kali ini diangkat dari sebuah novel fiksi terkenal di Korea, namun tetap saja drama klasik ini berhasil memperkenalkan budaya-budaya Korea.

Terlepas dari negara Korea yang terkenal akan drama-drama klasiknya, Indonesia juga pernah menghasilkan film sejarah yang juga terkenal, yaitu film Tjoet Nja’ Dhien. Perjuangan wanita Aceh Tjoet Nja’ Dhien dihasilkan menjadi sebuah film yang apik. Film yang dibintangi oleh Chiristine Hakim juga mengalami kesuksesan. Namun film dan sinetron yang demikian harus diakui sangat minim di Indonesia.

Beberapa warga Indonesia yang menggemari drama klasik Korea bahkan rela membeli pakaian tradisional Korea dengan harga yang cukup tinggi. Mereka berhasil dirasuki oleh budaya-budaya Korea melalu drama klasik Korea, belum tentu mereka (para penggemar drama klasik Korea) berkenan membeli batik khas Indonesia. Bisa jadi mereka lebih memilih pakaian tradisional Korea daripada pakaian tradisional di Indonesia. Para penerus bangsa yang mulai terpengaruh budaya dan sejarah luar melalui drama, apakah hal demikian belum juga merubah pola pikir para sutradara di Indonesia? Apakah para sutradara tetap menyuguhkan sinetron-sinetron modren? Apakah di Indonesia kurang akan budaya dan sejarah sehingga para sutradara merasa enggan mendramakan (mensinetronkan) budaya dan sejarah-sejarah di Indonesia? Semoga dengan kesuksesan drama-drama klasik Korea Selatan juga menjadi bahan pertimbangan para sutradara di Indonesia.

2 thoughts on “Korea Memperkenalkan Budaya dan Sejarah Melalui Drama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s