Beranda » Cerpen » Setia

Setia

Karya Ramajani Sinaga

[Telah dibukukan dalam buku antologi Siapakah Aku Ini Tuhan (Who Am I Lord) dalam perlombaan  Siapakah Aku Ini Tuhan dengan 100 lebih peserta seluruh Indonesia]

Bus terseok–seok meninggalkan kota Medan. Tatkala langit siang cerah berubah menjadi gelap. Matahari pun akan hilang pertanda datangnya malam. Langit gelap menemani perjalananku. Tak kusadari kamu duduk di sampingku dalam bus. Kamu telah menghentikan detak jantungku dengan aroma parfummu yang mendebarkan. Kita berkenalan dalam gembira. Namamu adalah Maria.

Kita bercerita semua hal, tentang universitas kebanggaanmu, tentang cinta, dan agama. Kamu pernah disakiti oleh lelaki berdarah biru, kau bercerita kisahmu padaku. Kau tampak anggun. Mataku memicing ketika melihat sebuah permata berbentuk salib menghias di lehermu. Kini aku tahu perbedaan kita, aku adalah umat Muhammad, sedangkan kamu adalah  hamba Yesus, katamu. Kita bercerita lama tentang Tuhanmu. Saat kukatakan air mataku berkaca bila melihat Tuhanmu. Aku tertegun hingga air mengalir dari kornea mataku bila melihat film The Passion of the Christ, saat darah segar mengalir dari tangannya yang kamu bilang untuk menebus dosa seluruh manusia.
“Agama Ompungku dulu sama sepertimu,” aku bercerita kisahku padamu.
“Kenapa sekarang jadi Islam?” kamu bertanya penuh selidik.
“Ompung jadi mualaf sejak menikah,” jawabku kepadamu.
***
Maria, kalau Tuhan telah menebus dosa-dosa, bukankah kamu terbebas melakukan dosa dan kesalahan, Maria? Tatkala kamu menjawab semua pertanyaanku dengan tenang.  Kulitmu halus dan pandanganmu telah menembus ke lubuk hatiku. Diam–diam aku melirik lembut ke arahmu, tepat saat itu kamu melirik ke arahku. Beberapa detik mata kita beradu, jantungku terguncang kuat. Mata indahmu menyihir hatiku. Seketika hatiku luluh lantah. Hingga kusadar Tuhan kita berbeda, Maria. Kecintaanmu pada Tuhanmu telah mengalir dalam jiwamu. Begitu juga denganku Maria.
Bus berhenti perpisahanku denganmu pun terjadi, alunan suara kendaraan meraung–raung di sudut kota. Kesempatan ini tak kulewatkan, Maria. Aku mencatat nomor ponselmu. Kamu pamit padaku dan meninggalkanku dalam keheningan. Aku masih terpatung memandangimu hingga semakin lama kamu menghilang di kornea mataku, Maria. Kamu meninggalkanku. Sedangkan aku memandangimu dengan mulut yang menganga.
Sejak pertemuan itu aku dan kau selalu berkomunikasi, karena kita tinggal di kota yang sama (Kota Pematang Siantar). Kita sering bersama tanpa merasa berbeda.
“Adakah dalam kitab agamamu mengajarkan kekerasan?” kau bertanya penuh selidik.
“Tidak, Islam mengajarkan perdamaian abadi, sama seperti agamamu juga, Maria. Namun ada sekelompok orang mengatas namakan ajaran Tuhan untuk berbuat kekerasan. Menurutku mereka telah berbuat kesalahan.”
“Apa itu Jihad?”
“Jihad adalah berjuang di jalan Tuhan. Namun jihad tidak harus berperang. Seorang ayah kelelahan mencari nafkah buat anak dan istrinya di jalan Tuhan, juga bagian dari jihad. Orang yang bersungguh-sungguh menimba ilmu di jalan Tuhan, juga bagian dari jihad, Maria.”
Kamu mengangguk seraya tersenyum manis, Maria.
***
Kita duduk di bawah pohon cemara nan rindang sambil bercerita panjang.
“Kau tahu surga, Maria?” tanyaku padamu.
“Surga adalah tempat manusia-manusia pilihan Tuhan. Tempat paling indah yang diciptakan-Nya untuk manusia-manusia terbaik.”
Aku tersenyum. Lama kita bercengkrama siang itu. Akhirnya pembicaraan kita berhenti, saat seorang gadis SMP lari tergopoh menuju arah kita.
“Kak Maria, pulanglah!! Ayah sedang mencarimu, ayah marah,” kata gadis itu.
Tiba-tiba tampak wajahmu muram. Kau pun mulai gelisah.
“Siapa dia?” tanyaku padamu.
“Dia adikku,” jawabmu pelan.
“Dimana ayah sekarang?”
“Entahlah kak, yang jelas ayah keluar rumah dan marah karena ayah sudah tahu semua.”
“Tahu apa?” tanyamu kembali.
“Ayah tahu kalau kalian sedang dekat. Ayah melarang kalian berpacaran!”
***
Ayahku seorang ulama termahsyur namanya di kota kita. Pun ayahmu seorang pendeta kuat harum namanya di tanah Batak. Keluargaku dengan keras melarang mendekatimu, Maria. Mereka takut aku berpindah iman kepada Kristusmu. Begitu juga denganmu Maria, keluargamu takut kamu akan menanggalkan kalung salib permata kesayanganmu karena iman.
Aku pernah berpikir kenapa harus putri pendeta yang aku kagumi, Maria. Aku tak bisa menjawabnya. Hanya Tuhan yang tahu itu.
Ketika kita bersama, lalu azan berkumandang dari seluruh penjuru. Suara bersumber dari corong-corong surau.
“Kau harus salat!” kau ingatkan aku.
Lalu kita beranjak bersama-sama ke mesjid. Dengan setia kamu menungguku di luar mesjid, padahal butir-butir air hujan sedang jatuh dari langit.
“Diluar sedang hujan, ayo kita berlindung ke dalam mesjid saja.”
“Tidak, aku disini saja.” Kamu menolak.
Ketika kamu marayakan kebaktian. Dengan setia aku juga menunggumu diluar gerejamu, Maria. Cinta kita tulus tanpa perasaan berbeda.
***
“Jika kau tidak meninggalkan putri pendeta itu, dan tidak menjauh darinya. Lebih baik kau angkat kaki dari rumah ini!!” bentak orang tuaku. Kau tahu, Maria? Sejak detik itu juga aku rela melangkan kaki dari rumah tempat impian dan kelahiranku itu, Maria. Dan sejak saat itu, aku tidak dianggap lagi sebagai putra dari orang tuaku.
Lalu aku pergi di sebuah taman dan duduk di bawah pohon cemara nan rindang, tempat kita biasa bertemu. Dan kau pun datang sambil menangis haru.
“Aku juga dimarahi oleh ayah dan ibuku,” kau mengadu padaku. Aku diam namun hatiku bergejolak kuat.
***
Natal akan tiba bagi orang yang merindukannya, saat gadis–gadis menghias pohon natal, kamu pun sibuk merangkai bunga–bunga dalam gereja. Bagian altar kamu penuhi bunga nan wangi. Kamu selalu sibuk bila natal menjelang, hingga kamu lupa padaku. Setiap natal, aku selalu menemanimu dan menunggumu di luar gereja HKBP Imanuel ini, gereja tempatmu melaksanakan ibadah. Tak terhitung lagi berapa natal sudah kita lalui bersama. Begitu pun bila lebaran tiba, kamu menanak ketupat lebaran untukku, sembari kau ucapkan selamat hari raya lebaran untukku dengan haru.
“Kapan kita menikah Maria?” aku bertanya padamu tentang pernikahan kita.
“Masih ada hari akan datang, jika Tuhan mengizinkan, pernikahan akan terjadi,”  kamu menjawab dengan santai tanpa dosa.
Aku tetap menunggu kesetiaanmu pada cinta kita, aku berharap suatu saat kita dapat duduk di pelaminan, hingga kita mempunyai keturunan yang taat akan agama. Tapi kini semua harapan telah sirna, Maria. Rambutku dan rambutmu telah memutih. Kulit kita telah berlipat–lipat termakan usia senja. Aku dipanggil perjaka tua dan kamu dipanggil perawan tua. Kamu tak pantas lagi menghias pohon–pohon natal itu, Maria, itu hanya pekerjaan gadis–gadis muda.
***
Suara lonceng berdeting kuat, seketika burung–burung kecil terbang ketakutan, mereka hinggap di dahan pohon cemara depan gereja, langit gelap mulai datang. Hingga rintik hujan mulai membasahi bumi-Nya. Kini tinggal kita berdua, kamu berdoa dalam kursi gereja. Sedangkan aku duduk dalam kursi roda tua di depan gerejamu. Aku memperhatikanmu dari luar, Maria. Aku berharap kamu berlari kepadaku mengatakan cinta dan pernikahan. Namun kita dibatasi oleh dua benua raksasa.
Aku diam. Pandanganku samar karena mataku telah rabun hari tua. Siapakah aku Tuhan? Siapa pula Maria? Dan, siapa pula Engkau, Tuhan? Dimana Engkau berada? Sebetulnya Engkau ada berapa? Satukah? Dua, tiga (Trinitas), empat, atau Engkau ada delapan, Tuhan? Atau lebih dari itu hingga Engkau ciptakan banyak agama yang bertabur di bumi ini. Beribu pertanyaan menghampiri otakku, Maria. Aku dan kamu sangat yakin akan cinta sejati tanpa birahi.
***
Darah segar mengalir dari lubang hidungku. Tubuhku sakit seakan di hunus pedang. Ketika Dia memanggilku sekarang, jangan pernah bawa aku kedalam gerejamu, karena kamu juga tak pernah hinggap di dalam mesjidku. Tiba-tiba seorang yang tak kukenal mengajakku pergi. Tangannya dingin ketika dia menggenggam tanganku.
“Tinggalkan Maria sekarang!!” bentaknya.
“Aku tak mau!!”
“Kenapa?”
“Aku sangat mencintainya lebih dari segala-galanya.”
“Omong kosong!”
“Pergilah kau!! Kau tak perlu ikut campur urusanku!” bentakku padanya.
“Kau bodoh!! Bidadari dari surga jauh lebih anggun, dan lebih suci dari Maria! Matamu telah kosong oleh kehidupan dunia!!”
“Pergilah! Aku tetap mencintai Maria. Cinta kami suci dan setia!!” bentakku pada orang itu.
Tiba-tiba dia menarikku keras. Tubuhku mengigil ketakutan. Hingga ia mengajakku terbang tinggi, jauh sekali.
Aku melihat sosok tubuh lelaki yang telah tua renta, rambutnya memutih. Ia diam tak bergerak. Tiba–tiba seorang nenek berlari menghampiri tubuh lelaki tua itu. Nenek itu menangis sekuatnya di depan gereja. Hingga kusadar, nenek tua itu adalah kamu, Maria. Kamu sedang menangisi jasadku pada kursi roda tua itu.
Ompung: kakek/nenek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s