Dulu atau Dahulu?

“Saya pulang dulu, ya, Bu.” ujar saya sore itu selepas pelatihan pembuatan soal online.

Kepala sekolah saya menjawab, “Bukan pulang dulu, Pak. Tapi, pulang sekarang. Kan Bapak pulangnya sekarang, bukan dulu.”

Sepanjang perjalanan pulang, saya jadi memikirkan, apa kalimat saya salah? Atau interpretasi kalimat itu yang keliru?

Kalimat “Saya pulang dulu, ya, Bu.” sebenarnya bentuk singkat dari kalimat “Saya pulang lebih dahulu, ya, Bu.”

Sebab menurut saya, kata ‘dulu’ itu bentuk afiksasi dari kata ‘dahulu’. Sesampai di rumah saya buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tetapi tidak saya temukan. Baca lebih lanjut

Gong Xi Fa Chai, Ama !

Oleh: Liven R.

IMLEK tinggal dua minggu lagi. Ama (nenek) Hua mulai sibuk membersihkan rumah tuanya. Rumah besar yang telah berumur hampir seabad itu memang sudah terlihat kuno -lebih tepatnya kumuh- dibandingkan dengan rumah tetangganya yang telah dibangun dengan gaya bangunan kontemporer dan modern.

Bangunan berlantai satu dengan luas 8×32 meter, sebuah tempat tinggal yang ramai tempo dulunya. Kini hanya menyisakan ama Hua yang berumur hampir 75 tahun, sendirian tanpa ditemani seorang pun anaknya, cucu maupun cicit dari total tujuh anak, 15 orang cucu serta empat orang cicitnya.

“Hua, hati-hati,” seru bibi Lin, nyonya tua yang tinggal di sebelah kanan rumah ama Hua, melihat ama Hua memanjat kursi dan memegang kemoceng di tangan kanannya untuk membersihkan lubang angin berderet di bagian atas jendela. Sesuai tradisi, menjelang Imlek semua warga Tionghoa wajib membersihkan seluruh bagian rumahnya sebagai arti mengusir semua hal buruk dan mengundang semua hal baik ke dalam rumahnya pada Hari Raya Imlek.

“Ya….” Ama Hua menjawab tanpa berpaling. Sesaat, dengan kaki gemetaran, ama Hua berpegangan pada dinding dan perlahan menegakkan tubuhnya.

“Anak-anak mana, Hua? Kenapa tak suruh mereka saja?” imbuh bibi Lin.

“Mereka sibuk kerja, apalagi jelang Imlek ini, toko kelontong Aliong sangat ramai, mau ditinggal ke kamar kecil saja susah,” ujar ama Hua sambil menyapukan bulu-bulu kemoceng dan menjatuhkan sarang laba-laba ke tanah. “Abeng apalagi…, sudah sebulan ini pembantu terpercayanya tak masuk karena sakit, dia dan istrinya sangat sibuk. Ah, mana boleh merepotkan mereka…”

“Hua, kenapa sih, kamu tak mau tinggal saja dengan anak-anak dan menantumu? Rumah ini dijual saja…” Ama Hua terdiam. Sudah banyak yang memberi saran serupa untuknya, namun ada rasa enggan meninggalkan rumah tuanya yang penuh kenangan ini. Dulu ketika suaminya masih hidup, berdua mereka tinggal di rumah besar ini setelah semua anak mereka -lima putra dan dua putri- satu-persatu menikah, membuka usaha, sukses, dan membeli rumah masing-masing.

Dengan putra atau putri yang mana satukah ama Hua harus memilih untuk tinggal jika harus meninggalkan rumah ini?

Putra sulungnya, Ahok dan istrinya membuka toko onderdil motor di ruko mereka yang terletak bilangan jantung Kota Medan. Setiap hari mereka sangat sibuk. Jika tinggal dengan mereka di rumahnya yang memiliki perabotan serba luks itu. Ama Hua merasa bagaikan makhluk dari planet lain. Ya, bagaimana tidak? Jika hendak minum air hangat saja, menantunya akan segera berkata, “Ma, sini saya ambilkan. Termos itu bukan ditekan, tapi harus begini dulu baru begitu, kalau dipaksa bisa rusak.”

Putri keduanya, Meili, menikah dan ikut suaminya tinggal di Surabaya. Putri ketiganya, Sanli, menikah dan tinggal bersama mertuanya. Baca lebih lanjut